Movie Review : Under The Shadow (2016)

Teheran, Iran 1988. Studi Kedokteran Shideh baru saja diberhentikan karena aktivitas politiknya ketika ia menjadi mahasiswa. Mendengar keputusan itu Shideh merasa kecewa berat. Di saat yang sama Iraj, suami Shideh yang juga seorang dokter harus pergi karena ia ditugaskan di area konflik. Tinggalah Shideh berdua bersama anaknya, Dorsa. Perang yang berkecamuk membuat keadaan semakin mencekam. Iraj meminta Shideh untuk pergi ke rumah mertuanya, namun Shideh bersikeras untuk tinggal. Ia tidak sadar bahwa terror yang sebenarnya ia hadapi bukanlah karena perang. Ada sesuatu yang mengerikan menunggu mereka di balik bayang-bayang.

Sebenarnya Horror bukanlah genre favorit saya, tapi berhubung saya diajak kakak saya datang ke acara Europe on Screen 2017 di IFI Bandung, saya pun ikut menonton film ini. Awalnya saya bertanya-tanya, sebenarnya film horror macam apa ini? Temponya yang lambat membuat saya bosan. Rasanya film ini lebih pantas untuk disebut film drama dibandingkan film horror. Namun selanjutnya saya benar-benar ditunjukan bahwa Under The Shadow benar-benar film horror. Mencekam rasanya berada di dalam studio dan saya berharap film ini segera selesai karena ingin terlepas dari terror yang ada.

Formula yang digunakan pada film ini sudah biasa digunakan pada film-film horror lainnya. Seorang ibu melindungi anaknya dari godaan setan yang terkutuk bukanlah hal yang baru. Namun Sutradara Babak Anvari dengan cermat menggunakan latar yang tidak lazim. Berlatar di Teheran, Iran pada tahun 1988 ketika perang sedang berkecamuk, membuat nuansa pergulatan mental pada diri tokoh utama semakin menjadi. Selain itu latar tersebut mengandung latar sosial dan politis yang kuat.

Setengah jam pertama pada film murni digunakan Babak Anvari untuk proses pengenalan dan pembangunan karakter. Tempo yang lambat yang awalnya saya anggap membosankan ternyata membuat penonton lebih mendalami tokoh-tokoh yang ada di dalam film. Hal ini juga berfungsi untuk mengurangi pertanyaan “Mengapa?” di akhir film. Pada awal film penonton dibawa memahami kegundahan yang dialami Shideh yang kecewa berat saat dia tidak bisa melanjutkan studinya lalu setelah itu ia sempat berseteru dengan suaminya ditambah lagi kegundahan yang disebabkan keadaan perang yang membuat kondisi tak menentu.

Jika tidak bersabar, mungkin saja penonton sudah menyerah setelah melewati setengah jam pertama. Bagi yang bersabar, saya mengucapkan “Selamat menikmati kemencekaman yang hakiki!”. Teror baru dimulai ketika boneka milik Dorsa hilang. Dengan efek-efek yang sederhana Under The Shadow mampu menghasilkan suasana yang mengerikan. Dengan menyicil sosok menyeramkan tersebut dan tetap menjadikannya misteri bagi para penonton membuat kengerian itu semakin menjadi, bahkan sampai akhir film saya tidak tahu sebenarnya sosok apa yang menggaggu mereka. Sebenarnya setiap kemunculan hantunya sudah dapat saya prediksi, tapi nyatanya saya tetap memilih untuk menutup mata karena saya tidak tahu akan seseram apa kemunculannya.

Hantunya mana ya?

Secara keseluruhan Under The Shadow dieksekusi dengan baik oleh Babak Anvari. Tak hanya keseraman yang diberikan, Anvari turut menghadirkan keadaan sosial politik yang melanda di negeri nenek moyangnya tersebut dengan cermat. Hal tersebut membuat film ini lebih “berisi” dari film-film horror lainnya. Pada bagian horrornya, meneror tanpa sebab dan wujud yang tidak diketahui menjadikan Under The Shadow salah satu film horror yang akan saya rekomendasikan pada orang lain, tapi jujur saja, saya tidak mau menontonnya lagi.

Score : 3,5/5

BACA JUGA : Movie Review : Wonderwoman (2017)

Share This:

Leave a Reply