Catatan Perjalanan : One Day Trip ke Pantai Santolo, April 2017

 “Apapun yang terjadi, hari Sabtu kita tetap touring ya!”

Kurang lebih seperti itu kata-kata yang saya ucapkan ke teman saya, Reffi. Bukan tanpa alasan, tapi karena sudah beberapa kali rencana touring bersama ke Pantai Selatan tergagalkan bahkan di detik-detik akhir keberangkatan. Oleh karena itu di kesempatan ini apapun yang terjadi, show must go on.

Meski tekad sudah bulat, masalah tetap berdatangan. Satu persatu teman mulai mundur teratur karena bentrok dengan agenda lainnya, hingga akhirnya tersisa tiga orang. Saya, Reffi, dan Uca. Alhasil touring kali ini hanya dua motor. Sebenarnya saya agak bingung dengan touring kali ini, berada diantara dua sejoli ini sepertinya saya lebih berasa seperti obat nyamuk.

Lanjut ke masalah selanjutnya, Awalnya kami merencanakan untuk berangkat sekitar jam 4 shubuh dari Bandung, untuk mengejar Sunrise di Situ Cileunca, namun yang terjadi adalah kami baru berangkat jam 6 pagi karena kunci motor saya hilang secara misterius. Baru memulai perjalanan, cobaan lainya sudah mendera, motor saya habis bensin di lampu merah Persimpangan Jalan Ahmad Yani – Supratman. Untungnya ketika itu jarak ke pom bensin terdekat hanya tinggal menyebrang.

TIPS: Periksa kembali keadaan kendaraan Anda sebelum berpergian. Khusus untuk motor tanpa petunjuk bahan bakar seperti yang saya pakai, jangan lupa isi full tank dan periksa tangki bensin Anda secara berkala.

Masalah selanjutnya terjadi di Banjaran, ban motor Uca bocor. Kagok kalau menunggu mereka di jalan, akhirnya saya putuskan untuk jalan terus dan menunggu mereka di Pangalengan atau Situ Cileunca. Biar menunggunya ada pemandangan dan jajanan pikir saya.

Tepat di Warung Pertama Situ Cileunca saya berhenti, lalu memesan mie instan dan minuman bersereal dan menikmatinya dengan khusyu sambil menunggu sepasang kekasih yang tak kunjung sampai. Menu sarapannya biasa, hanya mie instan dan minuman bersereal, tapi karena pemandangannya dan suasana yang tersaji menjadikan rasa nomor ke dua.

Menu Sarapan

Letak Situ Cileunca berada 45 Km dari kota Bandung, atau bisa dibilang sudah setengah perjalanan menuju Pantai (Rancabuaya). Pada awalnya Situ Cileunca merupakan kawasan hutan belantara yang dibuka mulai di sekitar tahun 1917. Pembangunannya sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 7 tahun (1919-1926). Konon pembangunan yang lama tersebut disebabkan oleh alat membangunnya yang tidak biasa. Biasanya orang menggunakan Pacul/Cangkul, namun disini menggunakan Halu, tapi itu pun masih per-ceunah-an. Tidak banyak Informasi yang saya dapat mengenai Situ yang satu ini

Situ Cileunca

BACA JUGA : Travelogue : Situ Cileunca, Pangalengan

Sekitar 20 menit menunggu, Reffi dan Uca akhirnya datang juga. Katanya si Hitam gak kuat nyusul-nyusul, gak ada tenaganya jadi jalannya lambat. Mereka pun menyempatkan untuk jajan-jajan di warung dan menikmati pemandangan di Situ Cileunca. Saat menunggu mereka tiba saya sempat mengobrol dengan aa-aa yang mau memancing di Cileunca, dia menyarankan saya untuk menepi di sekitar Cisewu  disana terdapat satu air terjun yang katanya airnya sangat jernih yang sayang untuk dilewatkan.

Dua Sejoli

Puas menikmati suasana Situ Cileunca, kami langsung tancap gas lagi melanjutkan perjalanan. Perjalanan ke Santolo banyak terdapat spot-spot yang bagus untuk mengambil foto, apalagi ketika melewati Perkebunan Teh Cukul, namun sayangnya cuaca berkabut ketika kami sampai di Cukul sehingga kami tidak berhenti disana.

