IBX5ABE23AF6B29E

Saya Menyesal Naik Gunung

Suryakencana Gede Pangrango

“Penyesalan selalu datang di akhir. Kalau yang ada di awal namanya pendaftaran.”

Buat saya sebuah pendakian selalu diawali dengan antusiasme yang tinggi. Tidak jarang pada beberapa kasus pendakian saking antusiasnya saya sampai tidak bisa tidur satu hari sebelum keberangkatan. Kalau kata teman saya “Overexcited”. Rasa antusias itu begitu menggebu seperti masa-masa PDKT pada seseorang yang saya cintai.

Pendakian layaknya Percintaan. Antusiasme menggebu ketika mau memulai pendakian ibarat rasa dag dig dug ketika PDKT. Ditambah pula ada rasa rindu dan bahagia ketika berjumpa. Namun perlu diakui, seperti percintaan, pendakian pun tak selalu indah. Ada kalanya kita merasa marah, kecewa, bahkan menyesal.

Setelah menjalani beberapa pendakian, jawaban saya tetap sama, “Saya Menyesal!”

Bicara tentang penyesalan, saya selalu menemukan itu dibalik sebuah pendakian. Pada pendakian pertama saya ke Gede-Pangrango, momen penyesalan saya muncul ketika rombongan turun dari Suryakencana lewat jalur Gunung Putri. Ketika itu hari sudah gelap, kami mulai bergerak dari Suryakencana dari sekitar jam 6 sore. Entah bagaimana ceritanya setelah berjalan hampir 6 jam lebih berjalan di gelapnya malam, kami tak juga keluar dari kawasan TNGP. Karena ketika itu kondisi tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, kami pun memutuskan untuk bermalam di jalur tersebut, tanpa tenda dan beralaskan dinginnya lantai hutan.

Buat apa naik gunung
Berada di Puncak Mahameru dan gak tau mau ngapain…

Penyesalan kembali muncul di pendakian kedua saya ke Semeru, bahkan penyesalan itu datang lebih awal. Saat itu malam telah tiba dan rombongan sedang berjalan menuju Kalimati. Suhu ketika itu sudah tidak bersahabat dengan badan saya. Meskipun saya terus bergerak, dingin udara di sana membuat tubuh saya menggigil. Motivasi saya satu-satunya ketika itu hanyalah makan malam. Harapannya dengan makan malam, suhu tubuh saya bisa kembali normal. Sialnya sebelum makan malam, saya harus mendirikan tenda terlebih dahulu di tengah dingin yang mulai menusuk ke kulit.

Gunung ketiga saya Gunung Guntur di Garut. Gunung ini pun tak luput dari momen penyesalan. Momen penyesalan di Guntur muncul ketika turun gunung. Saat itu hujan turun dengan lebatnya. Sepatu yang solnya sudah mulai habis dan kaki yang lelah menopang beban membuat saya beberapa kali hampir terkilir. Medan yang curam dan berbatu semakin membuat kaki-kaki lemah saya tak kuasa.

“Menyesal bukan berarti kapok. Tidak kapokan bukan berarti dableg.

“Untuk apa saya di sini?” kurang lebih pertanyaan itu yang saya tanyakan pada diri saya sendiri di saat momen penyesalan itu menghampiri. Bukankah lebih nyaman diam di rumah dimana semua kebutuhan dengan mudahnya bisa terpenuhi. Apapun bisa didapatkan dengan mudah di rumah, mau makan tinggal beli, mau tidur tinggal tidur. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, momen penyesalan itulah yang sebenarnya selalu saya tunggu di setiap pendakian. Momen penyesalan itu tamparan yang nyata. Tamparan yang membangunkan saya dan menyadarkan bahwa selama ini banyak kenikmatan-kenikmatan di sekitar yang luput untuk disyukuri.

Rawon Ranu Pani
Nikmatnya makan pertama seusai turun gunung memang tiada dua.

Setelah melalui momen-momen penyesalan itu, Mie Instan di akhir bulan pun menjadi lebih nikmat daripada biasanya dan niscaya hidup terasa lebih ringan. Bukan karena bebannya berkurang, tapi karena kita yang menjadi pribadi yang lebih kuat.

Jika nanti ada yang tanya saya untuk apa naik gunung, maka akan saya jawab dengan lantang “UNTUK MENYESAL!”

Aku menyesal…

 

 

 

…tidak selalu bersyukur atas nikmat-Mu.

Bandung, 24 Desember 2017

Share This:

8 Replies to “Saya Menyesal Naik Gunung”

  1. Menyesal, berarti tidak banyak bersyukur. Yuk syukuri yang sudah diraih ?

    1. adiraoktaroza says: Reply

      Yup, kurang bersyukur dapat menyebabkan “kurang terasa”nya nikmat yang diberi Tuhan.

  2. Di setiap penyesalan pasti ada kesenangan hahaha

  3. Judulnya bikin kepo haha bener juga emg bikin menyesal ?

  4. Aish….. bisa di bilang menyesal itu iya, tapi di balik kata “aku menyesal” ada kata bersyukur yang terucap.

  5. Kok agak ambigu ya sebenernya. Biasanya kan orang menyesal karena setelah turun gunung, ada sampah yang lupa dibawa turun. Menyesal karena seharusnya tidak membawa serta bunga edelweis tapi sembunyi-sembunyi masih ambil juga, walaupun cuma sebatang. Menyesal karena selalu merokok sepanjang pendakian, lalu puntungnya dibuang sembarangan. Kalau menyesalnya berupa perasaan yang ditimbulkan karena naik gunung itu sendiri? Lebih ke kontemplasi mungkin ya, bukan penyesalan.

    Salam lestari ?

  6. Awww, ane menyesal belum pernah naik gunung…..

    1. adiraoktaroza says: Reply

      Ayo kang naik gunung!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.