Catatan Perjalanan : One Day Trip ke Pantai Santolo, April 2017 (Part 2)

LANJUTAN DARI Catatan Perjalanan : One Day Trip Pantai Santolo, April 2017

Sebenarnya saya sudah hapal betul dengan rute ini karena dalam tiga tahun terakhir, sekitar tujuh kali melewati rute ini dan ditambah lagi saya sempat menghabiskan waktu satu bulan untuk KKN di Desa Karangwangi, sebuah desa di pesisir Garut Selatan. Bisa dibilang sudah khatam lah di masalah jalur. (kalau masalah informasi lebih baik tanyakan ke “Aa yang tadi” aja, dia lebih khatam).

Garis Pantai Selatan Jawa Barat

Pemberhentian kami selanjutnya adalah di Masjid yang terletak di antara Puncak Goa dan Pantai Cicalobak. Sampai sekarang Masjid tersebut masih saya nobatkan sebagai Masjid ter-PW sepanjang Rancabuaya – Pameungpeuk. Mungkin gelar itu akan bertahan sampai pembangunan Masjid Agung di Kecamatan Mekarmukti rampung. Saking PW-nya masjid itu, saya pun sampai terlelap dan juga sempat menggunting kuku (?) disana.

Jika dilihat lebih lanjut sebenarnya wilayah pesisir Garut Selatan memiliki potensi yang cukup besar, namun sayangnya belum dimanfaatkan oleh pemerintah sehingga wilayah ini masih tertinggal. Karena itulah direncanakan pemekaran kabupaten baru yaitu Kabupaten Garut Selatan yang pusatnya akan didirikan di Kecamatan Mekarmukti, tepat di desa saya KKN dahulu, Desa Karangwangi. Semoga pemekaran ini bisa menjadi jalan keluar dari ketertinggalan wilayah Garut Selatan dan dapat menyejahterakan penduduknya. Amin!

Jarak dari Masjid tersebut ke Santolo, masih cukup jauh namun karena di jalan mulus dan kosong melompong, perjalanan sekitar 30 km ditempuh sekitar 20 menit saja. Kalau lancar dan nonstop perjalanan Bandung-Santolo dengan motor hanya menghabiskan waktu sekitar 4 ½ jam saja, sedangkan untuk ke Rancabuaya cukup 4 jam, hal itu menyebabkan pantai-pantai di selatan Garut ini dijadikan salah satu alternatif wisata warga Bandung yang rindu akan debur ombak. Selain Santolo dan Rancabuaya masih terdapat beberapa pantai lain yang bisa didatangi seperti Cicalobak, Sayang Heulang, Puncak Goha dan Lain-lainya.

                Sesampainya di Santolo, kami langsung disuguhi pemandangan pantai pasir putih yang indah. Untuk masuk kawasan kami membayar Rp.5000,- per-orangnya. Kami pun terus menyusuri jalan sampai ke titik dimana tidak ada jalan lagi. Itu berarti kami harus memarkir motor kami dan menyebrang menggunakan perahu. Alangkah kagetnya ketika parkir disana dan tukang parkirnya memberikan tiket bertuliskan Rp.10.000,- , entah kenapa di saat yang sama mood untuk explore lebih lanjut menjadi hilang. Kalau tarif parkir motor di tempat wisata Rp.5.000,- saya masih bisa mewajarkan, tapi kalau udah sampai segitunya, takutnya kalau dilanjutkan jalan-jalannya nanti bakal ketemu yang lebih mahal lagi daripada parkir. Padahal kalau zaman KKN dulu, jangankan parkir, masuk kawasan pun bisa gratis, asalkan muka dan setelannya pakai setelan warlok (warga lokal).

Setelah memarkirkan motor dan terkaget-kaget dengan tarifnya, kami langsung diikuti bapak-bapak yang menawarkan untuk menyebrang ke pulau tarifnya Rp. 5.000,-. Gak mahal-mahal amat memang, meski sebenarnya jarak yang diseberangi tidak sampai 10 Meter, masih layak lah. Tapi saya kepalang trauma sama tarif parkir, takutnya nyebrang ke pulaunya cuma Rp.5000,- tapi waktu nyebrang pulangnya tarifnya beda lagi. Bisa-bisa jadi orang pulau saya! (Hush! Prasangka Buruk). Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk tidak menyebrang dan menikmati pantai yang ada saja. Not Bad.

