Catatan Perjalanan : Rancabuaya, Januari 2017 (Part 2)

Lanjutan dari Catatan Perjalanan : Rancabuaya, Januari 2017 (Part 1)

Pencarian Buaya berlanjut…

Kalau ikut jadwal bapak-bapak, tamasyanya gakkan kemana-mana, karena mereka sebenarnya cuma pindah makan, pindah ngobrol dan pindah tidur. Tapi karena saya menjunjung tujuan yang berbeda maka saya putuskan untuk jalan-jalan sendiri disana. Mari kita cari buaya!

Malas ke timur, kali ini saya berkelana ke barat (mencari kitab suci), tepatnya Pantai Cidora. Pantai Cidora cenderung lebih sepi daripada Rancabuaya bagian timur. Karena di Bandung saya tidak pernah lihat buaya ke mall atau ikut clubbing ke tempat hiburan malam, saya pikir buaya akan lebih suka ke tempat sepi.

Ncing Mania…. Ntabzz!!

Untuk lebih jelasnya saya menyisir pantai ke arah barat terlihat ada beberapa nelayan berdiri di karang sedang memancing. Diantara orang-orang itu ada satu yang menarik perhatian saya, ada nelayan berbaju warna hijau. Jika pernah mendengar mitos tentang Nyai Roro Kidul tentunya kalian tau apa hubungannya Nyai dengan warna hijau. Konon Nyai suka warna Hijau dan jika ada yang memakai warna hijau keliaran di pantai akan dibawa ke kerajaannya dan dijadikan karyawan seumur hidup dan tidak digaji sesuai UMR (nahloh!). Tapi zaman sudah maju, banyak yang tidak lagi percaya dengan hal itu, begitupun saya.

Yang baju hijau jangan sampai lolos!

Masalah Nyai juga pernah diangkat sekilas secara cukup logis dalam buku yang pernah saya baca. Ekspedisi Kompas – Hidup Mati di Negeri Cincin Api yang ditulis Ahmad Arif. Sosok  Nyai Roro Kidul dikaitkan dengan sejarah masa lalu dan potensi Tsunami yang terpendam di Selatan Jawa.

“Selama ini kita kebanyakan menafsirkan Ratu Kidul hanya dari aspek mitologi dan kepercayaan. Tetapi bisa jadi, Ratu Kidul memang mengabarkan bencana gempa dan tsunami pada masa lalu yang berasal di pantai selatan Jawa.” – Bambang Purwanto, Guru Besar Sejarah UGM (Dalam buku “Ekspedisi Kompas – Hidup Mati di Negeri Cincin Api”)

Laut Selatan Jawa memang terkenal dengan ombaknya yang ganas. Teringat kembali saat saya KKN di Desa Karangwangi, beberapa Kilometer dari Rancabuaya, warga dan kepala desa beberapa kali menyarankan kami agar tidak bermain air, khususnya buat orang Bandung. Katanya sering “dibawa”. Pernah mahasiswa ITB dan Unpad jadi korban di sekitarana Desa tempat saya KKN. Saya sih tidak masalah dengan itu, lagian saya gak bisa renang.

Wheelie tapi gak wheelie-wheelie amat

Selain Nelayan, saya juga bertemu dengan sekelompok anak muda yang sedang bermain dengan motornya. Mungkin niatnya melakukan atraksi wheelie, tapi kakinya masih menginjak tanah. Jatuhnya malah jadi lucu kalau difoto. Tanpa takut terkena air garam yang korosif ke mesin motor, mereka tetap asik beraktrasi. Mungkin itu cara gaul anak muda menikmati waktu sore di sana. Melihat dari jenis-jenis motornya sih saya langsung teringat tentang isu Motor bodong (hasil curian) yang larinya ke daerah-daerah seperti di sini. Dijual murah dan laku seperti kacang goreng. Mungkin karena murah dan mudah mendapatkannya, jadi mereka sik-asik aja main di situ. Saya sih ogah.

Tak bertemu buaya, saya malah menemukan anjing laut (eh?).

Anjing Laut, Anjing yang nongrong deket laut (?)

Kesimpulan: Sampai saya pulang, saya masih belum bisa membuktikan bahwa ada buaya di Pantai Rancabuaya. Mungkin saja dulu buayanya bertransmigrasi ke Australia.

Share This:

Leave a Reply