Movie Review : Justice League (2017)

Sepeninggal Superman, Dunia dilanda kegalauan. Batman dan Wonderwoman memutuskan membentuk Justice League dengan cara mengumpulkan para superhero untuk bersiap menghadapi musuh-musuhnya yang lebih kuat. Bersamaan dengan itu tantangan datang datang dari Steppenwolf yang kembali ke bumi untuk menguasai Tiga Motherbox. Dengan tiga motherbox tersebut, Steppenwolf mampu menghadirkan Kiamat bagi umat manusia. Mampukah para superhero menghentikannya?

Setelah Batman vs Superman (2015) yang mengecewakan, cerita berlanjut ke Justice League (2017). Superman is Dead – Superman sudah mati dan dunia merasa kehilangan. Bahkan kehadiran superhero Batman dan Wonderwoman masih belum mampu mengatasi kekacauan yang timbul semenjak Superman tiada. Batman pun memutuskan untuk mengumpulkan para superhero yang ada di bumi untuk bersiap menghadapi tantangan dari musuh-musuhnya yang lebih kuat.

Bersamaan dengan Batman yang sedang mengumpulkan kekuatan, Steppenwolf kembali menginjakan kakinya di bumi untuk menguasai Motherbox, dengan tujuan menghadirkan kiamat bagi umat manusia. Bersama Wonderwoman, Aquaman, Flash, dan Cyborg, Batman membentuk Justice League. Mereka bersatu untuk melawan Steppenwolf. Namun ternyata kekuatan mereka belum sebanding dengan Steppenwolf. Akhirnya mereka mencari cara lain untuk melawannya, salah satunya adalah dengan cara membangkitkan kembali Superman.

Justice League

Akan terasa perbedaan yang jomplang jika Anda menonton Justice League (2017) beberapa saat setelah menonton Thor : Ragnarok (2017). Dari film Superhero yang kebanyakan guyon dilanjutkan ke superhero yang kesannya dark dan cukup serius. DC dan Marvel memang memiliki cara masing-masing dalam mengemas film-film superheronya. Bisa panjang cerita jika membandingkan keduanya

Cerita Justice League (2017) terasa tidak dibangun dengan kuat. Sebenarnya banyak cerita yang bisa digali dari tokoh-tokoh di dalamnya, hanya saja hal tersebut tidak dilakukan. Akan tidak masalah bagi orang yang memiliki pengetahuan yang cukup mengenai DC, namun orang-orang yang tidak begitu mengikuti DC akan dilanda banyak pertanyaan ketika menontonnya. Terlebih dua tokoh superhero di Justice League filmnya belum rilis, Aquaman direncanakan rilis tahun 2018 dan Cyborg di tahun 2020. Mungkin saja ceritanya tidak terlalu diungkapkan di sini untuk menghindari Spoiler.

Dari segi pemeran, lagi-lagi saya tidak tergugah dengan Batman yang dimainkan oleh Ben Affleck. Penampilannya terasa tanggung. Beruntung kekurangan tersebut tertolong dengan peran lainnya. Gal Gadot sebagai Wonderwoman yang kali ini mendapat peran yang lebih banyak jika dibandingkan dengan pada film BvS. Penampilannya tak kalah dengan di Wonderwoman (2017). Juga penampilan Jason Momoa sebagai Aquaman, yang tentunya membuat saya cukup penasaran pada filmnya di 2018. Ditambah Ezra Miller sebagai Flash yang menghibur. Tanpa kehadirannya film Justice League akan menjadi film yang membosankan.

Jika kalian bertanya-tanya apakah Superman akan kembali di film ini, maka jawabannya adalah “YA”. Kehadiran Superman kembali dikarenakan ketidakmampuan superhero lainnya untuk menghadapi Steppenwolf. Rasanya Justice League punya ketergantungan yang cukup besar dengan kehadiran Superman. Kehadiran lima superhero lainnya tidak mampu mengatasi permasalahan yang mereka hadapi.

Ketidakmampuan menghadapi Steppenwolf sangat terlihat. Mereka kalah kuat dan satu satunya harapan adalah Superman. Ketidakmampuan itu terlihat pada masing-masing superhero, khususnya Batman. Ia sepertinya merasa inferior karena jika dibandingkan dengan tokoh superhero lainnya, apa yang dimiliki Batman hanyalah uang.

Barry Allen : What are your superpowers again?

Bruce Wayne : I’m Rich

Tapi dalam kenyataannya ketika Superman telah dibangkitkan pun perannya dalam memenangkan pertarungan dengan Steppenwolf tidak begitu sentral. Biasa saja.

Keserbatanggungan di film ini mungkin saja salah satunya disebabkan oleh mundurnya sutradara, Zack Snyder ditengah jalan karena ia memutuskan untuk fokus terhadap keluarganya setelah putrinya meninggal bunuh diri Maret 2017 yang lalu. Proses produksi pun langsung diambil alih oleh sutradara Joss Whedon yang pernah sukses menukangi film superhero tetangga, The Avenger.

Pengambil alihan tugas membuat beberapa bagian film dirombak dan harus beberapa kali mengambil ulang gambar. Pengambilan ulang tersebut menghadapi beberapa kendala. Salah satu kendalanya adalah Kumis yang dimiliki Henry Cavill. Henry Cavill yang sudah terikat kontrak untuk bermain di Mission Impossible 6 harus menumbuhkan kumis untuk kepentingan Syuting. Akhirnya kumis tersebut harus dihilangkan secara digital dan memakan biaya mencapai 25juta dollar.

Henry Cavill Moustache Superman
Kumis 25 Juta Dollar

Istilah “More is Less” nampaknya berlaku pada Justice League dan film-film DC lainnya. Semakin banyak bintang yang bertebaran di layar kaca, semakin sedikit yang didapatkan oleh penonton. Mungkin jika dibandingkan dengan Batman vs Superman atau Suicide Squad, Justice League akan menempati posisi yang lebih baik. Tapi tidak jika diadukan dengan Wonderwoman, apalagi dengan Trilogi Batman-nya Cristhoper Nolan. Sampai lampu teater kembali menyala, Trilogi Batman masih menjadi Film DC favorit saya.

Skor : 6/10

BACA JUGA : Movie Review Thor Ragnarok (2017)

 

Share This:

2 Replies to “Movie Review : Justice League (2017)”

  1. Saya jadi teringat, kapan ya saya terakhir menonton bioskop? 🤣 btw makasih reviewnya

    1. adiraoktaroza says: Reply

      Hahaha, ayo nonton Mbak Winda!

Leave a Reply