IBX5ABE23AF6B29E

Movie Review : Dilan 1990 (2018)

Dilan 1990 - Poster

“Ada beberapa cara dalam menyikapi masa lalu. Salah satu pilihannya adalah melihatnya dengan penuh romantisme atau menganggapnya sebagai sebuah proses. Untuk yang memandang masa lalu dengan penuh romantisme maka bersiaplah hidup dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu, sedangkan untuk yang menganggapnya sebagai proses akan dapat menemukan harapan di masa depannya.”

Entah kenapa jadi teringat dengan perkataan salah satu pemateri pada diskusi yang saya datangi setelah Menonton film “Dilan 1990”. Meskipun sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali antara film Dilan 1990 dengan isi diskusinya, mungkin kutipan di atas merupakan kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Milea.

Dilan 1990 dimulai dengan Milea yang bercerita tentang kisah cinta masa SMA-nya, bercerita tentang Dilan. Penonton pun diajak melihat bagaimana Milea menyikapi masa lalunya. Bocorannya, sampai akhir film kita tidak tahu pasti bagaimana Milea menyikapi Dilan karena sebenarnya (dan seharusnya) masih ada bagian dua dari cerita ini, yaitu Dilan 1991.

Dilan 1990 - Dilan dan Milea
Milea : Enaknya jaman PDKT dulu, kemana-mana kagakusah ngeluarin duit buat Gojek atau Grab

Film ini merupakan adaptasi dari novel karya Pidi Baiq yang berjudul sama. Dilan 1990 hanyalah satu dari tiga buku yang ditulis Pidi Baiq yang menceritakan kisah cinta Dilan dan Milea. Dilan 1990 memang dasarnya bukanlah cerita yang keren, berfaedah atau memotivasi. Ceritanya sekedar membawa pembaca/penonton bernostalgia dengan kisah cintanya di masa SMA. Romantisme masa lalu adalah sajian utamanya.

Awalnya agak ragu untuk menonton film ini karena tidak ada rasa excited saat menonton trailer-nya dan sedikit kurang sreg dengan pemilihan pemeran Dilan dan Milea. Hanya saja karena terlanjur sudah membaca habis novelnya dan kebetulan syutingnya di sekolah saya, SMA 20 Bandung  jadi punya motivasi lebih untuk menontonnya.

Berhubung filmnya hampir mengadaptasi secara mentah-mentah novelnya, menonton Dilan 1990 tak begitu jauh jika dibandingkan dengan membacanya. Hanya saja untuk pembaca novelnya imajinasi tentang Dilan dan Milea mungkin akan dibuat sedikit rusak di film ini. Akting Iqbal dan Vanesha memang tidak begitu buruk, tapi untuk saya pribadi image keduanya tidak sesuai dengan ekspektasi. Iqbal terlalu “baik-baik” untuk menjadi seorang Dilan dan sebaliknya, Vanesha kurang lugu untuk menjadi Milea.

Ketidaksesuaian dengan ekspektasi tersebut nyatanya tidak terlalu membuat kecewa. Vanesha memerankan Milea dengan cukup baik dan Iqbal pun berusaha memerankan Dilan dengan baik. Meskipun di beberapa adegan Iqbal terasa kaku dan terkesan kagok, ternyata banyak juga penonton yang terbawa suasana dengan gombalan-gombalannya. Lagipula jika ditanya siapakah sosok yang pantas untuk memerankan Dilan, saya juga belum bisa menjawabnya dengan pasti. Setidaknya jika dibandingkan dengan artis FTV atau Sinetron, akting Iqbal oke kok.

Mungkin Reza Rahardian…. nanti nama panjang Dilan jadi Reza Rahardilan #Retjeh

Saya berusaha memaklumi Iqbal karena menjadi Dilan adalah sesuatu yang sulit. Tak pernah terbayangkan bagaimana sosok Dilan di kehidupan nyata. Bagi saya Dilan adalah sosok yang utopis. Coba saja bayangkan, Dilan merupakan sosok Bad Boy yang pintar, puitis, dan romantis dengan caranya sendiri (kalau baca novelnya mungkin akan lebih mengerti kenapa saya sebut Dilan itu utopis). Apakah sosok seperti itu nyata? Jikapun memang ada, mungkin hanya ada satu dalam sejuta. Sepertinya sosok yang “Tatoan tapi tak pakai narkoba” terasa lebih real dibandingkan sosok Dilan.

Kalau sedang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua. Yang lainnya ngontrak.

Ada sedikit yang terasa berbeda antara novel dan filmnya. Hal itu adalah berkurangnya porsi tampil orang-orang disekitar Dilan dan Milea. Wati, Pian, Benny, Anhar, Nandan dan tokoh lainnya seakan-akan sedang ngontrak di dunianya Dilan dan Milea. Kurangnya pengenalan tokoh membuat Dilan 1990 terkesan sangat dangkal.

Dilan 1990 - Dilan dan Milea
Dilan : Milea, facebookmu apa? nomormu berapa?

Satu yang jadi poin plus saya di film Dilan 1990. Penggambaran Dilan yang menelepon Milea selalu lewat telepon koin berhasil menghadirkan perasaan lain yang lebih romantis. Pernah terbayangkankah jika Dilan lebih muda beberapa tahun, dia pasti akan telpon-telponan sama Milea di wartel. #gagalromantis

Untuk beberapa penikmat novelnya mungkin tidak menonton filmnya akan menjadi pilihan terbaik untuk menghindari depresiasi imajinasi. Saya pun sedikit kecewa dengan film ini, namun secara keseluruhan cukup menikmatinya.

Skor : 5/10

Quote Dilan 1990

BACA JUGA : Movie Review Murder in The Orient Express (2017)

Share This:

5 Replies to “Movie Review : Dilan 1990 (2018)”

  1. Review nya bagus dan saya sependapat.
    saya mau nambahin di sisi visualisasi dan artistik di film ini.
    – film settingannya di Bandung pada tahun 1990, tapi saya kurang dapat Sundanya, hanya sedikit dialog yg menggunakan bahasa sunda.
    – jalan raya terlalu kelihatan di setting, karna sangat jelas kosong jalan raya tsb.
    – makeup milea dan teman2nya tidak cocok untuk film berlatar tahun 1990.
    – Aktor banyak yang kaku dan tidak sesuai ekspektasi.

  2. sebagai tim #novelDilan, aku tetep nunggu muncul di sctv aja nontonnya. #sikap

  3. […] Movie Review : Dilan 1990 (2018) […]

  4. […] Movie Review : Dilan 1990 (2018) […]

  5. […] BACA JUGA : Movie Review Dilan 1990 (2018) […]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.