Movie Review : Sangkuriang (1982)

Sangkuriang merupakan pemuda yang gagah berani. Dengan segala kesaktian yang ia miliki, ia membela kebenaran dengan menentang raja yang menyengsarakan rakyatnya. Namun kisah cintanya tak semulus perjuangannya. Ia begitu dimabuk cinta sehingga ia gelap mata. Ia jatuh cinta pada ibunya sendiri, Dayang Sumbi.

Film ini mengangkat cerita dari legenda Jawa Barat, yaitu tentang asal-usul terjadinya Gunung Tangkuban Parahu. Mungkin untuk orang Sunda atau Jawa Barat, cerita ini sudah sangat familiar di telinga. Lalu bagaimana jika legenda tersebut difilmkan?

Kehadiran Suzanna tak selalu mengenai Horror. Pada film ini Suzanna memerankan sosok Dayang Sumbi. Sedangkan Sangkuriang diperankan oleh artis daun muda Cliff Sangra yang ketika film ini dirilis usianya masih 17 tahun. Setelah beradu peran dengan Suzanna pada film ini, kisah mereka terus berlanjut ke jenjang yang lebih serius meskipun usia mereka terpaut sekitar 23 tahun.

Cliff Sangra & Suzzanna
Cliff Sangra & Suzzanna

Umurnya mereka memang pantas untuk memerankan Ibu-Anak

Semua permasalahan berawal dari torompong Dayang Sumbi yang jatuh. Karena malas mengambilnya, Dayang Sumbi bersumpah: kalau ada yang membantunya mengambilkan torompong tersebut, ia akan menjadikannya saudara jika ia adalah perempuan dan akan mengawininya jika ia adalah seorang lelaki. Ternyata yang mengambilkannya seorang lengser. Alhasil Dayang Sumbi mengandung dari hubungan terlarangnya dengan si Lengser.

Suzzanna Sangkuriang
Ingin nongkrong di Starbuck tapi mager.

Berita kehamilan Dayang Sumbi akhirnya sampai ke ayahnya, Prabu Sungging Purbakara. Mendengar berita tersebut Prabu Sungging Purbakara murka, ia mengusir Dayang Sumbi dan Lengser dari kerajaan. Prabu Sungging Purbakara pun mengutuk Lengser menjadi seekor Anjing yang diberi nama si Tumang.

Anak Dayang Sumbi pun lahir. Dayang Sumbi memberinya nama Jaka Sona. Jaka Sona tumbuh menjadi anak yang sangat menyayangi ibunya. Hingga suatu hari ibunya meminta Jaka Sona untuk mencarikannya Hati Menjangan untuknya.Mendengar permintaan itu Jaka Sona  bersama Tumang langsung berburu menjangan ke hutan. Namun apa yang terjadi, anak panah Jaka Sona meleset dan mengenai si Tumang. Tumang pun mati di tangan anaknya sendiri.

Pulang berburu Jaka Sona langsung menceritakan kejadian tersebut pada ibunya. Ibunya langsung marah besar pada Jaka Sona dan dipukulnya kepala Jaka Sona sampai berdarah. Karena emosinya Dayang Sumbi pun mengusir Jaka Sona dari rumah.

Pergi dari rumah Jaka Sona akhirnya memutuskan berlindung di sebuah gua, disana ia bertemu dengan sosok ghaib yang menawarkan padanya “kekuatan”. Bertahun-tahun di gua tersebut ia belajar dari alam hingga akhirnya ilmu dan kekuatannya sempurna. Ia pun diberikan julukan Sangkuriang. Sangkuriang sendiri mempunyai arti Sangkur Guriang dimana Sangkur memiliki makna wadah. Maka Sangkuriang merupakan tempat bersemayam para guriang (Guru Hyang).

Seusai dari tapanya, Sangkuriang kembali ke masyarakat. Ia menemukan kenyataan bahwa kerajaan tersebut dipimpin oleh raja yang tidak adil. Ia pun berusaha untuk membela kebenaran dan menegakkan keadilan di wilayah tersebut sehingga kehadirannya mengusik sang raja yang tak lain dan tak bukan merupakan kakeknya sendiri. Prabu Sungging Purbakara.

Di saat yang sama ia bertemu dengan Larasati, wanita yang membuatnya langsung jatuh cinta. Sialnya ternyata Larasati adalah Ibunya sendiri yang sedang menyamar untuk menghindari kejaran adipati kerajaan. Larasati pun nampaknya merasakan hal yang sama dengan Sangkuriang. Ia mencintai Sangkuriang, sampai suatu ketika ia menemukan bekas luka yang ada di kepala Sangkuriang dan teringat pada anaknya Jaka Sona.

Ia meyakini bahwa Sangkuriang adalah Jaka Sona. Sedangkan Sangkuriang yang sudah dibutakan asmara tak mau mengakui hal yang dikatakan Dayang Sumbi, ia pun bersikeras untuk melamar Dayang Sumbi. Karena terdesak akhirnya Dayang Sumbi mengiyakan permintaan Dayang Sumbi, dengan syarat Sangkuriang harus membendung Kali Citarum dan membuatkan perahu untuk mereka berlayar di danau tersebut dan hal itu harus sudah selesai pada saat matahari terbit.

