Catatan Raffles di Gunung Gede

Sebelum Pendakian Pertama saya ke Gunung Gede dan Pangrango, Papa saya bercerita kalau di atas Puncak Gede kita bisa melihat Pantai Utara dan Pantai Selatan di waktu yang sama. Saat itu saya tidak begitu percaya pada ucapan itu. “No Pic, Hoax pap”. Saya pun merasa tertantang untuk membuktikan cerita papa ketika nanti sampai di puncak.

Di Pendakian pertama saya tidak begitu beruntung, ketika sampai puncak cuaca cukup berkabut sehingga saya hanya bisa melihat pantai di sebelah utara saja. Itu pun hanya sebagian saja yang terlihat secara jelas.

Satu tahun setelah pendakian pertama saya, saya mendapat kesempatan lagi untuk menginjakan kaki di Gunung Gede. Di Pendakian ke dua ini saya masih belum beruntung. Ketika sampai di puncak keadaan sangat berkabut. Jangankan laut, pohon yang hanya berjarak 5meter dari tempat saya berdiri pun tidak terlihat. Rombongan pun memutuskan untuk turun dulu ke Alun-alun Suryakencana.

Namun di pendakian ke-2 berhubung jalur kami pulang dan pergi lewat jalur Cibodas, setelah turun ke Alun-alun Suryakencana saya harus kembali lagi ke puncak. Di kesempatan ini saya baru bisa membuktikan apa yang dikatakan Papa bukanlah Hoax. Meski tidak mendapat gambaran yang utuh, tapi saya yakin betul dengan apa yang saya lihat, Pantai Utara dan Pelabuhan Ratu. Sayangnya karena masih cukup saya tidak berhasil mengabadikan foto dari pemandangan itu.

“Kalian boleh bilang no pic, hoax kok…”

Kawah Gunung Gede
Gantinya ini aja ya… “Kawah Gunung Gede”

Terlepas dari pengalaman pribadi tersebut, saya menemukan fakta yang lebih mencengangkan setelah membaca Catatan Raffles di Gunung Gede.

Catatan Raffles

Sejarah mencatat bahwa beberapa minggu sebelum Gunung Tambora menggelegar dahsyat pada April 1815, seorang Inggris telah berjejak di puncak Gunung Gede. Dia bersama para koleganya, tengah mengukur perbedaan suhu di kaki dan puncak gunung tersebut dengan menggunakan termometer.

Lelaki itu adalah Thomas Stamford Raffles (1781-1826), Letnan Gubernur yang bertakhta di Jawa pada periode 1811-16. Raffles dikenal sebagai pahlawan bagi orang Inggris, perwira tangguh, dan pecinta eksotisme timur—namun bagi orang Jawa dia dianggap penjarah.

“Kami memiliki pandangan paling luas di puncak:—ruas-ruas jalan Batavia, dengan berbagai kapal barang, bahkan kita bisa membedakan kapal satu dengan lainnya,” tulis Raffles yang melukiskan pemandangan sisi utara dari puncak Gunung Gede. Lalu, di sisi selatannya dia melukiskan, “Wine Coops Bay [Pelabuhan Ratu] masih tampak jelas di sisi lain.”

Kemudian Raffles melanjutkan, “Sekeliling pulau ini telihat jelas, dan kami bisa menyusuri pandangan ke pesisir paling selatan Sumatra dengan mata telanjang.” Dari puncak gunung itu “di arah timur kita bisa memandang Indra Mayu, dan Bukit Cheribon yang menjulang tinggi.”

Tampaknya Raffles takjub dan kagum dengan bentang alam yang disaksikannya dari puncak Gunung Gede. Dalam surat kepada koleganya itu dia pun berkelakar, “Saya pikir bisa dikatakan bahwa kami memiliki jangkauan hampir semua bagian dari pulau, yang oleh pemerintah sebelumnya tidak disebut Jawa.”

Gunung Gede
Litografi berjudul “De Gunung Gede op Java” yang dibuat berdasarkan lukisan karya Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, seorang dokter dan peneliti alam asal Jerman. Junghuhn pernah mendaki puncak Gunung Gede selama penelitiannya di Jawa pada periode 1839-61. Karya ini dibuat sekitar 1853-54. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons)

Dikutip dari National Geographic Indonesia

Membayangkan apa yang dijelaskan Raffles mengenai pemandangan dari atas Puncak tersebut tentunya membuat imajinasi saya menggila. Kira-kira seindah apakah pemandangan yang dilihat Raffles ketika itu.

Tapi lagi-lagi… No Pic, Hoax Raffles!

BACA JUGA : Catatan Perjalanan, Pendakian Gunung Gede – Pangrango

Share This:

2 Replies to “Catatan Raffles di Gunung Gede”

  1. Ulasan yang bagus, jadi tau sejarah tentang Gunung Gede. 😀

    Visit blog saya juga di Heriand.com 🙂

    1. adiraoktaroza says: Reply

      Terima kasih sudah mampir…

Leave a Reply