Movie Review: Cek Toko Sebelah (2016)

Awalnya dari judulnya saya kira film ini akan menceritakan persaingan antara dua toko kelontong yang letaknya bersebelahan, namun ternyata Ernest Prakasa menyiapkan cerita yang menyentuh dan cukup personal. Seperti pada beberapa penampilan stand up-nya, pada film ini Ernest Prakasa kembali membawakan cerita yang menitikberatkan pada identitasnya sebagai seorang Etnis Tionghoa.

Sinopsis : Film ini menceritakan tentang dua bersaudara, Yohan (Dion Wiyoko) dan Erwin (Ernest Prakasa), dan ayahnya, Koh Afuk (Chew Kin Wah) yang memiliki toko kelontong. Permasalahan muncul ketika Koh Afuk yang mulai sakit-sakitan ingin pensiun dan mewariskan tokonya pada anak bungsunya, Erwin. Namun di saat yang sama, karir Erwin di kantor sedang meroket memposisikan Erwin pada dilema. Selain itu, konflik juga muncul dari keputusan dipilihnya si bungsu menjadi penerus toko yang membuat sang kakak gusar.

(Warning Spoiler)

Meskipun film ini dipenuhi oleh komika-komika jebolan kompetisi stand up comedy, film ini tidak membawa penontonnya untuk tertawa sepanjang film. Film ini berusaha memasukan unsur drama dalam ceritanya yang membuat penonton terharu dan terbawa suasana. Ide yang bagus, sayangnya pada eksekusinya tek-tok cerita antar komedi dan drama dirasa kurang maksimal, sehingga jatuhnya tidak kemana-mana.

Dari segi cerita, film ini mengambil topik yang menarik dan dekat dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga kita cukup familiar dengan cerita tersebut. Stereotip yang beredar di masyarakat tentang etnis tionghoa dan toko kelontongnya ditambah dengan jokes segar dan kekinian yang dikemas dan disampaikankan kembali dengan begitu cerdas.

Penyampaian yang cerdas bukan berarti tanpa kelemahan, hal yang paling disayangkan adalah ketika dasar ceritanya yang kurang kuat membuat penonton tidak mendapat kesempatan untuk mengenal tokoh-tokoh dalam film lebih mendalam. Pengenalan tokoh hanya dijelaskan melalui dialog-dialog antar tokoh sehingga emosi penonton terhadap konflik yang terjadi dalam film tidak sepenuhnya klik. Padahal jika bagian itu dapat dimanfaatkan mungkin saja film ini akan menjadi Rollercoaster bagi penonton dimana mereka dapat merasakan tawa dan haru dalam waktu yang hampir bersamaan.

Sebenarnya irama drama dan komedi pada bagian awal sampai pertengahan film sudah selaras, namun Kerjasama Erwin dan Yohan di bagian akhir film yang terkesan begitu mengada-ngada cukup mengganggu dan penonton pun kembali diingatkan bahwa ini bukanlah film drama serius. Tanggung.

Hal yang menarik perhatian saya pada film ini adalah penampilan anak bungsu Presiden Jokowi, Kaesang. Walaupun sebenarnya kemunculannya bisa dibilang sama sekali tidak penting dalam cerita, Kemunculan Kaesang yang hanya beberapa detik mengundang gelak tawa penonton. Selain Kaesang, Astri Welas yang Berperan sebagai atasannya Erwin juga membuat saya terngiang-ngiang dengan dialognya saat menyanyikan lagu soundtrack sebuah drama keluarga yang beken pada tahun 90-an, Keluarga Cemara.

 “harta yang paling berharga adalah… gak tau? Ah katrok”

Tak lepas dari kekuranganya film ini cukup menghibur dan layak untuk dinikmati.

Skor: 3/5

Share This:

Leave a Reply