Movie Review : Logan (2017)

Sebelumnya saya bukan orang yang terlalu mengikuti film-film X-men. Meski pun sudah menonton beberapa filmnya, tidak satupun yang ceritanya berkesan buat saya. Banyaknya tokoh super yang terlibat di dalamnya membuat saya malas untuk menghapal jalan ceritanya. Awalnya, ketika film ini keluar, saya tidak begitu ingin menontonnya, namun setelah membaca beberapa review orang terdekat mengenai film ini, saya tergoda.

Film ini menceritakan masa tua Logan pada tahun 2029 dimana para mutan sudah mulai punah. Logan (Hugh Jackman) bersama Professor X (Patrick Stewart) dan Caliban (Stephen Merchant) harus mengasingkan diri ke perbatasan antara Amerika dan Meksiko karena Professor X terkena penyakit dan mengalami demensia sehingga kemampuan telekinesisnya dapat menjadi suatu hal yang berbahaya bagi orang-orang sekitarnya. Sampai suatu ketika Logan didatangi seorang perempuan bernama Gabriela (Elizabeth Rodriguez) yang meminta bantuan kepadanya. Sebuah misi yang membuatnya bertemu mutan muda bernama Laura dan mengantarkan Logan pada perjalanan terakhirnya.

Semenjak kesuksesan Deadpool dengan konten yang berdarah-darah dan penuh dengan umpatannya (R-rated) membuat sutradara berani untuk menampilkan konten yang serupa dan mengarah segmen yang lainnya, film superhero tak selalu bisa jadi konsumsi anak-anak. Hal itu dapat dilihat pada film ini. Pada menit-menit awal film saja Logan sudah membantai sekelompok berandalan yang mau mencuri velg mobilnya. Adegan tersebut langsung membawa penonton layaknya berada di rumah jagal dan menjadi foreplay yang menarik. Belum lagi adegan-adegan yang tersaji selanjutnya. Walah…

Jika mengharapkan film superhero yang main aman, penuh aksi dan efek-efek yang mengagumkan, mungkin Logan bukanlah film yang tepat. Namun ketiadaan hal tersebut bukan berarti Logan merupakan film yang buruk. Menurut saya, sutradara James Mangold berhasil mengemas film ini menjadi hal yang menarik, bahkan konon katanya, film Logan menjadi yang terbaik dari semua film tokoh Wolverine sebelumnya.

Satu hal yang sampai saat ini entah akan saya masukan pada kelebihan atau kekurangan adalah tidak ada sosok musuh yang menonjol, satu-satunya musuh yang terlihat adalah Donald Pierce yang diperankan oleh Boyd Holbook yang merupakan Pemimpin Reavers, pasukan pemburu mutan. Itu pun tidak sampai merepotkan Logan. Sampai pada akhirnya muncul sosok kloningan dari Wolverine, X-24 yang lagi-lagi berujung sekedar menjadi sparring partner Logan. Namun kekosongan sosok musuh tersebut membuat sepanjang film penonton lebih terfokus pada pergulatan emosi yang ada di dalam diri Logan, suatu hal yang mungkin saja memang disengaja.

Selain merupakan penutup kisah dari tokoh Wolverine, Logan juga merupakan perpisahan Hugh Jackman dan Patrick Stewart yang tidak lagi memainkan tokoh di dalam serial X-men. Penutup yang mengesankan

Charles Xavier : This is what life looks like: people love each other. You should take a moment.

Score : 4/5

Share This:

Leave a Reply