“I Am Good Photographer, Better Than You!”

Good Photographer

Pada satu kesempatan, saya mendapatkan tugas untuk menemani dan mengantarkan beberapa wisatawan asing plesiran bisnis di sekitar Bandung. Tugas utama saya mendokumentasikan perjalanan mereka selama di Bandung. Semua berlangsung lancar sampai suatu ketika ada kejadian yang mengusik perasaan saya.

Di satu destinasi seseorang dari rombongan itu memamerkan video yang ia ambil dengan smartphone-nya. Video tersebut merupakan video air terjun yang sedang kami kunjungi dan diambilnya dengan mode rewind. Awalnya reaksi saya mengangguk-angguk saja sambil mengapresiasi kekreatifannya, tiba tiba dia berkata “I am good photographer, better than you!”. Perkataan itu terasa menggelegar di telinga saya, tapi saya tak mau ambil pusing dengan omongannya. Saya memilih untuk diam dan tersenyum kepadanya. Mungkin di budaya mereka ceplas-ceplos seperti itu tidak jadi masalah, mungkin juga keterbatasan bahasa membuat cara penyampaiannya menjadi kurang enak, atau bisa jadi foto-foto saya memang masih jelek. Yang pasti pernyataan tersebut membuat saya berintrospeksi.

Meski awalnya menyakitkan, pernyataan membuat saya berpikir. Kalau dipikir-pikir, buat apa saya sakit hati? Nyatanya saya juga tidak terlalu suka mengecap diri sebagai seorang fotografer. Banyak diluar sana orang-orang yang mengambil foto-foto lebih kece dari saya. Bahkan di blog ini pun saya lebih senang dikenal sebagai storyteller & adventurer.

Pasca peristiwa tersebut, saya menjadi bertanya-tanya kemana sebenarnya ini akan menuju. Dasar keilmuan saya sebenarnya di bidang Akuntansi dan Keuangan, namun nyatanya pekerjaan yang datang ke saya banyaknya pada content creator. Bahkan akhir-akhir ini hampir semua penghasilan saya berasal dari sana. Mengingat terjadinya ketidak sesuaian tersebut, saya berusaha kembali mengenali diri saya.

Masalah fotografi, ketika orang bertanya genre fotografi apa yang saya dalami, nyatanya saya masih bingung bagaimana menjawabnya. Saya suka memoto pemandangan, makanan, bangunan, human interest, dan kehidupan. Rasa-rasanya tak ada bagian khusus yang saya dalami. Bahkan hampir setiap menemukan hal yang unik saya akan mengabadikannya jika ada kesempatan.

Jika disebut landscape photography, saya tidak seniat mereka-mereka yang menunggu momen-momen terbaik, berinvestasi di filter-filter dan mendalami editing. Begitu juga food photography, architecture ataupun streetphotography. Sulit untuk saya mengatakan jenis genre apa yang saya dalami.

Kalau melihat jauh ke belakang, mungkin penyebab awal ketertarikan pada fotografi ada pada keluarga. Keluarga saya punya beberapa album yang berisi foto-foto yang mengabadikan momen. Mulai dari lahir dan masa kanak-kanak, semuanya terangkum dan terabadikan disana. Sebuah foto dapat membangkitkan momen-momen yang bahkan tak lagi saya ingat. Disana awal mula saya kagum dengan dunia fotografi. Tapi ketika itu saya masih kecil dan kamera sama sekali tak terjangkau. Sebenarnya orang tua saya punya sebuah kamera analog, namun saya tidak berani menggunakannya karena “takut”.

Hingga akhirnya kamera menjadi lebih mudah untuk diakses. Berawal melalui kamera HP Sony Ericsson T610 semasa SMP dan berlanjut ke Nokia Express Music 5310 saat SMA. Akan sangat menyenangkan bagi saya jika dapat mendapatkan hasil foto dari kamera-kamera awal saya tersebut Namun apa daya, hanya satu-dua foto saja yang terselamatkan dan masih tersisa. Ketika itu saya memang tidak begitu ngoprek kamera handphone, karena memang belum terlalu ingin mendalaminya.

Swafoto ini diambil menggunakan kamera HP Nokia Xpress Music 5310 sekitar tahun 2008. Banyak yang bilang hasilnya seperti seorang pengguna atau morphinist

Ketika kelas dua SMA saya dihadiahkan sebuah kamera saku oleh ayah saya. Lumix DMC FS42 merupakan kamera pertama saya. Dahulu kamera ini selalu saya bawa kemana-mana. Bersama kamera saku ini saya memulai foto perjalanan saya. Ketika itu tertanamkan dalam diri saya jika sebuah perjalanan itu bukanlah bukanlah mengenai tujuan tapi mengenai apa yang kita temukan sepanjang perjalanan. Saya mulai suka blusukan ke pemukiman padat penduduk, tapi saya berjalan tanpa tujuan yang spesifik. Minimal saat itu sekedar untuk menemukan jalan tembusan baru (belum musim pakai Google Map).

