Review : Asus Zenfone Zoom S

Sudah satu bulan Asus Zenfone Zoom S ada di tangan saya, bagaimanakah kesan pemakaiannya?

Setelah iPhone5s saya tumbang dan dipensiunkan akhirnya saya harus memilih smartphone baru dan kembali ke platform Android. Pilihan saya jatuh pada Asus Zenfone Zoom S. Smartphone keluaran Asus ini menekankan kemampuannya pada kameranya yang mereka klaim mempunyai keunggulan dibandingkan Iphone7plus. Karena hal itu, saya jadi tertarik untuk membelinya. Sayangnya, ketika saya mau membeli tidak ada unit yang di-display untuk dicoba terlebih dahulu (saya datang ketika barang baru 2 hari launching), sehingga saya pun harus membulatkan tekad terlebih dahulu untuk membeli smartphone ini. Rasanya seperti membeli kucing di dalam karung.

Sekarang, sudah satu bulan lebih saya memakai Asus Zenfone Zoom S, lalu bagaimanakah kesan pemakaiannya?

Desain

Asus Zenfone Zoom S

Rasanya saya ketika awal pemakaian harus beradaptasi terlebih dahulu karena sudah terbiasa dengan 4 inch-nya iPhone 5s. Layar 5,2 inch-nya Zenfone Zoom S memang awalnya terasa kurang nyaman dipakai, karena ukurannya yang terlalu besar sehingga tidak nyaman dioperasikan dengan satu tangan. Selain itu ukurannya yang besar juga membuat saya berpikir dua kali untuk mengeluarkannya ketika sedang berada di tempat umum. Tapi kalau masalah ukuran dan kenyamanan itu kembali lagi ke selera masing-masing.

Tampilan Zenfone Zoom S sebenarnya enak dilihat. Elegan, itu kesan yang didapat ketika melihat sekilas unit yang saya miliki. Namun jika dilihat-lihat lagi kok desain body belakangnya mengingatkan pada iPhone7plus ya?. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan desainnya, hanya saja bodynya terasa cukup licin sehingga rawan terlepas dari genggaman. Untungnya Asus menyertakan Jellycase di dalam box Zoom S. Dengan memakai jellycase masalah body licin sudah tidak terasa, hanya saja kesan elegannya berkurang. Letak tombol back juga diletakan tidak lazim. Biasanya tombol itu diletakan di sebelah kanan, tapi pada Zoom S ada di kiri. Awalnya saya sering salah pencet dan sedikit mengganggu, namun lama lama saya terbiasa menggunakannya dengan tangan kiri. Satu minus dari desain Asus Zenfone Zoom S adalah tidak adanya lampu di tombol navigasi yang berada di bezel sisi bawah layar.

Peforma

Masalah peforma buat saya pribadi sudah cukup memuaskan. Karena pemakaian sehari-hari saya yang sebatas edit foto dan sosial media, semuanya masih lancar-lancar saja. Saya juga coba memainkan Game Marvel Contest of Champions, itupun tidak ada masalah sama sekali. Mungkin saja akan ada orang yang bilang dengan budget yang lebih murah kita sudah bisa mendapatkan spesifikasi mirip Asus Zenfone Zoom S dan saya tidak memungkiri itu. Tapi kembali lagi pada versi ini Asus bukan berlomba-lomba membuat handphone dengan spesifikasi tinggi, tapi Asus mencoba menawarkan user experience yang berbeda pada Zoom S.

Kapasitas baterai besar yang disematkan pada Zoom S benar-benar menjadi nilai tambah yang paling “sesuatu” buat saya. Sebelumnya ketika saya memakai iPhone 5s, Powerbank atau Charger tidak boleh absen ketika saya bepergian. Setelah memakai Zenfone zoom S, Jangankan Powerbank, Charger pun jarang saya bawa. Seharian dimainkan pun ketika saya mau tidur biasanya masih tersisa 20-30%. Selain baterainya yang lama habis, fitur fast charging juga menjadi kelebihannya, untuk mengisi baterai kapasitas 5000MAh-nya sampai penuh hanya dibutuhkan waktu 2 jam 30 menit. Lama habis dan cepat isi, tentunya Lowbatt bukanlah masalah bagi pengguna Zoom S. Pada web resminya Asus mengklaim bahwa baterai zoom s dapan bertahan standby 42hari, 28 jam browsing menggunakan Wi-fi dan 6.4jam untuk merekam video 4k.

Hal yang saya soroti mungkin pada penggunaan OS yang masih pada versi Android 6.0.1 atau Marshmallow, sedangkan kini sudah tersedia OS Android Terbaru versi 7.0 Nougat.

Kamera

Mengklaim bahwa kemampuannya melebihi Iphone 7 dan menggandeng fotografer ternama seperti Darwis Triadi dan Roy Genggam menjadi alasan utama saya membeli Zoom S. Sejauh pemakaian saya, masalah kualitas memang tidak mengecewakan. Malah saya sempat kaget karena ternyata kemampuan mode manual di Zoom S melebihi kemampuan di DSLR saya (Canon Rebel T3 / 1100D), Shutter Speed di rentang 1/16000 – 32s dan ISO pada rentang 50-12800 dan mendukung mode RAW.

Zenfone menyediakan Dual Camera dengan sebuah lensa wide angle 12 megapixel f/1.7 dan lensa 12 megapixel dengan optical zoom 2.3x untuk foto close-up (59mm). Pada lensa wide angle kualitasnya memang tak perlu diragukan, selain fokusnya cepat kemampuan menangkap cahaya di lingkungan gelap juga patut diaungi jempol. Hanya saja saya belum merasakan sesuatu yang special saat menggunakan kamera zoomnya yang terasa hanyalah hasilnya yang tetap bagus behubung zoom yang dilakukannya secara optical dan bukan secara digital, alhasil foto yang didapat masih baik (tapi belum istimewa). Juga lensa zoom pada zoom s berbeda dengan iPhone 7plus yang bisa menghasilkan foto bokeh, foto yang dihasilkan kamera 59mm zoom s masih terasa biasa saja.

Beralih ke Video, kemampuanya cukup andal. Tapi saya rasa pergerakan video di Zoom s ini tak sehalus yang dimiliki Iphone7. Asus Zenfone Zoom S sudah mampu merekam video beresolusi 4K.

Untuk ulasan kamera lebih lengkap dan hasil fotonya akan saya posting di review khusus kamera

Kesimpulan

Asus Zenfone Zoom S

Kemampuan Kamera utamanya memang pantas diacungi jempol. Dengan harga yang hampir setengahnya dari handphone flagship Apple dan Samsung, kemampuan kameranya bisa bersaing ditambah lagi dengan kapasitas baterainya yang besar sangat membantu ketika sedang hunting foto ataupun pada penggunaan sehari-hari. Kekurangan Zoom S buat saya pribadi adalah tidak disertakannya fitur waterproof di HP ini dan ukurannya yang cukup besar. Secara keseluruhan peformanya memuaskan. Bisa jadi kehadiran Asus Zenfone Zoom S membuat kamera saya lebih banyak nongkrong di rumah.

Share This:

Leave a Reply