Catatan Perjalanan : Pendakian Pangrango-Gede, April 2013 (Bagian 1)

Sore itu kami berkumpul di sekitar Pendopo Masjid Al-Jihad di Kampus Unpad Dipatiukur. Sepuluh orang bersiap untuk melakukan pendakian ke dua puncak gunung sekaligus, Gunung Pangrango dan Gunung Gede. Dari rombongan, beberapa diantaranya Eman, Mia dan Tiara yang sudah saya kenal karena mereka sejurusan dengan saya, Akuntansi Unpad. Sisanya Gilang, Andre, Syahid, Citra, Iwa, dan Zahra baru saya kenal ketika itu. Sebenarnya semua personil kecuali Zahra, sama-sama sefakultas dengan saya, ada yang kakak angkatan dan ada yang beda jurusan. Mungkin karena satu dan lain hal, baru pada kesempatan kali ini kami dipertemukan. Karena banyak orang baru, jadi saya memilih untuk lebih banyak diam dan mengobservasi. Bukan berniat jaga image, tapi biar mereka menyesal belakangan berteman sama saya. Haha.

Pendakian ke Gunung Pangrango dan Gede merupakan pengalaman pertama saya melakukan pendakian “serius”. Sebelumnya saya sudah menaiki beberapa gunung seperti Tangkubanparahu, Patuha, dan Bromo, tapi itu buat saya belum termasuk ke kriteria “serius”, karena semuanya ada di kawasan wisata dan waktu tempuhnya tidak memakan banyak waktu. Pengalaman paling “serius” sebelumnya adalah ketika mendaki Tangkubanparahu via Parongpong. Lewat pendakian itu juga akhirnya saya benar-benar mencapai Puncak Tangkuban Parahu yang letaknya ada di seberang Kawah Ratu, dekat Kawah Upas.

Awalnya saya diajak mendaki oleh Eman. Kebetulan memang sedari dulu saya sangat ingin mendaki gunung, tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan ajakannya. Sebagai pemula yang baru pertama kali naik gunung tentunya banyak yang harus dipersiapkan, bahkan ketika itu barang-barang yang harus dibawa seperti matras, sepatu dan tas gunung pun saya tidak punya. Alhasil saya berangkat dengan bawaan seadanya.

Sesaat sebelum berangkat

Setelah semua selesai dengan persiapannya masing-masing, kami bergegas berangkat ke Terminal Leuwipanjang menggunakan Bis Damri untuk selanjutnya ke Cianjur menggunakan Bis. Di perjalanan kami berkenalan dengan Alif yang ternyata satu tujuan dengan kami, ke Cibodas. Sesampainya di Cianjur kami bersebelas (ditambah Alif) melanjutkan perjalanan ke Cibodas dengan mencarter angkot. Sampai di Cibodas, hari sudah gelap, kami pun mencari tempat untuk bermalam. Beruntung, ternyata Alif adalah salah satu anggota Green Ranger, diajaklah kami untuk menginap di Sekre Green Ranger.

Paginya kami bersiap untuk memulai pendakian, sarapan yang cukup dan tentunya mengurus SIMAKSI terlebih dahulu (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) dibantu oleh teman-teman dari Green Ranger. Saya sendiri memanfaatkan waktu itu untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan untuk mendaki, kebetulan disana terdapat toko yang menjual perlengkapan mendaki. Banyak warung di kawasan Cibodas, mulai dari yang berjualan makanan, perlengkapan pendakian, oleh-oleh, bahkan hingga tanaman hias. Jika kalian berangkat melewati Jalur Cibodas dan kalian lupa membawa perlengkapan atau kekurangan logistik, di sinilah kesempatan terakhir kalian. Selain itu jika tiba di Cibodas terlalu larut kalian tidak perlu khawatir, beberapa warung menyediakan tempat untuk menginap dengan harga sangat terjangkau dan tempat seadanya.

Sarapan dulu sebelum nanjak
Sarapan dulu sebelum nanjak

Selesai mengurus SIMAKSI, kami berpamitan pada teman-teman Green Ranger dan langsung memulai pendakian. Sebelum memasuki jalur pendakian, bawaan pendaki diperiksa terlebih dahulu dan dilaporkan di pos 1. Tujuannya adalah untuk memeriksa apa ada barang terlarang dan agar pendaki bertanggung jawab dengan bawaannya dan membawa sampahnya kembali saat ia turun. Awal pendakian dimulai dengan menyusuri jalan setapak berbatu, melintasi kawasan hutan tropis yang lebat. Jika memiliki waktu yang cukup kita bisa istirahat sejenak sambil menikmati pemandangan Telaga Biru. Karena mengejar waktu, kami tidak menyempatkan untuk ke Telaga Biru.