Hal yang membuat saya tidak menyesal karena tidak mengeksplore Santolo adalah dikarenakan cuaca ketika itu tidak mendukung untuk mengambil foto. Cuaca ketika itu mendung. Nuansa pantai yang biasanya ceria malah jadi terasa sendu.

Aku liatnya kok jadi sedih ya? – Uca

Menikmati suara ombak, bertelanjang kaki di pasir, bercanda dan tertawa, bahagia memang sederhana. Namun dibalik kebahagiaan itu saya harus sadar, saya adalah obat nyamuk (hiks ☹). Awalnya kami mengincar untuk melihat sunset disini, tapi ternyata sampai menjelang maghrib cuaca belum juga membaik. Akhirnya kami putuskan untuk pulang lebih cepat.

Langitnya Sendu

Rute pulang berbeda dengan rute pergi, kali ini kami pulang lewat Garut. Rute ini tergolong lebih bersahabat dibandingkan rute Rancabuaya-Pangalengan yang dipenuhi belokan tajam dan tanjakan curam. Meskipun cenderung lebih jauh, tapi jalannya lumayan ramai dibandingkan rute berangkat.

Cobaan tak hanya menerpa di awal perjalanan, kali ini cobaannya berbentuk cuaca yang tidak bersahabat, di tengah jalan hujan mendera. Dari Kebun Teh di Cisompet sampai ke Cikajang hujan tidak juga berhenti. Ditambah lagi-lagi ban motor Uca Kempes di Gunung Gelap, beruntung ban kempes tidak jauh dari tukang tambal ban.

Keadaan membuat kami harus berjalan lambat, Jalanan yang tidak semulus kulit Raisa dan tidak adanya penerangan jalan membuat kami harus berhati-hati, mengingat hari sudah gelap. Walau orang bilang sekarang Gunung Gelap sudah terang dan lumayan banyak warung-warung tempat singgah, tetap saja namanya Gunung Gelap. Poek lur!

Setelah perjuangan melewati kegelapan menuju jalan cahaya, sampailah di Cikajang dan kami pun makan malam disana. Kebetulan ketika itu di Cikajang sedang ada Dufan (baca : Pasar Malam Keliling), sebenarnya saya ingin kesana tapi takut sampai di Bandung terlalu larut.

                Perjalanan Cikajang ke Bandung terasa sangat panjang buat saya, karena di motor hanya sendirian saya hanya sendirian dan tiada tempat mengadu. Kondisi tubuh pun sudah makin tidak karuan, kondisi awal berangkat badan memang sudah terasa tidak enak, seperti mau flu. Ditambah lagi badan sudah kedinginan karena kehujanan dan mulai nundutan (baca: mengantuk). Rasanya jadi ingin 3G1N, “Gerang Gerung Geura Nepi”.

TIPS : Pastikan kondisi tubuh sebelum berpergian dalam keadaan prima, jika tidak, segeralah beri dopping semacam jamu atau vitamin C.

Sesampainya di Bandung kami yang sudah kelelahan langsung beristirahat karena esok harinya sudah ada agenda-agenda lain yang menanti. Namun apa yang terjadi, keesokan paginya ternyata cobaan belum selesai. Motor Uca Hilang. Kemungkinan karena capek, ketika turun dari motor, kunci motornya tertinggal di dan si pencuri dengan mudahnya membawa motor tersebut.

Sampai berita ini diterbitkan, belum ada informasi mengenai keberadaan si Hitam.

Sabar…. Ini Perjuangan…

TIPS Terakhir : Secapek apapun kamu, jangan lupa cek DOMPET-HP-KUNCI. Sip!

 

Tulisan ini khusus dipersembahkan pada si Hitam, motor milik Uca yang digondol maling setelah menyukseskan Touring Explore Garut Selatan. Semoga digantikan dengan yang lebih baik…

BACA JUGA : Catatan Perjalanan : Rancabuaya, Januari 2017

Share This:

2 Comment

  1. Bloger yang berdedikasi 😂, semoga si hitam tenang d alam sana 😢

    1. adiraoktaroza says: Reply

      mari mengheningkan cipta sejenak, mengenang jasa-jasa si hitam…

Leave a Reply