Movie Review : Nosferatu (1922)

Lupakan dulu vampire ganteng dengan tubuh atletis berkilauannya dan mari kita lihat kembali ke masa dimana vampire masih menjadi terror yang menakutkan. Hampir seabad yang lalu tercatat dalam sejarah sebuah film yang mengangkat kisah vampire untuk pertama kalinya, Nosferatu (1922).

Diadaptasi dari Novel Dracula karangan Bram Stoker atau lebih tepat bila disebut “membajak” karya tersebut. Bermasalah pada hak Cipta membuat F.W Murnau mengubah beberapa nama tokoh seperti Count Dracula menjadi Count Orlok, Jonathan dan Mina Harker menjadi Thomas dan Ellen Hutter, Renfield menjadi Knock dan pemburu vampire Abraham Van Helsing menjadi Professor Bulwer. Judul Nosferatu sendiri diambil dari Bahasa Rumania yang memiliki arti “vampire”.

Bercerita tentang Tom Hutter, seseorang pemuda yang tinggal di kota Wisborg. Ia hidup dengan bahagia bersama istrinyanya yang bernama Ellen. Suatu saat ia diberi tugas untuk berangkat ke Carpathian Mountain untuk bertemu dengan kliennya, Count Orlok. Hal yang ganjil terjadi selama ia berada di perjalanan bisnisnya menjadikan mimpi buruk menjadi kenyataan.

Meskipun tak ada unsur mengejutkan seperti pada film-film horror modern, Film asal Jerman ini tetap memberikan aura menyeramkan dalam tiap adegannya sampai-sampai film ini sempat di banned di Swedia dengan alasan excessive horror.

Dari segi penampilan, penampilan Count Orlok berbeda dengan sosok drakula yang seringkali muncul dan telah menempel dalam benak kita. Orlok digambarkan sebagai sosok jangkung berkepala plontos dengan kuku-kuku panjang dan taring yang menyeramkan tanpa jubah panjang yang biasanya menjadi khas dari sosok drakula. Tanpa adegan yang mengagetkan pun nuansa horror dapat dihadirkan hanya dengan penampilan dari Count Orlok.

Count Orlok yang diperan oleh Max Schreck dalam Nosferatu
Sosok Dracula versi Dracula (1931) diperankan Bela Lugosi yang lebih familiar dan iconic.

Salah satu yang saya soroti dari film ini adalah kemampuan mereka menyampaikan suatu pesan dalam keterbatasan pada masa itu. Meski teknik pengambilan gambarnya sangat sederhana, Unsur mencekam dibangun dengan begitu baik oleh sang sutradara. Selain itu, skoring dari Hans Erdmann juga berhasil menghadirkan atmosfer film yang menyeramkan. Beberapa teknik sederhana (namun canggih pada masanya) seperti stop motion, fading, dan montase, digunakan di film ini. Satu teknik yang terlihat sepanjang film adalah penggunaan tune warna yang berbeda untuk menggantikan kesan siang dan malam. Untuk mengakali keterbatasan pada masanya, film ini menggunakan tint yang berbeda untuk menunjukan keadaan siang dan malam, Kuning (sephia) untuk siang dan Biru untuk malam.

Buat saya menonton film ini perlu tekad yang kuat, bukan karena menyeramkan tetapi karena untuk seseorang yang tidak terbiasa menonton silent film yang tanpa dialog dan hanya didukung musik orkestra, film ini membuat saya tertidur beberapa kali. Walau terlelap bukan berarti film ini membosankan, saat bangun saya bergegas kembali ke bagian yang saya lewati karena rasa penasaran masih menghantui. Satu-satunya yang membuat kengerian film ini berkurang adalah karena salah satu bagian dari film pernah muncul di kartun SpongeBob Squarepant dan sialnya saya menonton itu (pada episode Graveyard Shift).

https://youtu.be/yorZRDujbd0

Jika anda mengharapkan adegan yang mengagetkan dan terror bagi penonton seperti pada film horror modern, maka film ini bukanlah film yang tepat. Meskipun diluar ekspektasi penggemar film-film horror kebanyakan, Nosferatu merupakan sebuah karya seni yang tidak boleh dilewatkan oleh mereka karena film ini merupakan pondasi awal dari film-film horror lainnya dan bisa dibilang merupakan salah satu film penting dan berpengaruh pada masa silent film.

Share This:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.