Dengan kesaktian yang didapatnya dari hasil bertapa bertahun-tahun di gua, Sangkuriang pun mulai mengerjakan megaproyeknya. Namun apa yang terjadi, ketika sungai sudah terbendung dan perahu yang ia buat sudah setengah jadi, ia didatangi oleh sosok Prabu Sungging Purbakara yang menantangnya bertarung. Karena meladeni Kakeknya bertarung, deadline megaproyek bendungan citarum yang diajukan Dayang Sumbi pun terlewatkan. Ia pun gagal mempersunting Dayang Sumbi.

Tak terima dengan kenyataan yang dialaminya, Sangkuriang tetap memaksa Dayang Sumbi untuk menikahinya. Dayang Sumbi pun memilih untuk sirna selamanya. Seketika Sangkuriang langsung tersadar dengan kesalahan yang selama ini ia perbuat namun hal itu sudah terlambat, karena ibunya sudah tiada.

Gagal dalam megaproyeknya ia menendang perahu yang sudah setengah jadi dan…

Voila… Tangkuban Perahu!

Cerita mengenai Sangkuriang memang punya banyak versi yang berbeda. Bahkan pada taun yang sama rilisnya Sangkuriang, dirilis pula film yang mengangkat tema yang sama berjudul  Tangkuban Perahu (1982). Film Tangkuban Perahu yang disutradarai Lilik Sudjio pun mengambil cerita yang berbeda dari Cerita Sangkuriang (1982). Sisworo sendiri mengemas Sangkuriang (1982) menjadi cerita berbeda. Meskipun pada garis besarnya mengarah pada hal yang sama, film ini sempat menjadi polemik pada masanya.

Bicara tentang akting, Cliff Sangra di film  membuat saya merasa menonton drama teman-teman saya ketika SMA, saya tidak tahu sebenarnya ia sedang marah, sedih atau bahagia. Ekspresinya terlihat sama saja di mata saya.

Selain acting Cliff Sangra, ada beberapa adegan di film ini yang janggal dan mengganggu. Saking mengganggunya mungkin untuk beberapa saat adegan tersebut akan sulit untuk dilupakan. Adegan tersebut adalah ketika Sangkuriang berenang tanpa busana dan ketika Dayang Sumbi bermimpi sedang memadu kasih dengan Sangkuriang di atas awan. Sedangkan satu-satunya bagian terfavorit di film ini adalah ketika Prabu Sumbing Purbakara mengumpat.

Goblok sia mah! – Prabu Sumbing Purbakara

 

Dasar Belegug Silaing! – Prabu Sumbing Purbakara

Seperti biasa Sisworo Gautama Putra menampilkan adegan yang berdarah-darah di filmnya. Ngeri tapi juga terkadang terlihat berlebihan. Mulai dari cipratan darah dari kepala yang tertebas pedang, Usus yang terburai sampai ke kepala yang terpenggal oleh payung pusaka. Bahkan jika kita mau mencoba sedikit realistis, film ini seharusnya berakhir lebih cepat dengan ending yang sama sekali tak terbayangkan oleh penonton sebelumnya. Cobalah lihat adegan ketika Dayang Sumbi memukul kepala anaknya dengan centong karena telah membunuh Tumang, jika melihat pendarahan yang seperti itu sepertinya dalam waktu beberapa menit saja seharusnya Sangkuriang sudah mati kehabisan darah.

bisa ngocor gitu…

Lalu Sangkuriang Mati, lalu tidak pernah ada Gunung Tangkuban Perahu, Tamat.

Fact : Menurut data Perfin, Sangkuriang menjadi Film Terlaris III di Jakarta pada 1983 dengan jumlah penonton mencapai 329.779 orang.

Perlu diakui, mengangkat sebuah legenda ke dalam sebuah film merupakan hal yang sulit, bahkan untuk ukuran masa sekarang. Setidaknya menonton film ini berhasil menunjukan bahwa FTV-FTV yang beredar sekarang, tidak lebih baik dibandingkan film yang sudah beredar 35 tahun lalu. Film ini perlu dapat apresiasi. Meskipun seperti itu, saya tidak merekomendasikan film ini kecuali jika Anda merupakan penggemar berat Suzanna atau film Sisworo Gautama Putra.

Score : 3/10

Cinta untuk Hidup, Hidup untuk Cinta – Sangkuriang

BACA JUGA : Movie Review : Negeri Dongeng (1982)

Share This:

5 Replies to “Movie Review : Sangkuriang (1982)”

  1. legend banget ini mah gan ^^

  2. Wih… Lengkap ya terkait filem2.. Mantap gan..

  3. Weh film lama ini gan 😀 btw agan pencinta film kah?

    1. adiraoktaroza says: Reply

      terima kasih sudah mampir

Leave a Reply