Movie Review : Warkop DKI Reborn (Part 2) (2017)

Melanjutkan cerita dari part 1, Dono Kasino dan Indro mencari harta karun di Malaysia agar dapat mengganti kerugian dan biaya pengadilan. Setibanya di Malaysia tas mereka malah tertukar dengan tas seorang wanita berbaju merah. Petualangan mereka di Malaysia pun harus dimulai dari pencarian terhadap wanita berbaju merah.

“yang baju merah jangan sampai lolos!”

Tidak ada hal baru yang ditawarkan di film ini, hanya polesan di beberapa sudut saja yang membuat lelucon-lelucon lama tidak basi. Hal yang membuat saya bertahan di tempat duduk hanyalah rasa penasaran bagaimana mereka mengemas lelucon lama menjadi sesuatu yang fresh. Namun sampai akhir film selesai yang saya dapatkan layaknya makanan dari kulkas, layak konsumsi tapi begitulah.

Nostalgia. Mungkin kesan itu yang ingin dimunculkan di film ini. Menonton film ini layaknya mendengar lagu medley dari satu artis yang nadanya merdu tapi liriknya jadi acak-acakan. Tapi siapa juga yang berharap kerapihan dari film warkop. Dari pengalaman selama menonton Warkop, hanya beberapa film saja yang alur cukup rapih. Sisanya seperti menonton kumpulan sketsa komedi yang dipaksakan bersatu yang akhirnya membuat penonton bingung sendiri dan bertanya-tanya.

“Sebenarnya apa sih yang saya tonton?”

Hal paling menyeramkan bagi saya di film ini adalah ketika Dono, Kasino, dan Indro sedang tidur di hutan dan tiba-tiba saja mereka melakukan Chicken Dance dalam mimpinya.Hal tersebut benar-benar membuat saya mengernyitkan dahi. Absurd tingkat dewa. Untuk apa ada adegan tersebut disana? Seketika kepala saya seperti dihantamkan ke tanah. Disadarkan agar tidak menanggapinya film ini terlalu serius.

Warkop DKI Reborn
Lah… ini apa? kenapa disini? ngapain juga saya disini? saya siapa?

“Ini bukan film bagus yang menghibur, apa yang kamu harapkan di dalam sana?”

Mungkin cara paling tepat untuk menikmati film ini adalah dengan cara “lemesin aja bos”. Pasrahkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa dan yakini saja kalau cerita ini bisa dicerna tanpa harus menganggap bahwa ini semua merupakan sebuah kesatuan.

“ini bukan film bagus yang menghibur, tapi ini film bego yang menghibur. Kalau niatnya cuma buat terhibur, tonton aja… Datang-Tertawa-Pulang. Beres”

Terlepas dari hal-hal mengganggu yang saya sebutkan di atas, bagian favorit saya di film ini adalah ketika mereka masuk ke dalam dimensi film dan bertemu Rhoma Irama dan Suzzana. Twist-twist absurd untuk merekatkan serpihan cerita dari film-film warkop terdahulu juga membuat saya penasaran atas ketidakjelasan film ini.  Secara keseluruhan film ini cukup menghibur tapi belum layak dapat “Kompor Gas”.

Setidaknya kehadiran Warkop DKI Reborn ini membuktikan bahwa Komedi Warkop tak lekang oleh waktu. Akhir kata, untuk menonton film ini kita tak perlu logika, kita cuma perlu tertawa.

“Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang – Warkop DKI”

Score: 2/5

BACA JUGA : Movie Review  Under The Shadow (2016)

Share This:

3 Replies to “Movie Review : Warkop DKI Reborn (Part 2) (2017)”

  1. Wah klo skornya cuma 2/5 artinya ga bagus dong ya? Hahaha

    Saya udah menduga si pasti yg kedua ini ga akan seramai yg pertama. Paling cuman ngelanjutin cerita aja, sisanya ya gitu deh..

    Tapi emg dari part 1 udah ga punya kesan apa-apa di saya sih. Cukup nonton ketawa trus yaudah gitu. Belum punya “nilai” yg bisa diambil klo menurut saya hehe

  2. Kalau menilai dari trailernya sih memang nostalgia yang jadi nilai jual utama ya. Nice post gan wqwq

    1. adiraoktaroza says: Reply

      terimakasih sudah mampir bosqu

Leave a Reply