Movie Review : Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)

Poster Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Semenjak ditinggal mati suaminya, Marlina (Marsha Timothy) hidup sendirian. Masalah datang ketika Markus (Egi Fedly) dan gerombolannya datang ke rumahnya. Mereka datang untuk merenggut apa yang dimiliki Marlina. Tak hanya harta, mereka juga menginginkan kehormatan Marlina. Merasa terancam, Marlina pun bertindak.

Ada rasa yang berbeda ketika menonton Marlina, jika dibandingkan film-film Indonesia lainnya rasanya film ini lebih seperti film-film western yang kental dengan nuansa koboi. Tapi kali ini tidak ada juru selamat yang menyelamatkan tokoh utama wanita. Marlina harus menjadi juru selamat untuk dirinya sendiri.

Awalnya setelah saya membaca sinopsisnya saya mengira ini akan menjadi film yang ngeri dan berdarah-darah. Tapi ternyata film ini tak semenegangkan yang terbayangkan sebelumnya. Dengan penuturan ceritanya yang sederhana film ini menyampaikan banyak sekali pesan bermakna.

Ketika menontonnya film ini sekilas mengingatkan pada karya-karya Quentin Tarantino. Corak Western cukup terasa di film ini, namun disertai dengan kearifan lokal Indonesia. Pada review film di Variety mereka mengatakan bahwa ini adalah genre baru yang dipelopori sutradara Mouly Surya, sebut saja Satay Western.

Kisah Marlina dibagi menjadi empat babak; Perampokan, Perjalanan, Pengakuan Dosa, dan Kelahiran

Warning Spoiler!

Babak 1 Perampokan - Marlina si Pembunuh dalam empat babak

PERAMPOKAN – Babak satu dimulai ketika Rumah Marlina didatangi oleh Markus. Kedatangan Markus secara terang-terangan bermaksud untuk mengambil harta yang dimiliki Marlina. Bahkan tak puas dengan itu saja Markus juga mengatakan jika sempat ia dan kawanannya akan meniduri Marlina. Marlina terlihat tak berdaya, namun nyatanya tidak seperti itu. Ia punya cara tersendiri untuk mengatasi permasalahannya.

Marlina bisa saja berteriak minta tolong, tapi apa gunanya? Ia tinggal di atas bukit dimana jauh dari tetangga sekitarnya. Nyawanya akan lebih terancam jika ia melakukan itu. Dengan terpaksa Ia mengikuti permintaan Markus. Namun Marlina sudah bersiap selangkah lebih depan, ketika Markus menyuruhnya menyiapkan makanan, ia menyisipkan racun di dalamnya.

Racun tersebut langsung bereaksi ketika kawanan perampok itu memakan masakan Marlina. Sialnya Markus tak sempat memakan masakan Marlina, ia sudah terlelap lebih dahulu. Ketika teman-teman Markus sudah terkapar, Marlina menawarkan makanan tersebut kepada Markus yang sedang tertidur. Bukannya memakan makanan tersebut, Markus malah memperkosa Marlina. Tapi Marlina tak habis langkah, dengan sebilah parang ia memenggal kepala Markus.

Babak 2 Perjalanan Marlina Si Pembunuh dalam empat babak

PERJALANAN – Babak dua bercerita mengenai perjalanan Marlina menuju kantor polisi dengan membawa kepala Markus. Sosok Marlina yang membawa kepala Markus tentunya menjadi hal yang menyeramkan bagi para penumpang truk lainnya. Uniknya ketika penumpang truk lainnya yang mayoritas laki-laki memilih untuk turun karena kedatangan Marlina, masih ada dua sosok wanita yang tetap berada di truk. Sosok itu adalah Novi, tetangga Marlina yang sedang hamil 10 bulan dan mau menemui suaminya dan seorang ibu yang membawa dua kuda untuk mas kawin salah satu sanak keluarganya.

Perjalanan Marlina menuju kantor polisi tak semulus yang diharapkan. Ia masih dikejar-kejar dua orang kawanan Markus dan juga Marlina merasai selalu diikuti bayang-bayang Markus. Dua orang kawanan Markus yang tersisa hanya meminta agar kepala Markus dikembalikan.

Saat Marlina dalam perjalanan, truk yang dikendarainya dicegat kawanan Markus. Beruntung ia berhasil menyelamatkan diri berkat bantuan tetangganya, Novi yang memberi arahan palsu pada kedua orang tersebut. Marlina pun melanjutkan perjalanannya menuju kantor polisi dengan menunggangi kuda.

