Catatan Perjalanan : Rancabuaya, Januari 2017 (Part 1)

Orang Sunda sepertinya memang hobi menamakan tempat dengan apa yang dia lihat. Ambil contoh saja, ketika dia menemukan sumber mata air panas mereka menamakan tempat itu Cipanas (Ci:Air), atau ketika mereka menemukan sebuah rawa yang ditinggali banyak burung ekek mereka menamakan tempat itu Rancaekek (Ranca:Rawa). Mungkin juga hal yang sama terjadi pada satu pantai di Garut Selatan yang dinamakan Rancabuaya. Apakah disana ada buaya? Yuk kita cekidot!

Kali ini saya numpang pergi ke Rancabuaya bersama ayah dan rombongan kantornya. Rancabuaya merupakan sebuah pantai di daerah Garut Selatan. Meski lokasinya dalam wilayah Kabupaten Garut, namun jika dilihat dari jaraknya Pantai Rancabuaya cukup dekat dari Kota Bandung (via Pangalengan 116km). Jika dari Kota Garut kita bisa memilih melewati jalur via Bungbulang (103km) atau via Gunung Gelap (124km). Mungkin karena jaraknya yang lumayan jauh dari pusat pemerintahan kabupaten, wilayah Garut Selatan dicanangkan untuk dimekarkan menjadi kabupaten baru.

Perjalanan tercepat dari Bandung ke Rancabuaya adalah dengan melalui Jalur Pangalengan. Dengan jarak 116km, waktu tempuh kurang lebih 4 jam. Kalau sering mabuk darat sangat disarankan untuk mempersiapkan obat anti mabuk karena sekitar 2 jam lebih kita akan melewati jalanan yang cem naik wahana rollercoaster di Dunia Fantasi. Selain jalanan kelak-keloknya, jurang yang gak keliatan dasarnya juga nangkring di pinggir jalan pun makin memacu adrenalin, membuat pengemudi mikir-mikir lagi buat ngegas. Untungnya disepanjang jalan tidak henti-hentinya diberi kenikmatan berupa pemandangan yang begitu indah. Mulai dari pemandangan Situ Cileunca, Perkebunan Teh Cukul, Persawahan yang membentang di Cisewu, dan beberapa air terjun dan sungai yang alirannya jernih di pinggir jalan (jika beruntung kita bisa berpapasan dengan kembang desa di jalan). Dikarenakan jaraknya yang lebih dekat daripada Pantai Pangandaran dan Pelabuhanratu, Rancabuaya menjadi salah satu alternatif wisata pantai bagi orang Bandung.

Ketika itu perjalanan tinggal tersisa belasan kilometer lagi untuk sampai ke tujuan, awan mendung yang bergelayut di atas mulai menumpahkan airnya ke bumi. Air turun dengan deras disertai angin kencang, pohon-pohon bertumbangan, saking derasnya serasa Langit nyebor bumi. Untungnya ketika sampai di Pantai Rancabuaya hujan mereda.

Pemandangan di depan penginapan

Sampai di Rancabuaya, rombongan langsung ke penginapan. Ternyata hujan angin di jalan berimbas pada aliran listrik. Penjaga penginapan mengatakan bahwa memang kalau hujan besar disertai angin, aliran listrik suka diputus. takut terjadi apa-apa katanya. Sangat disayangkan, mengingat kami datang pada saat weekend ketika wisatawan sedang penuh-penuhnya (ditambah kami menyewa penginapan ber-AC, huh!)

Kalau ikut jadwal bapak-bapak, tamasyanya gakkan kemana-mana, karena mereka sebenarnya cuma pindah makan, pindah ngobrol dan pindah tidur. Tapi karena saya menjunjung tujuan yang berbeda maka saya putuskan untuk jalan-jalan sendiri disana. Mari kita cari buaya!

Malas ke timur, kali ini saya berkelana ke barat (mencari kitab suci), tepatnya Pantai Cidora. Pantai Cidora cenderung lebih sepi daripada Rancabuaya bagian timur. Karena di Bandung saya tidak pernah lihat buaya ke mall atau ikut clubbing ke tempat hiburan malam, saya pikir buaya akan lebih suka ke tempat sepi.

Air surut di Pantai Cidora

Kalau laki-laki gak sabaran berarti dia bukan buaya darat. Untuk menjadi buaya dia harus sabar, menunggu waktu yang tepat untuk menerkam mangsanya. Kalau tidak sabar, mati kelaparan lah dia.

Bersambung ke Catatan Perjalanan : Rancabuaya, Januari 2017 (Part 2)

Share This:

2 Comment

  1. bisa di share locationnya kak?

    1. adiraoktaroza says: Reply

      nanti dicoba deh… ada plugin yang bisa buat map gitu gak masham?

Leave a Reply