Catatan Perjalanan : Famtrip ke Geopark Ciletuh bersama Disbudpar Jabar (Part 2)

Lanjutan dari : Catatan Perjalanan : Famtrip ke Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu bersama Disbudpar Jabar (Part 1)

PULAU KUNTI

Setelah puas bersnorkeling ria kami pun menyisi untuk menjelajah Pulau Kunti. Saat berlabuh kami sudah disuguhi Pantai Putih dan hutan yang nampaknya masih terjaga keasriannya. Sebenarnya kawasan ini merupakan kawasan yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam, untuk memasukinya pengunjung perlu mengantongi izin terlebih dahulu.

Awalnya saya sempat terkecoh, ternyata tempat kami berlabuh bukanlah Pulau Kunti. Yang dimaksud Pulau Kunti adalah pulau yang terdapat diujung barat Gunung Badak. Ukuran pulaunya tidak begitu besar dan ketika air laut surut kita dapat mengaksesnya dengan berjalan kaki.

Sekilas suasana di sekitar Pulau Kunti di musim kemarau sekilas mengingatkan saya pada suasana di Nusa Tenggara. Rerumputan yang mengering, pantai pasir putih dan lautan yang berwarna biru bersih akan memanjakan mata kita disana.

Menjelajahi Pulau Kunti

Di sekitar kawasan pulau kunti terdapat sebuah Gua yang terbentuk secara alami. Tidak terlalu dalam, hanya sekitar 4-5 meter saja dalamnya, sedangkan mulut gua memiliki tinggi sekitar 3 Meter dan panjang sekitar 4 Meter. Cukup adem untuk berteduh dari teriknya matahari ketika itu.

Sedang asik ngadem dalam gua, tiba-tiba Kang Enel datang dan mengingatkan kami untuk segera berkumpul dan kembali ke Ciwaru, untuk makan siang. Di perjalanan kembali ke perahu Kang Enel bercerita kalau dulu tidak banyak warga yang berani datang ke sekitar Pulau Kunti. Penyebabnya karena dulu di Pulau Kunti penunggu-penunggunya sering menampakan diri, tapi sekarang ketakutan itu sudah tidak ada lagi. Apalagi sejak mulai banyaknya bagan-bagan nelayan yang didirikan dekat kawasan Pulau Kunti. Malahan sekarang banyak juga warga yang memanfaatkan kawasan ini untuk memancing.

Di perjalanan menuju perahu Kang Enel juga menceritakan sekilas tentang keunikan di Pulau Kunti. Keunikan tersebut adalah batuan yang berada di Pulau Kunti. Jika dilihat dari batuannya Pulau Kunti menjadi salah satu bukti peristuwa geologi penting di Pulau Jawa. Keberagaman batuan mélange di sana menjadi bukti nyata adanya proses pertemuan antara lempeng Samudra dengan lempeng benua atau disebut dengan proses subduksi. Proses subduksi tersebut terjadi pada masa lampau, yaitu diperkirakan berumur Pra-tersier atau Zaman Kapur (55-65juta tahun yang lalu).

Geopark Ciletuh memang menyimpan banyak cerita. Tak hanya manusianya, alamnya pun bercerita banyak tentang masa lalunya. Ada baiknya mencari pemandu yang ahli di bidang geologi bila kita mau menggali lebih dalam tentang keunikan yang ada di Ciletuh yang kaya akan cerita.

PANTAI PALANGPANG

Setelah menjelajah Pulau Kunti perjalanan dilanjutkan ke Pantai Palangpang. Disana kami makan siang dan beristirahat sejenak. Pantai Palangpang terletak di Desa Ciwaru. Pantai ini dapat diakses dengan mobil dari jalan utama desa Ciwaru. Hamparan pantainya yang cukup luas dan panjang, sehingga Pantai Palangpang kerap digunakan sebagai tempat di selenggarakannya kegiatan massal seperti festival budaya hajat laut. Pantai ini juga dipergunakan sebagai tempat pendaratan bagi wisata olahraga paralayang atau paramotor, pelabuhan nelayan dan tempat pelelangan ikan.

Namun air di teluk ini tidak jernih seperti di Pulau Kunti. Seperti asal nama Ciletuh yang berasal dari kata Leuteuk & Kiruh, air di teluk Ciletuh keruh. Hal itu disebabkan karena Teluk Ciletuh merupakan tempat bermuaranya dua sungai, yaitu Cimarinjung dan Ciletuh.

