IBX5ABE23AF6B29E

Movie Review : Coco (2017)

Coco (2017)

Miguel bermimpi untuk menjadi seorang musisi seperti idolanya, Ernesto de La Cruz. Sayangnya hal tersebut ditantang keluarganya yang memiliki tradisi sebagai pembuat sepatu dan memiliki trauma mendalam terhadap musik. Namun Miguel tetap teguh pada pendiriannya. Hingga ketika perayaan Dia de Muertos (Hari Orang Mati), Miguel terjebak di Dunia orang mati karena ia mencoba mencuri gitar Ernesto de La Cruz. Ia bisa kembali ke dunia nyata hanya jika ia mendapat restu keluarganya. Mampukah Miguel kembali ke dunia nyata?

Saya pikir ketika itu pendingin udara di studio terlalu dingin sehingga di penghujung film para penonton seketika terkena Flu. Ternyata itu adalah suara dari mereka yang menahan isak tangis saking terharunya ketika menonton film ini. Ada beberapa film yang paling mengharukan buat saya. Hachiko (2009) menjadi urutan pertama, mungkin Coco ada di beberapa tingkat di bawahnya. Tapi jujur, ketika Miguel menyanyikan lagu Remember Me untuk Neneknya, rasanya mata ini memberontak.

Coco (2017)

Coco sudah masuk daftar tonton saya sejak awal bulan November. Bersama Justice League, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, dan Wage. Ternyata hanya tiga dari empat film yang terealisasikan dan Coco menjadi penutup bulan November.

Awalnya setelah menonton trailernya saya langsung sok tau dengan jalan ceritanya. Saya pikir Miguel yang terjebak di kehidupan orang mati akan menemukan rahasia mengenai siapakah sebenarnya kakek buyutnya dan setelah itu ia akan kembali ke dunia nyata dan menceritakannya pada keluarganya sehingga ia diperbolehkan untuk menjadi musisi.

Tebak-tebakan dan kesok-tauan itu membuat menonton film ini terasa membosankan karena alurnya yang tertebak. Saya jadi penasaran dengan apa yang dikatakan teman-teman saya. Mereka yang sudah menonton, biasanya merekomendasikan film ini dengan alasan yang sejenis, rame dan mengharukan. Bahkan beberapa menambahkan emoticon sedih di akhir pesannya. Saya bingung, sebelah mana mengharukannya?

Bagian mana yang mengharukannya?

Ternyata cerita tak berjalan sesuai kesok tauan saya dan jawaban atas pertanyaan saya langsung terjawab di ¼ akhir film. Selama ini penonton dibuat menabung emosi. Perasaan yang sama seperti ketika menonton Hello Ghost (2010). Setelah dibuat bosan dengan apa yang terjadi di awal cerita, emosi penonton dibuat menuju klimaks di ujung cerita.

Cerita Coco dibangun dari tiga hal utama, Kecintaan Miguel terhadap dunia musik dan idolanya, Ernesto de La Cruz, Keluarganya yang sangat anti akan musik, serta Die De Los Muertos (Hari Orang Mati). Tiga pondasi utama tersebut menjadi padu dengan penambahan tiga unsur didalamnya, Realita, Imajinasi dan Budaya.

Realita

Realita membuat jarak penonton dan film menjadi samar. Kehidupan Miguel akan memberikan keterkaitan emosi pada para penonton. Semua orang punya mimpi dan memperjuangkannya. Perasaan yang dirasa Miguel ketika gagal menggapai mimpi, tentunya pernah dirasakan oleh kita. Apapun alasan kegagalan itu, rasanya takkan jauh berbeda. Sedih, marah, kecewa. Realita tersebut membuat penonton memiliki keterkaitan emosi pada film ini dan menjadikan film ini punya nilai tersendiri untuk para penontonnya.

Imajinasi

Imajinasi dan Realita sebenarnya bukanlah hal yang berbanding terbalik, keduanya berdampingan. Hal tersebut dapat kita lihat dari cara Coco (2017) menggambarkan bagaimana kehidupan setelah kematian. Jika mengangkat mitologi atau kepercayaan yang ada, maka penggambaran akan menjadi rumit. Namun disini dikemas dengan sangat sederhana dan berdampingan dengan realita.

Tak ada hitam dan putih, tidak pula surga dan neraka. Keberadaan konsep tersebut mungkin akan membuat film ini jadi mengerikan.Penggambaran kehidupan setelah mati disini sangatlah sederhana. Kehidupan berlanjut seperti biasa, hanya saja mereka sudah mati. Mereka akan benar-benar hilang ketika ia dilupakan oleh orang terakhir di dunia yang mengingatnya. Untuk memahami logika sederhana tersebut anda tidak perlu membuka referensi kehidupan setelah mati dari komiknya Tatang S.

Pesan Moral : Eksistensi manusia dipertanyakan bukan karena jumlah like pada setiap posting-annya.

Budaya

Setelah Moana yang mengeksplor kebudayaan Polinesia, kini datang Coco dengan Meksikonya. Film ini mengangkat salah satu hari raya di Meksiko, Die De Los Muertos atau Hari Orang Mati. Dia de los Muertos merupakan hari raya di Meksiko untuk mengenang orang yang telah tiada. Keluarga akan memajang foto-foto keluarganya di sebuah ofrenda disertai dengan benda-benda favorit anggota keluarganya yang sudah mati. Di hari itu dipercaya arwah para leluhur akan mendatangi rumah kerabatnya selama mereka masih diingat.

Selain Die de Los Muertos, Coco (2017) juga mengangkat musik tradisional khas meksiko yang menjadi bumbu paling gurih di film ini. Lebih mendetail, kehadiran Dante, Anjing jalanan yang menemani Miguel selama ia berada di Dunia Kematian ternyata merupakan Anjing khas Meksiko, Xoloitzcuintli. Juga Pepita yang terinspirasi dari Alebrijes, patung seni rakyat Meksiko.

Coco (2017)

Secara keseluruhan Coco (2017) memberikan pesan yang kuat  dan menyentuh penontonnya lewat perpaduan Realita, Imajinasi dan Budaya yang ia sajikan. Satu-satunya yang disayangkan dari film ini adalah tayangan “Olaf’s Frozen Adventure” yang diputar diawal dan berdurasi sekitar 20 menit.

Olaf’s Frozen Adventure akhirnya  ditiadakan oleh Disney. Thanks…

Score : 8/10

BACA JUGA : Movie Review : Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)

Share This:

Leave a Reply