Streetphotography
Hasil Foto Kamera Pertama Saya Yang Masih Tersisa. (diambil sekitar tahun 2009-2011 di sekitar Plesiran menggunakan kamera saku Lumix DMC FS42)

Berjalan kaki ke gang-gang kecil tanpa tahu pasti jalanan itu akan menuju kemana menjadi sensasi tersendiri buat saya. Berkeliling dan berinteraksi tanpa ada yang mengenali – Incognito Mode. Menurut saya cara itu dapat mengaktifkan kembali kepekaan terhadap sesama dan membuat kita kembali tersadar kalau kita adalah makhluk sosial. Mungkin hal itulah yang menjadikan saya kedepannya tertarik juga ke arah streetphotograpy.

Pertemanan masa SMA dengan Agung, Ilham dan Rara membuat saya semakin terjerumus dunia fotografi. Awalnya hanya mereka bertiga yang punya kamera DSLR. Sampai di awal tahun 2012 saya memutuskan mulai memakai DSLR. Dengan uang tabungan yang dikumpulkan ketika itu, saya membeli Canon Rebel T3 yang ketika itu harganya 5 jutaan. Itu pun kena tipu-tipu penjualnya di BEC. Awalnya saya ingin membeli Canon 1100D tapi dengan tipu muslihat dibelokanlah minat saya ke Canon Rebel T3. Sialan.

Saat saya sudah punya DSLR, kami malah jadi jarang bertemu, mungkin karena kesibukan masing-masing di masa kuliah. Alhasil saya jadi lebih banyak jalan-jalan sendiri. Hingga akhirnya ketertarikan dan kecintaan saya terhadap sejarah dan Kota Bandung mempertemukan saya dengan Komunitas Aleut. Komunitas ini juga secara tidak langsung mempengaruhi gaya foto saya. Bersama Aleut, saya mengusahakan setiap foto yang didapat memiliki nilai informasi yang cukup menyeluruh.

Komunitas Aleut
#Ngaleut

Menyenangkan berada di Aleut. Hobi Blusukan, Foto-Foto, dan Kecintaan terhadap Sejarah dan Kota terfasilitasi disana. Namun waktu terus berjalan, kesibukan kampus dan organisasi membuat saya tidak terlalu aktif lagi disana. Kamera pun hanya dipakai untuk hangout bersama teman-teman. Di waktu senggang saya hangout-nya kejauhan, di masa-masa kuliah saya mulai “hangout” ke gunung. Mulai dari Manglayang di timur Bandung hingga Semeru di timur Jawa saya jelajahi. Akhirnya banyak juga foto-foto saya yang menyangkut tentang perjalanan.

Pendakian Semeru
Pendakian Semeru
Pangrango-Gede
Pendakian Gede – Pangrango

Makin sini saya jadi makin sering melancong, entah untuk kepentingan refreshing pribadi atau kerjaan, dana pribadi atau bersponsor. Alhasil makin melimpah juga stok foto tentang beberapa destinasi. Sebagian besarnya berakhir menghiasi feeds Instagram saya dan menjadi konten di blog ini khususnya di bagian Catatan Perjalanan dan Travelogue.

Untuk saya sendiri kehadiran foto dalam setiap perjalanan memiliki fungsi yang penting. Bukan sebagai ajang pamer di sosial media, tapi kehadiran foto dalam perjalanan untuk saya merupakan pengganti catatan perjalanan tertulis (meskipun terkadang tetap perlu juga dilengkapi dengan catatan tertulis). Oleh karena itu di tiap foto-foto harus terkandung informasi yang saya butuhkan.

Seseorang pernah berkata pada saya “Zaman sekarang banyak fotografer yang memproduksi gambar-gambar bagus, tapi sayangnya ia kurang tahu tentang gambar tersebut”.

Daripada menjurus ke salah satu genre saya lebih suka menikmati foto-foto tersebut sebagai visual journal. Seperti fungsi album foto lama yang dahulu keluarga saya taruh di ruangan tamu. Di saat melihatnya maka saya akan mengingat petualangan-petualangan lama saya dan mampu menceritakannya kembali pada orang-orang layaknya seorang pendongeng. Dari situlah mengapa saya mendeskripsikan diri sebagai Storyteller & Adventurer.

Sampai saat ini saya sendiri masih rada geli-geli kalau dicap orang sebagai fotografer.

Share This:

Leave a Reply