Pantai Palangpang

Perjalanan pun dilanjutkan menuju destinasi selanjutnya, Curug Cimarinjung.

CURUG CIMARINJUNG

Dari kejauhan megahnya Curug Cimarinjung sudah menggoda. Dengan menggunakan jasa Ojeg setempat hanya sekitar 5 menit dari Pantai Palangpang kami sudah tiba di Curug ini. Dan hanya 5 menit berjalan kaki dari tempat parkir, kita sudah disuguhi pemandangan megah dari Curug Cimarinjung.

Curug Cimarinjung, terletak dialiran Sungai Cimarinjung, Desa Ciemas. Curug ini memiliki ketinggian lebih dari 50m. Curug ini dikenal juga dengan nama Curug Goong. Menurut legenda, kawasan Cimarinjung  merupakan sebuah keraton alam ghaib tempat peminjaman peralatan gamelan. Pada acara-acara perayaan masyarakat sering meminjam perlengkapan kesenian tersebut tapi satu persatu hilang karena tidak dikembalikan hingga tinggal tersisa sebuah Goong yang masih tersembunyi di dalam curug tersebut. Dimana di hari-hari tertentu terdengar alunan suara goong.

Aliran Cimarinjung berwarna kecoklatan. Hal tersebut dikarenakan adanya penambangan emas yang dilakukan secara tradisional di hulu sungainya. Sesuai dengan namanya, Ciemas, di sini banyak ditemukan endapan-endapan logam seperti emas.

Ketika berada di Curug Cimarinjung saya bertemu dengan Pak Dadih. Pak Dadih merupakan salah seorang yang menjaga Curug Cimarinjung. Di usianya yang sudah tak lagi muda, ia masih semangat untuk bercerita pada saya mengenai Curug ini. Ia pun sangat berterima kasih pada para pengunjung karena dengan kehadiran pengunjung dan postingan mereka di media sosial mengenai daerah Ciletuh membuat meningkatnya jumlah pengunjung yang datang kesana.

Pak Dadih bercerita tentang Curug Cimarinjung

PUNCAK DARMA

Masih menggunakan Ojeg yang disewa sebelumnya, kami langsung mengejar sunset di Puncak Darma. Jalur menuju Puncak Darma dari Curug Cimarinjung  cukup menguji nyali. Jalannya yang naik turun cukup curam ditambah treknya yang masih batuan membuat jantung menjadi deg-degan saat melewatinya. Tapi jangan khawatir, ketika itu akses ke Puncak Darma sedang dibangun dan diperbaiki sehingga nantinya pengunjung tidak perlu was-was.

Panorama dari Puncak Darma

Dari Puncak Darma, Sunset terasa begitu indah. Cukup banyak spot yang bisa dijadikan tempat menikmati matahari tenggelam di Ciletuh. Selain Puncak Darma, masih ada Panenjoan dan Pantai Palangpang yang tentunya tidak kalah mengagumkan.

Menikmati Sunset di Puncak Darma

Sebelum matahari benar-benar hilang, kami segera turun kembali ke Pantai Palangpang, cukup seram juga kalau harus turun dari Puncak Darma ketika hari sudah gelap. Untungnya saya tidak salah memilih Ojeg, Motor yang saya pilih berukuran cukup besar sehingga tidak begitu menyeramkan (tapi tetap saja membuat lutut bergetar).

Sepulang dari Puncak Darma, rombongan langsung menuju Homestay untuk beristirahat. Saat itu saya satu homestay dengan teman-teman wartawan dari berbagai media Kang Juju, Kang Edi, Kang Ikbal, Kang Ade, dan Kang Nugie. Tak langsung beristirahat, kami berbincang-bincang tentang banyak hal, mulai dari kearifan lokal sunda, Wildlife Photography, dan Pengalaman Hidup sampai larut malam. Terlalu banyak informasi dan pengetahuan yang saya dapat dari mereka, sehingga saya tidak tau harus memulai dari mana. Lagi-lagi saya hanya bisa terkagum-kagum.

Bersambung ke Catatan Perjalanan : Famtrip ke Geopark Ciletuh bersama Disbudpar Jabar (Part 3)

Share This:

Leave a Reply