Movie Review : Thor Ragnarok (2017)

Dua tahun setelah terjadinya Battle of Sokovia, Thor kali ini harus menghadapi Hela, Sang Dewi Kematian. Sebenarnya Hela merupakan saudara Thor, namun ia tidak pernah mengetahui keberadaannya karena Hela ditahan dan disembunyikan oleh ayahnya, Odin.

Dalam mitologi nordik, Ragnarok diterjemahkan sebagai “Twilight of the Gods”. Mitos tersebut menceritakan tentang penghancuran alam semesta dan umat manusia, sekaligus kematian beberapa tokoh kunci dalam mitologi nordik, seperti dewa Odin, Thor, Loki, Heimdall, Freyr, Sol, dan Tyr. Juga kematian para monster atau jotun, Fenrir dan Jormungandr. Generasi baru para dewa akan menggantikan yang lama, saat siklus dunia dimulai lagi.

Berbanding terbalik dengan makna “Ragnarok” yang sebenarnya, film ini dibalut dengan komedi. Bahkan karena besarnya proprosi lawak di film ini, penonton dibuat lupa kalau Asgard sedang berada di ujung eksistensinya. Dari adegan awal film kita sudah diberi semacam peringatan kecil bahwa film ini tidak akan dibawa terlalu serius ketika Thor berhadapan dengan Surtur.

Komedi dalam Ragnarok menjauhkannya dari kesan kelam.  Proporsi komedi di dalamnya yang berkali-lipat dibandingkan film MCU lainnya ditambah latar yang colorful dan ceria memberikan kesan comic. Menghibur, bahkan terkadang terlalu menghibur sehingga kita teralihkan dari inti ceritanya.

Hulk Thor Ragnarok
Thor Vs Hulk, salah satu adegan yang ditunggu-tunggu. Siapa yang menang?

No Hammer. No Problem

Dari sisi cerita film ini saya rasa masih menggunakan formula yang serupa dengan film-film superhero terdahulu. Intinya pada proses pencarian jati diri seorang superhero. Tak cuma ABG labil yang perlu mencari jati diri, sosok yang digambarkan maha kuat semacam Thor pun perlu melakukannya. Jika kita kembali ke film Thor yang pertama, ia pun melakukan hal itu disana.

Karena hal ini sudah tergambarkan lewat trailer dan tagline film, maka saya rasa ini bukanlah spoiler. Pada Thor Ragnarok, Thor akan kehilangan senjata kesayangannya, Mjolnir. Palu milik Thor itu hancur di tangan Hela dan hal tersebut membuatnya sesaat tidak berdaya. Pada ujungnya hancurnya Mjolnir membawa Thor untuk menemukan jati dirinya.

Thor: She’s too powerful, I have no hammer.

Odin: What are you, the god of hammers?

Pada Thor Ragnarok (2017), Chris Hemsworth memainkan perannya dengan baik. Chemistry-nya dengan Mark Ruffalo berhasil memunculkan momen-momen yang menyenangkan di film ini. Ditambah lagi hubungan benci tapi cinta antar kakak beradik Thor dan Loki yang berhasil dieksplor dengan cukup baik. Tom Hiddlestone yang memerankan Loki begitu meyakinkan sehingga kita tidak tahu kapan ia sedang tulus membantu dan kapan ia sedang mengkhianati Thor. Bahkan untuk memperkuat suasana komedi di dalamnya, Sutradaranya Taika Waititi ikut andil dengan berperan sebagai Korg

Hela, Thor Ragnarok
Maleficent?

Hal yang disayangkan adalah ketika peran Hela yang dimainkan Cate Blanchett menjadi kurang terekspos dan tertutupi penampilan yang lainnya. Kehadirannya yang seharusnya menyeramkan jadi terasa kurang greget. Hela terasa seperti tokoh villain yang single fighter. Ia berhasil membangkitkan para pejuang Asgardian dari kematian. Namun para pejuang Asgardian yang dibangkitkannya begitu tidak berguna dan dengan mudahnya berjatuhan kembali. Tidak menantang. Untungnya kekosongan tokoh villain yang ikonik itu terisi oleh Grandmaster (Jeff Goldblum). Meskipun bukan tokoh villain utama, Jeff Goldblum berhasil menarik perhatian.

Jika kalian merupakan penggemar Marvel Cinematic Universe, tentunya kalian akan ingat adegan post credit Dr.Strange yang berkaitan dengan film ini. Ketika menonton Dr Strange, harapan saya Dr. Strange akan punya peran lebih di film ini, namun nyatanya saya dikecewakan oleh ekspektasi tersebut, kehadiran Dr. Strange tidak begitu penting.

Keterkaitan antar film Marvel antara satu dengan lainnya memang menjadi nilai tambah sekaligus tantangan tersendiri. Di satu sisi hal itu membuat penonton penasaran pada film yang akan diputar selanjutnya, satu sisi lainnya hal tersebut menjadi tantangan bagaimana mereka mengemas hal tersebut. Khusus untuk kali ini, mereka gagal.

Mengenai keterkaitan dengan film lainnya di film ini post credit di film ini sendiri, konon katanya memiliki keterkaitan pada film Avenger: Infinity War (2018).

Pola cerita yang biasa dan absennya sosok penjahat utama yang iconic mungkin akan membuat film ini mudah dilupakan. Namun harus diakui komedi yang terkandung di dalamnya berhasil menghibur penonton selama 130 menit dan bisa dibilang Ragnarok merupakan film Thor terbaik jika dibandingkan dengan film-film terdahulunya.

Score : 7/10

Thor Ragnarok 2017

 

Satu lagi yang perlu diapresiasi : Immigrant Song – Led Zeppelin

BACA JUGA : Movie Review Pengabdi Setan (2017)

Share This:

One Reply to “Movie Review : Thor Ragnarok (2017)”

  1. Setuju dengan rating-nya. Ceritanya dirasa kurang greget, action juga kurang banyak.
    Yang tidak mudah dilupakan hanya Hela. 😀

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.