Movie Review: To Be or Not To Be (1942)

To Be Or Not To Be2Poster

Berlatar di Warsawa di saat Jerman menginvasi Polandia pada Perang Dunia II. Film ini menceritakan tentang sepasang suami istri (Joseph Tura & Maria Tura) dan sekelompok aktor yang tergabung dalam sebuah kelompok teater membantu seorang serdadu Polandia dalam menjalankan misinya. Dalam misi tersebut mereka harus menyamar dan menggunakan keahlian berakting mereka agar dapat mengelabui musuh.

To Be or Not To Be merupakan Film Komedi Klasik pertama yang saya tonton, tentu saja memberikan kesan yang sangat berbeda dengan beberapa film dari era yang sama yang telah saya tonton. Meskipun lebih dari setengah abad waktu berlalu, Komedi satire yang disajikan oleh Lubitsch tak dimakan oleh zaman dan masih dapat diterima oleh penonton dengan baik.

Sebenarnya film ini dibuat pada tahun 1941 ketika Amerika belum ikut dalam Perang Dunia II dan masih memilih untuk netral, Namun film ini baru dirilis pada Maret 1942 ketika Amerika sudah benar-benar ikut berperang setelah Jepang menyerang Pearl Harbour. Tentu saja ketika itu tidak semua orang dapat menerima dengan baik lelucon tentang Nazi. Bahkan ayah dari Jack Benny (Pemeran Joseph Tura) langsung keluar dari teater ketika pada adegan pertama melihat anaknya memakai seragam Nazi. Jack harus meyakinkan ayahnya bahwa semua itu hanyalah satire dan akhirnya ayahnya menonton film tersebut. Film ini pun menjadi kontroversi pada zamannya.

Film ini merupakan film terakhir Carole Lombard. 16 Januari 1942, Dua bulan sebelum film ini dirilis, Carole Lombard mengalami kecelakaan pesawat terbang setelah pulang dari tur dalam rangka mengampanyekan war bonds. Untuk menghormati Lombard, adegan ketika Ia mengatakan “What can happen in a plane?” dihapus dari film. Kematian Carole Lombard ketika itu menjadi pemberitaan besar di Amerika. Selain karena kematiaannya yang mendadak ia juga merupakan istri dari seorang aktor ternama, Clark Gable. Presiden Roosevelt pun secara pribadi menyampaikan rasa bela sungkawanya atas kematian Lombard.

Jika diperhatikan lebih seksama, To Be or Not To Be (sepertinya) cukup mempengaruhi Quentin Tarantino di filmnya Inglourious Basterds (2009). Terdapat beberapa kesamaan yang bisa ditemukan pada dua film ini, hanya saja Tarantino membuat filmnya lebih “Kurang Ajar”.

Kemampuan Lubitsch mengubah sebuah tragedi menjadi komedi mungkin saja menjadi kontroversi pada masa itu, namun untuk seseorang yang tidak pernah merasakan mencekamnya situasi ketika Perang Dunia II, film ini akan sangat menghibur.

My Score: 3,5/5

Share This:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.