Foto bersama teman-teman Green Ranger
Foto bersama teman-teman Green Ranger

Setelah melewati tangga berbatu kami melewati Rawa Gayonggong. Jalur ini merupakan jalur jembatan kayu sepanjang kurang lebih satu kilometer melalui rawa. Setelah melalui Rawa Gayonggong, jalur kembali menjadi jalanan berbatu dan pos selanjutnya adalah Pos Panyancangan Kuda. Pada pos Panyancangan Kuda terdapat persimpangan, jika memlih jalur kanan kita akan menuju Air Terjun Cibereum sedangkan jalur kiri adalah jalur melanjutkan pendakian. Rombongan langsung ambil jalan kiri untuk melanjutkan pendakian.

Selanjutnya terdapat beberapa pos lagi yang harus dilewati sebelum mencapai Pos Air Panas antara lain Pos Batu Kukus dan Pondok Pemandangan. Di Pos Air Panas. Seperti nama posnya, di pos ini kita harus melewati aliran air panas yang mengalir diantara tebing. Suhu air disana bisa mencapai 50° Celcius. Di sini kita akan mengerti mengapa kita diharuskan menggunakan sepatu jika melewati jalur ini. Mungkin jika hanya memakai sandal gunung, sesudah melewati jalur ini kaki kita serasa habis direbus karena airnya cukup panas. Selain karena airnya yang panas, Hal yang membuat jalur ini menjadi cukup menyeramkan adalah karena jalanannya yang kecil dan terdapat di pinggir jurang yang dasarnya tidak terlihat karena terhalang uap air. Jika berpapasan dengan orang dari arah berlawanan salah satunya harus berhenti terlebih dahulu dan pendaki harus ekstra hati hati karena jalan yang dilewati sempit licin. Setelah melewati tebing air panas terdapat shelter dan aliran air panas yang membentuk kolam air panas alami. Di situ pendaki biasa beristirahat sambil menikmati air panas.

Tidak terlalu jauh dari Pos Air Panas, terdapat Pos Kandang Batu. Banyak batu di pos ini tapi tidak dikandangi (mungkin karena batunya tidak kemana-mana). Batu-batu tersebut merupakan batu dari letusan Gunung Gede. Di pos ini biasanya banyak orang beristirahat dan masak-masak karena tempatnya yang cukup luas dan landai. Namun biasanya tidak terlalu banyak orang yang mau mendirikan tenda di sini, mungkin karena banyak yang lebih memilih untuk bermalam di pos selanjutnya atau juga karena mendengar isu-isu menyeramkan tentang kawasan ini di forum-forum internet (jangan percaya).

Pos selanjutnya adalah Pos Kandang Badak. Masih jadi pertanyaan saya sampai saat ini, mengapa Pos ini dinamakan Pos Kandang Badak? Apakah pernah ada badak disini? Entahlah. Pos Kandang Badak merupakan tempat favorit pendaki untuk bermalam karena Kandang Badak berada pada persimpangan jalan antara jalan ke Puncak Pangrango dan Puncak Gede. Selain itu, di Kandang Badak terdapat sumber air terakhir sebelum menuju kedua puncak tersebut. Di sini biasanya pendaki mengisi ulang perbekalan air yang ia bawa sebelum melanjutkan perjalanannya ke puncak. Ada dua hal yang menjadi alasan utama mengapa pendaki mengisi air di Kandang Badak. Pertama, Setelah melewati Kandang Badak, kita akan sulit menemukan sumber air. Kedua, jika pendaki mengambil air di tukang isi ulang galon, terlalu jauh.

Ketika sampai di Pos Kandang Badak, matahari sudah terbenam. Kami pun mendirikan tenda. Ketika itu belum ada pendaki lain yang bermalam, kami satu-satunya rombongan yang bermalam di Kandang Badak. Selesai membuat tenda, kami langsung menyiapkan makan malam. Dilanjutkan dengan kegiatan paling saya gemari jika naik gunung, makan malam.

Menikmati makan malam bersama di Kandang Batu
Menikmati makan malam bersama di Kandang Batu

Pendakian Jalur Cibodas menurut saya cukup menyenangkan apalagi jika kita punya waktu yang panjang untuk menikmatinya. Meskipun memakan waktu yang lebih panjang daripada lewat Jalur Gunung Putri, Jalurnya cenderung lebih landai dan banyak pemandangan yang bisa kita nikmati, mulai dari Telaga Warna, Air Terjun Cibereum dan sensasi melewati Air Panas. Benar-benar pengalaman yang tidak tergantikan!

Setelah selesai makan malam, kami langsung beristirahat agar keesokan harinya fisik sudah kembali fit untuk mengejar dua puncak, Pangrango dan Gede.

Bersambung ke Catatan Perjalanan : Pendakian Pangrango-Gede, April 2013 (Bagian 2)

Share This:

One Reply to “Catatan Perjalanan : Pendakian Pangrango-Gede, April 2013 (Bagian 1)”

  1. jalan jalan pendakian bersama kawan itu paling nikmat dilakukan pada masa muda

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.