Catatan Perjalanan : Famtrip ke Geopark Ciletuh bersama Disbudpar Jabar (Part 3)

Lanjutan dari : Catatan Perjalanan : Famtrip ke Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu bersama Disbudpar Jabar (Part 2)

HARI 2

Setelah sarapan, sekitar jam setengah Sembilan rombongan kami kembali berkumpul untuk melanjutkan perjalanan. Masih ada beberapa destinasi lagi yang akan dikunjungi di Geopark Ciletuh. Tujuan pertama adalah menuju ke Curug Awang.

Jarak dari Curug Awang dari Homestay di Ciemas tidak begitu jauh. Untuk menuju Curug Awang kita akan melewati hamparan perkebunan pohon jati dan pohon sawit.yang cukup luas. Jalanannya tidak begitu mulus tapi masih layak untuk dilewati oleh mobil-mobil biasa.

Di Perjalanan menuju Curug Awang, Kang Enel bercerita tentang Kebun Sawit yang kami lewati. Awalnya lahan tersebut merupakan lahan yang dikelola masyarakat, lahan tersebut cukup produktif dan menghidupi masyarakat disana. Hingga suatu ketika lahan tersebut ditawar oleh pihak asing dengan harga yang berlipat-lipat. Karena tergoda dengan keuntungan instan, masyarakat pun melepasnya. Selanjutnya yang terjadi adalah masyarakat yang tadinya menjadi tuan tanah, beralih menjadi pekerja. Otomatis penghasilan dari lahan tersebut hilang dan berubah menjadi hanya sebesar upah harian pekerja perkebunan. Miris rasanya ketika mendengar cerita tersebut.

Tak bermaksud menyalahkan atau menyudutkan siapa-siapa, tapi memang begini realita hidup di Indonesia. Negeri kita memiliki potensi alam yang berlimpah namun sayangnya sumber daya manusianya belum siap untuk mengelolanya dengan baik.

Sekitar 15 menit dari jalan utama, akhirnya kami tiba juga di Parkiran Curug Awang. Sebelum masuk ke dalam kawasan kami teralihkan pada sosok wanita yang sedang merebus sesuatu di dekat gerbang masuk Curug Awang. Fatimah namanya. Setelah ditanya, ternyata ia sedang membuat Gula Kelapa.

BACA JUGA : Photo Journal : Fatimah, Pembuat Gula Kelapa di Curug Awang.

CURUG AWANG

Curug Awang terletak di Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas. Curug ini merupakan aliran dari Sungai Ciletuh dan merupakan Curug pertama dari rangkaian tiga curug. Tidak jauh dari Curug Awang terdapat dua curug lainnya yaitu Curug Tengah dan Curug Puncak Manik. Curug Awang memiliki ketinggian sekitar 40 meter dan lebar sekitar 60 meter. Ketika musim hujan air akan memenuhi seluruh badan tebing dan menjadikan Curug ini sangat besar dari kejauhan. Sedangkan ketika musim kemarau debit air yang berkurang membuat kita bisa berjalan-jalan di atas curug ini. Jika ditanyakan lebih baik datang ketika musim hujan atau kemarau, saya akan jawab bahwa musim hujan ataupun kemarau keduanya memberikan pengalaman yang berbeda dan tak kalah serunya.

“Awang” dalam Bahasa sunda memiliki makna posisi yang tinggi atau angkasa. Mungkin disebut seperti itu karena air jatuh dari tempat yang tinggi bagaikan jatuh dari langit atau mungkin juga perasaan ketika berada di atas curug ini bagaikan berada di awang-awang. Lain cerita bagi saya, buat saya berada di atas Curug ini malah bagaikan berada di lokasi dimana Thorin bertarung dengan Azog di Trilogi The Hobbits Battle of the Five Armies versi tidak bekunya.

Selesai dari Curug Awang kami langsung melanjutkan perjalanan ke Panenjoan dan Museum Geopark Ciletuh.

PANENJOAN

Panenjoan terletak tidak begitu jauh dari Curug Awang. Sesuai dengan namanya “panenjoan”,  tempat ini memang tempat buat nenjo (tenjo=lihat). Dari panenjoan kita dapat melihat bentukan Amphitheater Ciletuh dengan sangat jelas. Amphithater Ciletuh yang berbentuk seperti sebuah panggung teater alami yang memiliki bentangan sekitar 15 km ini diyakini sebagai amphitheater alami terbesar di Indonesia sampai saat ini.

JIka Labuan Bajo memiliki Pulau Padar, Geopark Ciletuh punya Panenjoan. Spot ini saya rasa sangat instagrammable. Dari Panenjoan kita bisa melihat Puncak Darma, Pantai Palangpang, pedesaan dan hamaparan sawah dan lading warga. Semuanya dikemas lengkap disini. Selain titik pandang, di Panenjoan terdapat sebuah Museum yang didalamnya terdapat informasi-informasi mengenai Geopark Ciletuh – Palabuhan Ratu.

Setelah dari Panenjoan, perjalanan dilanjutkan ke Destinasi terakhir, yaitu tempat Rumah Batik Pakidulan Sukabumi.

BATIK PAKIDULAN

Sentra Batik Pakidulan terletak di Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap. Jarak dari Panenjoan ke Rumah Batik Pakidulan sekitar 19Km atau kurang lebih membutuhkan waktu 45menit menggunakan mobil. Batik Pakidulan merupakan batik yang terinspirasi dari keindahan pesona alam pakidulan di Kabupaten Sukabumi. Batik Pakidulan memiliki 3 motif andalan yaitu Motif Curug; Motif Panenjoan dan Motif Jampang Purba.

Di sana saya bertemu langsung dengan Kang Ali, Seniman dan Pencipta Batik Pakidulan. Katanya Batik Pakidulan sudah melanglangbuana menghadiri pameran-pameran nasional maupun internasional. Karyanya pun sudah pernah dipamerkan di Aljazair, Jerman dan berbagai negara lainnya. Batik ini diperkenalkan menjadi salah satu warisan budaya Indonesia kepada dunia.

Dengan kunjungan ke Rumah Batik Pakidulan, selesai sudah perjalanan saya di Geopark Ciletuh. Masih banyak tempat yang belum terjelajahi mungkin butuh seminggu lebih untuk benar-benar menjelajahi Geopark Ciletuh ini. Masih ada rasa penasaran yang belum terjawabkan ketika sampai di Bandung. Mungkin suatu saat saya akan merencanakan trip ke Ciletuh lagi untuk mengeksplorenya lebih lanjut. Ada yang mau ikut?

Share This:

2 Replies to “Catatan Perjalanan : Famtrip ke Geopark Ciletuh bersama Disbudpar Jabar (Part 3)”

  1. Wih keren ada tempat bagus yang belum terlalu ke ekspos ya masdir

    1. adiraoktaroza says: Reply

      bentar lagi daerah itu jadi salah satu destinasi wisata unggulan Jawa Barat ten…

Leave a Reply