Catatan Perjalanan : Famtrip ke Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu bersama Disbudpar Jabar (Part 1)

Sudah dari 4 tahun kebelakang sebenarnya saya sangat ingin berkunjung ke Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu di Kabupaten Sukabumi. Awal mulanya saya mendengar tentang daerah Ciletuh saat saya masih cukup aktif di Komunitas Aleut, ketika itu ada tawaran untuk mengikuti Geotrip ke Ciletuh. Baru mendengar penjelasan singkat dan beberapa foto di Ciletuh saja saya sudah kabita buat menjelajahinya, sayangnya ketika itu saya masih sibuk kuliah, jadi saya terpaksa mengurungkan niat untuk mengikutinya. keinginan itu baru terealisasi empat tahun setelahnya ketika saya ditugaskan GenPi Jabar untuk ikut dalam Famtrip yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat.

Jam sepuluh malam saya sudah stand by di Kantor Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Barat. Sebelum keberangkatan memang dijadwalkan untuk melakukan registrasi terlebih dahulu dan sedikit pengantar dari Disparbud. Rombongan Famtrip kali ini diisi oleh teman-teman wartawan dan fotografer dari berbagai media juga para blogger. Sambil menunggu peserta lainnya datang, saya berbincang dengan Bang Aswi, Kang Anas dan Pak Idar. Mereka berbagi pengalaman dan pengetahuannya mengenai pariwisata khususnya untuk destinasi yang akan dikunjungi. Mendengar cerita tentang perjalanan mereka, rasanya seakan-akan saya belum kemana-mana.

Sepertinya saya memiliki kecenderungan untuk mengagumi sesama penjelajah bumi. Pengalaman dan pengetahuan rasanya lebih seksi dibandingkan harta.

Geopark Ciletuh – Palabuhanratu memiliki luas 126.100 Ha, wilayahnya meliputi 74 desa di 8 kecamatan yang dibagi menjadi tiga geoarea yaitu Geoarea Ciletuh, Geoarea Simpenan dan Geoarea Cisolok. Geopark sendiri merupakan sebuah konsep manajemen kawasan berkelanjutan yang menyerasikan keragaman geologi, hayati dan budaya melalui prinsip konservasi dan Rencana Tata Ruang Wilayah yang sudah ada. Geopark tidak sebatas mencakup situs geologi, tapi juga memiliki batas geografis yang jelas serta menyinergikan antara keragaman geologi, hayati dan budaya yang ada di kawasan tersebut. Masyarakat yang tinggal di dalam kawasan diajak berperan serta melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam.

Geoarea Ciletuh memiliki bentang alam berupa dataran tinggi yang berbentuk tapal kuda yang terbuka ke arah Teluk CIletuh. Bentukannya sekilas seperti sebuah panggung theater yang terbuat secara alami. Bentuk Amfitheater ini memiliki diameter lebih dari 15km, sehingga diyakini sebagai bentuk amfiteater alam terbesar di Indonesia. Di bagian tengah amfiteater terdapat sebaran batuan tertua di Jawa Barat yang berupa batuan bancuh dan ofiolit hasil pengendapan dari aktivitas tumbukan antara kerak Samudra dan kerak benua pada Zaman Kapur, lebih dari 65 juta tahun lalu.

Peta Geopark Ciletuh-Palabuhanratu (Sumber : http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org/)

Di saat yang bersamaan dengan Famtrip ini di lain rombongan terdapat rombongan TIM Asesor UNESCO yang sedang mengunjungi Geopark Ciletuh untuk memberikan penilaian apakah Geopark Ciletuh masuk ke dalam daftar UNESCO Global Geopark atau tidak. Di Indonesia sendiri sudah ada 2 Geopark yang telah diakui oleh UNESCO, yaitu Batur UNESCO Global Geopark di Bali dan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark di Jawa Timur. Diharapkan pada tahun 2017, Geopark Ciletuh-Palabuhanratu dapat masuk kedalam UNESCO Global Geopark.

HARI 1

Waktu sudah menunjukan pukul 00.30, rombongan mulai berangkat menuju Geopark Ciletuh. Jalur yang dilalui menuju Ciletuh dari bandung adalah melalui Padalarang – Cianjur – Sukabumi –  Pelabuhan Ratu – Jampang – Geopark Ciletuh. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 8 Jam. Akses jalan menuju Ciletuh cukup baik dan nampaknya akan makin membaik karena sedang dilakukan perluasan jalan dan perbaikan di berbagai titik di sepanjang jalan menuju Ciletuh. Namun kita harus tetap berhati-hati karena jalanan akan didominasi dengan banyak kelokan, tanjakan, dan turunan sehingga perlu konsentrasi lebih. Khususnya ketika memasuki daerah Jampang, kita harus berhati-hati karena terdapat beberapa titik longsoran tanah di bahu jalan, sehingga kendaraan harus mengantri bergantian untuk melewatinya.

