Catatan Perjalanan : Pendakian Pangrango-Gede (Bagian 2)

Lanjutan dari Pendakian Pangrango-Gede, April 2013

Keesokan harinya perjalanan kami mulai lebih awal. Tujuan utamanya adalah Sunrise di Puncak Pangrango. Dini hari kami bergerak, keadaan jalan masih gelap sehingga kita harus berjalan dengan hati-hati bermodalkan cahaya dari headlamp. Trek menuju Puncak Pangrango terlihat berbeda dengan trek-trek sebelumnya, di sini feel masuk hutannya lebih terasa. Tidak lagi ditemukan tangga batu dan di beberapa tempat kami harus melewati rintangan berupa akar atau pohon yang tumbang. Maksud mengejar sunrise di puncak tidak tercapai, Sang mentari sudah memunculkan dirinya ketika kami baru ¾ jalan. Namun kami tidak patah semangat., perjalanan tetap dilanjutkan. Show must go on!.

Summit Attack!
Summit Attack!

Setelah hampir 5 jam berjalan, akhirnya kami sampai juga di Puncak Pangrango (3019mdpl). Di Puncak Pangrango kita dapat melihat megahnya dinding kawah Gunung Gede, namun jika mengharapkan perasaan berada di atas awan, kalian tidak akan menemukan itu di Puncak Pangrango. Meskipun Puncak Pangrango lebih tinggi dibandingkan Gunung Gede, Vegetasi di Puncak Pangrango lumayan rimbun, sehingga pemandangan yang disuguhi di sini terbatas. Sebenarnya ada satu tempat yang menarik di dekat Puncak Pangrango, tempat itu bernama Mandalawangi. Mandalawangi adalah sebuah lembah seluas sekitar 5 hektar yang ditumbuhi  oleh hamparan Eidelweiss, Tempat favorit Soe Hok Gie. Namun kami tidak menyempatkan untuk ke sana. Kami langsung kembali ke Kandang Badak, karena ada puncak lain yang harus didaki. Mungkin lain kali ada kesempatan untuk kembali ke sana.

Puncak Pangrango
Puncak Pangrango

Sampai di kandang badak, pasukan kembali membuka dapur umum, waktunya makan siang. Asal kalian tahu, kenikmatan makan di gunung itu menjadi berkali lipat dibandingkan makanan yang dimakan di kota. Mengapa? Karena keterbatasan yang di alami di gunung akan membuat kita lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki. Mungkin perasaan bersyukur itu akan terus bertahan sampai ada delivery service yang bersedia mengantar ke puncak-puncak gunung.

Makan siang usai, kami bergegas packing dan bersiap menuju puncak selanjutnya. Trek menuju Gunung Gede didominasi dengan pohon Cantigi. Disana Teh Iwa berbagi ilmunya tentang survival.

“Pucuk daun cantigi yang berwarna merah itu bisa dimakan”

Mendengar itu saya mengambil beberapa pucuk cantigi dan langsung memamah biak. Ternyata benar, rasanya asam manis seperti buah kedondong. Mungkin akan lebih nikmat bila disajikan dengan sambal rujak (eh!).

Di perjalan menuju Puncak Gunung Gede ada satu jalur yang sedikit menguji nyali. Namanya “Tanjakan Setan”. Awalnya kami mengurungkan niat untuk melewati tanjakan setan, karena tanjakannya memang bikin orang berpikir dua kali untuk menaikinya dan di sebelahnya ada jalur alternatif. Namun saat kami mau melangkah menuju jalur alternatif, ada seorang pendaki yang baru saja turun dari puncak berkata, “Belum afdol jika naik Gunung Gede tapi tidak melewati Tanjakan Setan. Akhirnya kami merasa tertantang dan memilih melewati Tanjakan Setan.

Melalui Tanjakan Setan
Melalui Tanjakan Setan

 Beberapa saat setelah melewati Tanjakan Setan, vegetasi sudah mulai berkurang dan puncak pun sudah dapat dilihat. Akhirnya puncak yang tadi pagi kami lihat dari Pangrango, kini sedang kami Injak. Puncak Gunung Gede (2958mdpl) merupakan puncak tertinggi ke-3 di Jawa Barat. Percaya atau tidak, selain bisa merasakan berada di atas awan, ketika itu saya dapat melihat Samudra Hindia dengan jelas. Dari bentuk nya saya meyakini itu sebagai daerah Pelabuhan Ratu. Pemandangan yang lebih luas lagi pernah digambakan oleh Raffles, ia menyatakan bahwa dari puncak Gede ia dapat melihat Samudra Hindia, Laut Jawa dan Pulau Sumatera. Dari puncak gunung kita juga bisa menikmati pemandangan Alun-Alun Surya Kencana, Gunung Gemuruh dan Gunung Pangrango.