Mengikuti kata Aa yang tadi, saya berhenti di Cisewu, tapi bukan di air terjun yang dikatakan sebelumnya. Titik saya berhenti adalah di Markas Komando Rayon Militer Kecamatan Cisewu dimana patung harimau terbahagia di dunia pernah berdiri.Saking bahagianya patung tersebut, sampai-sampai dia sempat viral di dunia maya. Namun ketika itu yang saya temukan bukanlah sosok patung yang berbahagia. Patung harimau unyu itu sudah berubah menjadi sebuah patung yang lebih garang dan macho. Dengar-dengar patung tersebut merupakan sumbangan langsung dari Bupati Purwakarta, H Dedi Mulyadi.

Before (@josephinekarina)
After

Meskipun saya merasa kehilangan, mari kita ambil sisi positifnya. Dimana ternyata olok-olok orang lain dapat menjadi motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan jangan lupa, semua bisa jadi macan!.

“Semua bisa jadi macan” – Biskuat

Ternyata jarak antara patung maung dan  Air Terjun yang disebut Aa yang tadi tidak begitu jauh, tak sampai lima menit memacu motor, deru air terjun sudah menggoda untuk dicelup-celup enak. Secara kebetulan saya bertemu lagi dengan Aa yang tadi (lupa tidak tanya nama dia, duh!). Sempat curiga, apa mungkin dia adalah Duta Pariwisata Cisewu? jadi dia menawarkan ke orang-orang untuk datang ke Cisewu agar dapat meningkatkan penghasilan dari sektor wisata. Namun setelah ditanyakan lebih lanjut ternyata si Aa yang tadi bukanlah Duta Pariwisata Cisewu. Aa yang tadi cuma ingin pindah spot mancing saja. Karena di Situ Cileunca airnya kotor jadi dia memutuskan untuk pergi ke pesisir di sekitar Santolo dan kebetulan bertemu lagi dengan saya.

Nama curug yang dimaksud Aa yang tadi adalah Curug Rahong, saya mendapatkan nama itu setelah browsing di internet ketika sudah kembali ke Bandung. Sialnya, ternyata diatas curug yang saya nikmati ketika itu masih ada satu tingkatan lagi. Memang perlu usaha lebih, pengunjung harus nerekel sedikit di tebing, tapi usaha tersebut tak seberapa jika dibandingkan dengan kenikmatan hakiki yang di dapat ketika berhasil sampai di spot tersebut. Sayangnya, saya melewatkannya. (#np Yang Terlewatkan – Sheila on 7)

TIPS: Selalu Browsing mengenai lokasi yang mau didatangi dan rute yang dilalui, siapa tau bisa mampir-mampir di spot yang terlalui dan jangan lupa cek www.adiraoktaroza.com. Okeh?

 

Curug Rahong

Curug Rahong memiliki tiga tingkatan dan tiga kolam yang bisa dijadikan sebagai tempat loncat-loncatan dan renang bagi yang mau dan mampu. Kata Aa yang tadi kolam-kolam disana cukup dalam, jadi kalau mau berenang harus berhati-hati (lengkapnya informasi aa bagaikan wikipedia). Kalau kalian traveler sejati pasti tentunya tidak akan melewatkan kesempatan ini dan siap basah-basahan. Untuk masuk ke Curug Rahong tidak perlu mengeluarkan biaya, cukup parkir dan titip motor ke warung sekitar. Aksesnya juga sangat dekat dari jalan utama, bahkan untuk yang males gerak bisa menikmatinya dari atas jembatan.

Cukup lama kami berada di Curug Rahong, langit yang mulai mendung dan air yang makin deras dan mulai berwarna coklat membuat kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Setidaknya jika turun hujan, kami sudah ada dekat dengan pantai.

TIPS: Jika bermain di air terjun harap untuk tetap waspada, lihat lingkungan dan cuaca sekitar. Jika arus air makin deras atau mulai berwarna keruh, bisa jadi terjadi hujan di hulu. Segeralah berhenti bermain air.

BERSAMBUNG KE Catatan Perjalanan : One Day Trip ke Pantai Santolo (Part 2)

Share This:

Leave a Reply