Babak 3 Pengakuan Dosa Marlina si Pembnuh dalam empat babak

PENGAKUAN DOSA – Setibanya di Kantor Polisi, Marlina menyempatkan dahulu untuk makan sate di warung dekat Kantor Polisi. Di sana ia bertemu anak perempuan yang bernama Topan. Nama anak perempuan tersebut sama dengan anak laki-lakinya yang meninggal saat masih di kandungan. Marlina merasa ada keterikatan dengan anak itu.

Ketika Marlina sampai di Kantor Polisi, ia masih harus menunggu sampai ia benar-benar dilayani. Ia menunggu karena kepentingan entertain para polisi, bermain tenis meja. Marlina melaporkan kejadian yang baru saja ia alami. Namun yang terjadi bukannya mendapat perlindungan, ia malah ditanya balik kenapa mau diperkosa orang tua. Tak hanya itu, prosedurnya pun panjang dan akan makan waktu karena keterbatasan fasilitas yang ada disana.

KELAHIRAN – Setelah melapor ke Polisi, Marlina terpaksa pulang ke rumahnya karena Novi ditawan kawanan Markus. Marlina kembali untuk mengembalikan kepala Markus. Ketika ia kembali, ia diperlakukan sama seperti sebelumnya, namun kali ini ending-nya berbeda. Babak Kelahiran diakhiri dengan Novi yang akhirnya melahirkan anaknya di rumah Marlina. Kelahiran ini sekaligus menjadi simbolik munculnya awal yang baru bagi Marlina.

Alur ceritanya begitu sederhana, tapi apa yang penonton dapatkan lebih dari itu. Film ini berisi tentang Potret kehidupan di pelosok Indonesia. Di dalamnya diceritakan tentang bagaimana Akses Transportasi dan Pelayanan Publik yang sulit didapatkan warga, bercerita pula tentang budaya dan adat istiadat di Sumba dan tentunya perjuangan wanita Sumba dalam menghadapi hidup.

Marlina, Simbol Perjuangan Wanita Sumba

Sebenarnya tak hanya di Sumba, realita ini terjadi juga hampir pada seluruh wanita dimanapun ia tinggal. Marlina membawa isu yang sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Bagaimana Wanita terkungkung sistem yang membelenggunya, ketika lelaki memegang kuasa atas sistem sosial yang berlaku. Ketika sistem itu sudah memperkosa hak-haknya, maka tak ada kata lain selain berontak. Ketika pemberontakan secara fisik tak memungkinkan, racun menjadi jalan keluarnya.

Lelaki tak selalu digambarkan seorang yang bejat dan keji di film ini. Ada satu-dua tokoh lelaki yang ada di sisi yang sama dengan Marlina, yang satu bertindak kooperatif, satu lainnya sudah mati sejak film di mulai. Bahkan diakhir cerita, kawanan perampok yang meminta Marlina mengembalikan Kepala Markus tak gelap mata. Padahal ia bisa saja menuntut balas atas kematian lima rekannya dengan membunuh Marlina. Tapi itu tidak ia lakukan. Tapi lagi-lagi kebesaran hati itu harus takluk oleh nafsu sekitar perut dan kelamin. Kisahnya pun berakhir tak jauh dengan yang dialami Markus.

Tak hanya wanita yang merasa terbelenggu, Pria pun merasakan hal yang sama. Kami masih terbelenggu oleh ego kami terhadap 4 hal – Harta, Tahta, Wanita, Kuota.

Begitu pula ketika Markus dengan blak-blakanya menyatakan bahwa Marlina akan menjadi wanita yang paling beruntung malam itu, karena ia berkesempatan untuk menikmati ditiduri 7 orang kawanan perampok tersebut. Perkataan yang sangat mengganggu di telinga. Mirisnya pernyataan seperti itu dapat kita temukan juga di kehidupan sehari-hari. Saya pernah membaca berita tentang Pria yang diculik dan diperkosa tiga orang gadis selama tiga hari. Hal yang mengejutkannya adalah ketika membaca kolom komentarnya pada sosial media. Terkesan ketika pemerkosaan itu terjadi, korban menikmatinya dan tak ada komentar simpati terhadap si korban, bahkan banyak dari komentar tersebut menyatakan ingin menggantikan posisi korban.

Pria Diperkosa Tiga Orang Gadis Selama Tiga Hari

Komentar Netizen, Tiga Wanita Perkosa Lelaki

Link Berita : Pria ini Diculik dan diperkosa Tiga Orang Gadis Selama Tiga Hari

Pernyataan mengganggu tersebut berlanjut ketika Marlina melapor pada polisi mengenai perampokan dan pemerkosaan yang baru saja ia alami, polisi tersebut malah balik bertanya kenapa ia mau diperkosa oleh orang tua. Kenyataannya pernyataan yang seakan memojokan para korban itu benar adanya dilayangkan ketika pemeriksaan.

