Movie Review : Critical Eleven (2017)

‘‘Dalam dunia penerbangan, dikenal 11 menit waktu paling kritis. Tiga menit setelah take-off dan delapan menit sebelum landing. Disitulah 80 persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi.’’

Istilah critical eleven tersebut di analogikan pada hubungan antar manusia, ketika 3 menit awal adalah saat-saat untuk menimbulkan first impression baik atau buruk, sedangkan 8 menit terakhir menjadi momen penentuan. Apakah hubungan ini akan berlanjut atau berhenti sampai di situ saja.

Istilah ini menggambarkan pertemuan pertama antara Anya dan Ale di sebuah penerbangan dari Jakarta menuju Sydney. Hubungan Anya dan Ale berlanjut ke jenjang yang lebih serius sampai mereka berdua memutuskan untuk menikah dan pindah ke New York. Kehidupan mereka berjalan mulus dan bahagia bagaikan kisah dongeng. Keduanya semakin bahagia ketika akhirnya Anya mengandung. Namun setelah itu cobaan menerpa mereka. Cinta mereka diuji.

Diadaptasi dari novel best seller karya Ika Natassa, Judul Critical Eleven cukup familiar buat saya karena ada beberapa teman dekat saya yang membaca novel ini dan ketika saya sedang rajin-rajinnya bolak-balik ke toko buku saya sempat penasaran dengan novel ini namun sayangnya sampai ceritanya diangkat ke layar kaca, belum terrealisasi untuk membeli buku ini. Nilai plus-nya ketika saya belum membaca novel tersebut adalah saya tidak akan terjebak diantara pilihan mana yang lebih baik. Book vs Movie.

Dibintangi oleh dua aktor dan aktris papan atas macam Reza Rahardian dan Adinia Wirasti mungkin meningkatkan rasa penasaran penonton terhadap film ini. Ditambah lagi kehadiran aktor senior seperti Slamet Rahardjo dan Widyawati yang turut meng-support film ini membuat saya bertanya “akan seperti apa jadinya film ini?”. Sayangnya rasa penasaran itu tidak berlangsung lama, hanya dengan menonton trailer-nya kita sudah dapat memprediksi bagaimana jalan ceritanya.

Tayangan trailer yang berdurasi 2menit 36detik rasanya sudah cukup bercerita. Jika rasa penasaran Anda sudah terpuaskan, Anda tidak perlu datang ke Bioskop untuk menghabiskan waktu Anda. Jika masih penasaran, maka silahkan lanjutkan baca review ini atau langsung pergi ke bioskop kesayangan Anda.

(WARNING : MENGANDUNG SPOILER)

Pada awalnya semua berjalan terlalu sempurna bagi Anya dan Ale, bahkan saya sempat bertanya-tanya, “kapan konfliknya akan keluar?”. Film berjalan dengan tempo yang lambat, mungkin saja tempo yang lambat dimaksudkan untuk membuat penonton terhanyut dalam cerita namun di beberapa bagian dirasa terlalu lambat, bahkan membuat saya tertidur untuk beberapa saat. Untungnya beberapa menit setelah saya tertidur, konflik mulai muncul.

Mereka tertidur? Saya juga…

Gugurnya kandungan Anya membuat kedua pasangan ini merasa kehilangan dan bersedih, Ale menganggap gugurnya kandungan Anya disebabkan karena Anya tak menjaga kandungannya dengan baik. Rasa sedih tersebut akhirnya malah meregangkan hubungan Anya dan Ale, mereka pun terlibat perang dingin.

Setelah diberi kebahagiaan yang sempurna, suasana langsung dibalik 180 derajat menjadi kesedihan yang tak berujung. Sayangnya kesedihan itu digambarkan terlalu bertele-tele sehingga kekuatan untuk mempengaruhi emosi penontonnya perlahan hilang. Khususnya bagi saya, kesedihan itu bukan membawa simpati, tapi membuat saya jenuh.

Bisa dibilang bertabur bintang.

Menurut saya banyak peran yang sebenarnya bisa dimaksimalkan, seperti sosok Kedua Orang Tua Ale (Slamet Rahardjo & Widyawati) dan Hamish Daud. Ketika kedua orang tua Ale berusaha menjadi penengah konflik antara Ale dan Anya rasanya kurang diberikan porsi yang cukup, sehingga kesannya tanggung. Begitu juga kehadiran tokoh teman sekantor Anya yang diperankan oleh Hamish Daud, kehadirannya penting sekaligus tidak penting. Penting karena menjadi jembatan ketika Anya dan Ale bertemu di pesawat dan tidak penting karena setelah itu kemunculannya tidak begitu diperlukan.

Film ini juga mengandung beberapa pesan sponsor (iklan terselubung) yang cukup mengganggu, namun tak semengganggu kehadiran iklan Chocolatos di film Habibie & Ainun.

Dibalik semua kekurangan tersebut, beruntung film ini membawa Reza Rahardian dan Adinia Wirasti. Saya cukup terkesan dengan totalitas dan chemistry yang ditampilkan mereka. Keduanya mampu membuat penonton terhanyut dalam suasana, baik saat senang ataupun saat sedih. Entah apa yang terjadi jika bukan mereka yang mengisi peran itu. Selain itu, saya juga terkesan dengan pengambilan gambarnya, khususnya ketika mereka menetap di New York. Kalau istilah anak muda zaman sekarang, “sangat Instagramable”

Satu poin terakhir yang menjadi nilai tambah film ini adalah dari sisi musik, komposer Andi Rianto memberikan sentuhan magis lewat scoring yang membalut keseluruhan film. Ditambah lagi Soundtrack “Sekali Lagi” yang dinyanyikan Isyana Sarasvati yang membuat film ini terasa syahdu.

Rasanya tidak adil jika mengatakan film ini film yang buruk, tapi juga film ini belum mampu memanfaatkan potensi yang dimilikinya agar disebut sebagai film yang bagus. Andai saja Monty Tiwa dan Robert Ronny selaku sutradara mampu mengoptimalkan potensi tersebut, hasil akhirnya pasti akan jauh berbeda.

Score : 3/5

Share This:

1 Comment

  1. Buat saya film ini salah satu film dalam negeri yang bagus baik dari scene dan alurnya, tapi kok terlalu life-goals banget ya sebelum muncul konflik. Dari saya ada satu pesan penting dari cerita itu, jangan egois sama pasangan.

Leave a Reply