Movie Review : Wonderwoman (2017)

“Setelah menontonnya, saya langsung menaruh Wonderwoman menjadi film superhero DC favorit saya setelah Trilogi Batman besutan Christoper Nolan.”

 

Diana, merupakan seorang putri dari Hippolyta, Ratu Kaum Amazon. Dia tinggal di Themyscira, sebuah pulau tersembunyi yang hanya ditinggali oleh wanita. Mereka yang tinggal di Themyscira bukanlah wanita biasa; konon mereka adalah wanita-wanita yang diciptakan dewa untuk menjaga perdamaian di dunia. Ketika berada di pulau itu, Diana dilatih keras oleh Antiope agar ia menjadi petarung terbaik. Hingga suatu hari Steve Trevor, seorang mata-mata Inggris terdampar di pulau tersebut dan menceritakan mengenai konflik yang terjadi di dunia luar. Diana pun memutuskan untuk pergi dari tempat asalnya dan ikut berjuang untuk menghentikan peperangan. Ia pun perlahan mengetahui kekuatan dan takdirnya yang sebenarnya.

Setelah Batman vs Superman dan Suicide Squad yang bisa dibilang dibawah ekspektasi, akhirnya Wonderwoman muncul dan menggebrak. Sebenarnya jalan cerita Wonderwoman sangatlah sederhana. Penonton tidak perlu berpikir keras untuk memahami ceritanya. Meskipun ada sedikit twist di akhir cerita, secara keseluruhan cerita dibawa mengalir begitu saja.

Mengambil latar Perang Dunia I, film ini memanfaatkan pandangan kebanyakan orang Good People vs Bad People. Pada film ini Inggris di pihak yang baik sedangkan Jerman di pihak yang jahat. Awalnya kita akan ikut terbawa dengan pandangan tersebut, namun di akhir cerita penonton akan tersadar bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak di dunia. Begitu pula dengan Diana, ia yang sebelumnya tak pernah menginjakkan kaki di dunia luar akhirnya dihadapkan pada kenyataan itu dan harus menentukan yang mana yang akan ia bela.

Gal Gadot Wonderwoman
Gal Gadot sebagai Wonderwoman

Kunci kekuatan film ini ada pada pemeran utamanya. Berperan sebagai seorang putri sekaligus superhero, Gal Gadot berhasil membuat penonton terpesona dengan keanggunan dan ketangguhan yang ditampilkannya di saat yang sama. Meskipun ketika pengambilan gambar untuk film ini ia sedang hamil, penampilannya tetap total (dibantu efek CGI tentunya). Miss Israel 2004 ini sampai mempersiapkan dirinya selama 6 bulan berlatih bela diri untuk peran ini. Sebelumnya Gal Gadot memang sudah memiliki latar belakang militer, ia pernah bergabung dengan Israeli Defence Forces selama dua tahun. Alasan tersebut juga yang menyebabkan Wonderwoman dilarang tayang di Lebanon.

Lynda Carter Wonderwoman
Lynda Carter Wonderwoman

Sebelum Gal Gadot, Wonderwoman punya Lynda Carter di era 1975-1979. Jika dibandingkan dengan Wonderwoman edisi sebelumnya, Wonderwoman Gal Gadot terasa lebih garang. Jika melihat tampilannya yang sekarang akan mengingatkan kita dengan tokoh utama serial televisi “Xena : Warrior Princess”. Pada awalnya pemilihan Gal Gadot sebagai Wonderwoman sempat dikritisi. Mereka yang mengkritisi beralasan Gal Gadot kurang seksi. Ketika itu kritik langsung dijawab dengan cerdas oleh Gal Gadot dan sekarang semua kritikan itu kembali dijawabnya dengan performanya di film ini.

“If you want it to really be true to origin story, the Amazons had only one breast, Otherwise it would get in the way of the bow and arrow.”

Mungkin saja si pengkritik mengatakan itu ketika melihat penampilan Wonderwoman di Batman Vs Superman, tapi saya rasa penampilan Gal Gadot di film Wonderwoman terasa berbeda.

Dibalik Gal Gadot masih ada satu sosok wanita yang berjasa atas kesuksesan film ini. Sosok itu adalah sang sutradara, Patty Jenkins. Meskipun sudah 14 tahun tidak menggarap film bioskop, Patty Jenkins berhasil mengemas Wonderwoman menjadi film yang menghibur bagi penonton. Di tengah dominasi para sutradara laki-laki dan film superhero laki-laki, Patty Jenkins dan Wonderwomannya membuktikan bahwa film superhero tak hanya milik kaum adam saja. Selain itu Wonderwoman juga menjadikan dia sebagai wanita ke-2 yang menyutradarai film yang memiliki budget lebih dari 100 juta Dollar.

Isu Feminisme

Seperti tujuan awal tokoh ini dibuat oleh Mourston di sekitar tahun 40an, Wonderwoman hadir membawa pesan-pesan mengenai feminisme. Begitu juga di film ini, namun jangan khawatir, pesan-pesan tersebut tidak mengharuskan Anda harus berpikir kritis. Pesan-pesan itu disampaikan dengan ringan di beberapa bagian film, seperti pada saat Diana tiba di Inggris dan bingung dengan kehidupan wanita di dunia nyata di masa itu yang jauh berbeda dengan apa yang ada di pikirannya.

  • Steve Trevor : I can’t let you do this…
    Diana Prince : What I do is not up to you

  • Etta Candy : I’m Steve Trevor’s secretary
    Diana Prince : What is a secretary?
    Etta Candy : I go where he tells me to go, I do what he tells me to do
    Diana Prince : Where we come from, that’s called slavery.

Kesimpulan

Patty Jenkins berhasil meracik film ini dengan formula lama melalui ceritanya yang ringan, sederhana dan mengalir begitu saja. Tidak ada lagi kesan kelam dan gelap seperti pada film-film DC sebelumnya. Sebagai penggantinya Film ini kembali mengajarkan kita mengenai harapan dan cinta. Bukan tanpa kekurangan, ada beberapa hal yang mengganggu seperti penggunaan Bahasa Inggris oleh para Tentara Jerman dan efek-efek yang terlihat dipaksakan di akhir film. Namun secara keseluruhan, kekurangan itu bisa ditutupi dengan pesona Gal Gadot yang memerankan Diana Prince dengan baik dan menjadikan Wonderwoman salah satu film superhero terbaik DC saat ini.

Score : 4/5

BACA JUGA : Movie Review : Pirates of Caribbean: Dead Men Tell No Tales (2017)

Share This:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.