IBX5ABE23AF6B29E

Movie Review : Murder on The Orient Express (2017)

Murder on The Orient Express Poster

Setelah berhasil menyelesaikan sebuah kasus di Yerusalem, Hercule Poirot (Kenneth Branagh) terpaksa membatalkan liburannya. Sebuah kasus sudah menunggunya di London. Di perjalanannya menuju London, ia malah harus menghadapi sebuah kasus pembunuhan di kereta yang ia tumpangi. Teka-teki pembunuhan itu menjadi rumit karena dari kesaksian semua penumpang yang ada di gerbong tersebut, semuanya punya kemungkinan menjadi seorang tersangka. Mampukah Hercule Poirot memecahkan teka-teki tersebut.

Film ini diadaptasi dari sebuah Novel Agatha Christie yang memiliki judul yang sama. Novel Murder on the Orient Express (1934) menjadi salah satu karya Agatha Christie yang sering diangkat menjadi sebuah film. Versi terdahulunya dibuat oleh Sidney Lumet pada tahun 1974. Kala itu film tersebut dibintangi bintang kenamaan seperti Albert Finney, Lauren Bacall, Ingrid Bergman, Sean Connery dan lainnya. Line-up versi teranyarnya pun tak kalah mentereng, Kenneth Branagh selaku sutradara merangkap tokoh utama menggandeng nama-nama besar seperti Johnny Depp, Penelope Cruz, Willem Dafoe, Judi Dench, dan Michelle Pfeiffer.

Jujur saja, awalnya saya tertarik menonton film ini karena line up pemeran di film ini. Ditambah lagi ada Johnny Depp di dalamnya. Selama ini saya tak pernah dikecewakan oleh film-film yang diperankan oleh Johnny Depp, meskipun di beberapa filmnya yang bisa dikata kurang bagus tapi setidaknya saya terhibur. Tapi akhirnya saya harus sedikit kecewa karena porsi peran yang dimainkan Johnny Depp tak sebesar gambarnya di poster.

Tak ada perberbedaan mencolok jika dibandingkan dengan versinya yang terdahulu. Hanya kesan Hercule Poirot versi 2017  saja yang terasa lebih berkelas dan jagoan jika dibandingkan Hercule Poirot 1974 yang diperankan oleh Albert Finney. Selain itu kumisnya pun terasa lebih ambil bagian di sini.

Hercule Poirot - Kenneth Branagh
Antara Kumis dan Bulu Hidung Gondrong

Hercule Poirot baru saja menyelesaikan kasus pencurian yang melibatkan tiga pemuka agama di Yerusalem. Sebagai detektif yang diakui di dunia, kemana pun ia pergi, ia selalu dikejar-kejar klien yang memintanya untuk memecahkan kasus-kasus. Kali ini sebuah kasus di London membuatnya harus membatalkan liburannya dan bergegas kesana. Beruntung di Istambul ia mendapatkan satu tempat di Orient Express, untuk selanjutnya menuju Prancis.

Perjalanan menuju Prancis tak menjadi hal yang menyenangkan bagi Hercule Poirot. Di tengah perjalanan kereta harus terhenti karena jalan tertutup longsoran salju. Tak hanya itu, salah satu penumpang kereta ditemukan tewas dalam tidurnya. Sebagai detektif, Poirot diminta untuk memecahkan misteri tersebut dan menemukan siapa pelaku pembunuhan tersebut.

Sepanjang cerita, lampu sorot terus menerus mengarah pada sosok Hercule Poirot. Mungkin Kenneth Branagh bertujuan membentuk tokoh Hercule Poirot menjadi lebih ikonik dan lebih laku di pasaran, seperti Sherlock Holmes dengan Robert Downey Jr. atau Benedict Cumberbatch-nya. Jika memang itu tujuannya, saya rasa itu sudah cukup berhasil.

Sosok Hercule Poirot digambarkan begitu terobsesi pada keseimbangan. Ia mempermasalahkan ketika dua telur untuk sarapannya tidak memiliki ukuran yang sama. Ia juga mempermasalahkan kakinya yang menginjak kotoran di jalanan, ia memilih menginjak kotoran itu sekali lagi dengan kaki lainnya agar semua kembali seimbang. Remeh-remeh cerita tentang Hercule Poirot yang sebelumnya tidak terlalu dipaparkan pada 43 tahun sebelumnya membuat film ini menjadi terasa gurih.

Saya tidak tahu bagaimana cara Agatha Christie menuliskan kasus ini pada satu novel yang pasti cerita Murder on the Orient Express menjadi hal yang menantang ketika dijadikan film. Ada yang terasa kurang dari cara Kenneth Branagh mengadaptasi cerita ini. Kekurangan itu terdapat pada penjelasan apa yang sebelumnya terjadi pada tokoh-tokoh di film ini, apa latar belakang mereka, bagaimana mereka bisa ada di situasi itu. Informasi mengenai hal tersebut memang sengaja disajikan secara minim untuk memaksimalkan kesan misteri dan teka-teki pada film. Kenneth Branagh seperti memaksa penontonnya untuk duduk manis dan menyuruh penonton untuk tunggu saja sampai Hercule Poirot memecahkan teka-teki tersebut. Pada versi 1974, Sidney Lumet pun nampaknya sudah berusaha, namun hasilnya terasa masih belum optimal.

Murder on The Orient Express (2017) hanya terasa seperti versi yang diperbaharui dari versi terdahulunya pada tahun 1974. Tak ada perubahan yang terlalu mencolok di dalamnya kecuali kumis Hercule Poirot yang semakin melebar. Setidaknya Kenneth Branagh sudah berusaha mengemasnya menjadi lebih fresh meskipun rasanya masih seperti masakan yang dimasukan ke kulkas.

Score : 6/10

Baca Juga : Movie Review Coco (2017)

Share This:

3 Replies to “Movie Review : Murder on The Orient Express (2017)”

  1. Bagus juga ya filmnya, wajib nonton nih buat penggemar karya Agatha Christie! ?

  2. semakin dibaxca semakin penasaran sama filmnya, aku penggemar Agatha Christie soalnya ūüôĀ tapi aku udah lama nggak nonton bioskop ūüôĀ

  3. wah coba ditonton nih, ngebandingin novel sama isi filmnya. Agatha Christie nih

Leave a Reply