Tito Karnavian Apakah Nyaman Selama Perkosaan

Link Berita: Tito Karnavian: Korban Perkosaan bisa ditanya oleh penyidik “apakah nyaman” selama perkosaan

Bahkan film ini juga menceritakan bagaimana sistem adat pun terkadang menyudutkan para wanita. Novi yang sedang Hamil Tua dituduh suaminya berselingkuh karena ia tak kunjung melahirkan. Suaminya percaya bahwa hal itu disebabkan karena Novi main gila dengan laki-laki lain. Hanya karena mitos yang beredar ia tega menuduh istrinya bahkan sampai melakukan kekerasan.

Sungguh teganya-teganya-teganya-teganya… (Senyum Membawa Luka – Meggy Z)

Secara halus pula film ini mengkritik mengenai kehadiran wanita yang tak diharapkan. Wanita yang tak diharapkan disini bukan berarti Wanita Idaman Lain yang ditakuti para istri seperti pada kasus Jeniffer Dunn yang sedang viral. Wanita yang tak diharapkan ini adalah sosok anak perempuan. Sebenarnya bukan cerita baru tapi sebenarnya masih hangat sampai saat ini. di beberapa kasus kehadiran anak laki-laki lebih diharapkan oleh keluarga. Harapannya agar ada penerus atau alasan-alasan lainnya. Maka hal tersebut digambarkan melalui anak perempuan yang bernama Topan. Namanya seperti laki-laki karena ibunya berharap agar ia tumbuh kuat seperti anak laki-laki.

Dibalik semua itu sosok wanita nyatanya memiliki kekuatan lain, terlihat ketika para laki-laki penumpang truk yang dinaiki Marlina memilih untuk turun karena ketakutan saat melihat Membawa kepala Markus. Sedangkan tetangga Marlina yang sedang hamil 10 bulan dan Sosok ibu yang membawa mas kawin berupa kuda untuk keluarganya yang mau menikah sama sekali tak terganggu dengan itu. Kekuatan itu juga yang membuat Marlina Berani menghabisi nyawa 5 orang perampok di rumahnya. Kekuatan itu lebih kuat dari racun, terpendam di tiap manusia. Kekuatan itu adalah “Nyali”.

Marlina mempersembahkan kritik sosial yang tak menggurui, tapi mengena bagi yang berpikir.

Salah satu kunci kesuksesan film ini dipegang oleh pemeran utamanya. Marlina yang diperankan oleh Marsha Timothy benar-benar tampil hampir tanpa cela. Pendalaman karakter yang katanya memakan waktu berbulan-bulan mungkin menjadi salah satu racikan dalam tokoh Marlina. Lewat dialog yang tak begitu banyak, ia berhasil membuat penonton terhanyut lewat ekspresinya. Untuk perannya sebagai Marlina, Marsha Timothy memenangkan penghargaan aktris pemeran utama terbaik di Sitges Film Festival (2017). Mengalahkan Nicole Kidman yang dinominasikan di kategori yang sama.

Peran-peran yang berada di sekitar Marlina pun terasa saling menguatkan, khususnya pada peran Novi yang diperankan oleh Dea Panendra. Aktris yang juga sempat mengikuti ajang pencarian bakat Indonesia Idol pada 2010 ini berhasil memerankan tokoh Novi yang sedang mengandung meskipun ia sendiri belum pernah merasakan bagaimana rasanya mengandung.

Marlina Si Pembunuh dalam 4 babak

Teknik pengambilan gambar yang apik disertai pemandangan alam Sumba yang eksotik begitu memanjakan mata. Ditambah lagi unsur-unsur budaya yang tak sekedar menjadi sisipan di cerita membuat atmosfer di film ini semakin terasa.

Marlina menjadi film Indonesia pertama dalam 12 tahun terakhir yang berhasil masuk ke salah satu festival film paling bergengsi di dunia yaitu Cannes Film Festival. Selain itu Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) juga mendapatkan penghargaan di berbagai negara seperti Spanyol, Polandia, Filipina, Maroko dan lainnya.

Lewat film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak, Mouly Surya berhasil menyajikan warna baru di perfilman Indonesia. Lewat penuturan ceritanya yang sederhana, begitu banyak pesan yang bisa dicerna. Semua itu menjadikan “Marlina” patut dimasukan jadi salah satu film terbaik Indonesia tahun ini.

Score 8/10

BACA JUGA Movie Review : Justice League (2017)

Share This:

One Reply to “Movie Review : Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)”

  1. Kepengen nonton marlina si pembunuh 4 babak, tapi di kota aku tanjungpinang tidak tayang 😭

    Terimakasih review nya, jadi ada gambaran tentang film nya. keren ulasannya. Sampe bawa gosip terkini, hehe.

Leave a Reply