Pukul 09.20 Rombongan sampai di Ciemas. Di Ciemas kami bertemu dengan Kang Boyo dan Kang Enel dari PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi) yang selanjutnya menjadi pemandu kami selama perjalanan di Ciletuh. PAPSI adalah sebuah organisasi masyarakat yang bergerak di bidang konservasi dalam rangka melestarikan alam pakidulan khususnya dalam pengembangan Kawasan Geopark.

Tujuan pertama kami adalah Snorkling Spot di Pulau Kunti. Untuk mencapai Snorkeling Spot kami terlebih dahulu menyewa perahu nelayan dari TPI Ciwaru. Sesampainya di TPI Ciwaru kami sempat berbincang-bincang dengan warga yang sedang menjemur ikan teri. Katanya hasil tangkapan dari para nelayan di Ciletuh biasanya didistribusikan ke Sukabumi, Bogor dan Jakarta.

Menjemur hasil tangkapan

Ketika itu nelayan mengeluhkan tangkapannya yang sedang sulit. Kata Kang Enel air laut disana sedang “dingin” jadi hasil tangkapan jadi tidak sebanyak biasanya. Awalnya saya pikir apa alasannya  kalau airnya dingin, para ikan malas keluar rumah dan jadi mager di kasur, ternyata suhu air juga mempengaruhi perilaku ikan. Ikan tidak seperti mamalia yang berdarah panas, tetapi termasuk berdarah dingin, artinya ia tidak dapat mempertahankan suhu tubuh pada kondisi konstan bila suhu terlalu dingin dan panas. Suhu yang terlalu dingin atau terlalu panas akan menyebabkan ikan menjadi tidak aktif karena energi yang ada ia gunakan untuk menyesuaikan diri. Jadi intinya, sebenernya ikan gak mager.

Only dead fish go with the flow.

Salah satu keragaman geologi di Geopark Ciletuh adalah pulau-pulau kecil berbentuk eksotik, diantaranya Pulau Mandra, Pulau Manuk dan Pulau Karang Daeu dan tentunya pulau yang kami tuju, Pulau Kunti.

PULAU KUNTI

Menjelajah di Pulau Kunti

Pulau Kunti berada di ujung barat Gunung Badak, Desa Mandrajaya. Pulau Kunti dapat dicapai dengan perahu selama 10 menit dari Muara Ciletuh atau berjalan kaki kira-kira 25 menit dari Pantai Cikadal. Jika menggunakan perahu, Sepanjang perjalanan kita akan melewati banyak pulau-pulau kecil, antara lain Pulau Mandra, Pulau Manuk dan Pulau Karang Daeu. Selain pulau-pulau tersebut, sepanjang perjalanan dapat dilihat bagan-bagan nelayan yang terbuat dari bambu. Bagan tersebut ditancapkan ke dasar laut

Pada siang hari, tak ada aktivitas di bagan-bagan tersebut. Aktivitas di bagan dimulai ketika gelap tiba. Cara mengoperasikan bagan tancap adalah dengan memanfaatkan sifat ikan yang peka terhadap rangsangan cahaya. Dengan menggunakan cahaya petromaks atau lampu,  ikan akan mendekati tempat tersebut. Ketika ikan-ikan berkumpul cukup banyak jaring pun diangkat.

Bagan Nelayan sekitar Teluk Ciletuh

SNORKELING SPOT PULAU KUNTI

Setelah 10 menit berlayar menggunakan perahu nelayan, akhirnya kami sampai juga Snorkeling Spot Pulau Kunti. Dari atas perahu sudah terlihat dasar laut. Airnya biru dan jernih membuat siapapun orang yang melihatnya, pasti ingin segera menceburkan diri ke dalamnya. Sebenarnya saya juga ingin ikut nyemplung, tapi melihat arus dan sadar diri tak bisa renang saya pun mengurungkan niatan itu. Menurut Kang Ikbal yang nyemplung, Ikan disana cukup banyak dan tidak terlalu dalam, tapi ketika itu jarak pandang terbatas mungkin saja karena ketika itu hari sudah cukup siang.

Snorkeling di Pulau Kunti

Puas ber-snorkeling-ria kami pun menyisi untuk menjelajahi kawasan sekitar Pulau Kunti. Saya sebenarnya sangat penasaran kenapa pulau tersebut dinamakan Pulau Kunti. Tapi ketika itu saya masih menunggu saat yang tepat untuk menanyakan hal itu pada pemandu. Sejenak saya biarkan pertanyaan itu menjadi misteri.

Bersambung ke : Catatan Perjalanan : Famtrip ke Geopark Ciletuh bersama DisParBud Jabar (Part 2)

Misteri di Pulau Kunti

Share This:

Leave a Reply