BACA JUGA : Catatan Raffles di Gunung Gede

Menuju Puncak
Menuju Puncak
Puncak Gunung Gede
Puncak Gunung Gede

Puas menikmati Puncak Gede, kami turun ke Alun-Alun Suryakencana. Suryakencana sendiri konon diambil dari nama seorang putra dari Pangeran Aria Wiratanudatar, pendiri Kota Cianjur yang beristrikan putri jin (Entah bagaimana caranya, jangan tanya). Memang jika berbicara tentang gunung gunung di Jawa, (mungkin juga di seluruh Indonesia) akan lekat dengan aroma-aroma mistis karena budaya nenek moyang terdahulu yang percaya dengan hal yang begitu. Tapi disini saya tidak akan menceritakan sisi mistis dari Alun-alun Suryakencana. Daripada sisi mistisnya, saya lebih suka sisi magisnya. Bayangkan 50 hektar padang Eidelwess terhampar sejauh mata memandang, diapit dua Gunung, Gede dan Gumuruh dan ditambah langit yang dihiasi lembayung senja. Semua itu benar-benar menghipnotis saya untuk berlama-lama dan memuji kebesaran-Nya.  Sisi Magis tersebut yang berhasil membuat saya seketika jatuh cinta pada Alun-Alun Suryakencana.

Suryakencana yang Magis
Suryakencana yang Magis
Zahra dan Kang Andre mempersiapkan makan malam
Zahra dan Kang Andre mempersiapkan makan malam

Di Alun-alun Suryakencana kami makan malam terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan pulang melalui Jalur Gunung Putri. Matahari pun tenggelam, angin malam mulai terasa menghebus menerpa badan. Setelah makan malam kami bergegas berangkat melanjutkan perjalanan untuk pulang.

Jalur gunung putri merupakan jalur yang cukup curam. Jika mendaki melalui jalur ini, hanya dibutuhkan 4-5 jam perjalanan. Ada beberapa pos yang dilewati untuk sampai ke pos pendakian antara lain Simpang Maleber, Lawang Saketeng, Buntut Lutung, Legok Leunca, dan Tanah Merah. Karena hari sudah gelap, saya tidak begitu memperhatikan apa yang sudah dilewati, saya hanya berkonsentrasi pada jalur yang ada dan membulatkan mental untuk terus berjalan

Entah karena sugesti atau karena fisik yang sudah terkuras perjalanan melalui Jalur Gunung Putri yang seharusnya ditempuh tak lebih dari 4 sampai 5 jam (ditempuh saat naik, kalau turun seharusnya bisa lebih cepat) tapi perjalanan kita serasa dibawa berputar-putar. Waktu sudah lewat tengah malam, karena kelelahan akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat dan tidur sejenak meski tanpa mendirikan tenda di pos Buntut Lutung.

Dini hari kami sudah kembali berjalan, kelelahan yang tadinya di alami, sudah sedikit terobati, akhirnya kami sampai juga di pos terakhir, Pos Tanah Merah. Setelah melewati pos tanah merah kami menyebrangi sungai kecil dan mencuci muka. Di sungai kecil itu saya mengganti sepatu dengan sandal gunung. Agar kaki bisa bernafas maksudnya. Namun kenyataannya, nasib buruk saya alami. Sepatu yang baru saya beli di Cibodas ketika hilang sebelah. Alhasil sepatu sebelahnya menjadi souvenir khusus yang sampai sekarang masih dipajang di kamar saya. Saya pun sampai sekarang masih seperti Cinderella yang menunggu Pangeran (eh, Putri) mengembalikan sepatunya. Sebut saja Cinderella Gunung Putri.

Pos Tanah Merah

Setelah melewati pos terakhir, kami langsung disuguhi pemandangan perkebunan warga dan akhirnya kami kembali ke peradaban. Meskipun kehilangan sepatu, Pendakian Pangrango-Gede merupakan pengalaman yang tidak tergantikan buat saya.

Share This:

4 Replies to “Catatan Perjalanan : Pendakian Pangrango-Gede (Bagian 2)”

  1. keren masdir. jadi kangen naik gunung nih

    1. adiraoktaroza says: Reply

      harus dijadwalkan sih naik bertiga nih

  2. Saya blm pernah naik gunung
    Baca pos agan, saya jadi pengin naik gunung -_-

    1. adiraoktaroza says: Reply

      Ayo naik gunuuung!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.