Photo Journal : Edelweiss, Perlambang Cinta Abadi

Edelweiss Pangrango

Saking pemulanya saya di pendakian ketika itu, saya tidak tahu bagaimana bentukan tumbuhan edelweiss di alam. Saya baru tahu bentuk nyata tanaman Edelweiss ketika Zahra menunjukannya langsung pada saya di Puncak Pangrango.  Bentuknya memang tak seindah mawar atau anggrek tapi meskipun sudah dipetik bertahun-tahun, kelopak bunganya tidak gugur ataupun layu. Mungkin karena itu bunga ini disebut dengan perlambang cinta abadi.

Selain perlambang Cinta Abadi, Edelweiss sejak lama telah digunakan sebagai perlambang keberanian sehingga digunakan oleh beberapa pasukan militer di Eropa dari sebelum Perang Dunia I. Bunga Edelweiss juga menjadi simbol nasional di beberapa negara eropa seperti Rumania, Austria, Bulgaria, Slovenia dan Swiss. Menurut tradisi lokal, memberikan bunga ini kepada yang tercinta merupakan perlambang janji dan komitmen. Tak kalah keren dengan sejarahnya, nama bunga ini memiliki makna yang luar biasa. Kata Edelweiss berasal dari Bahasa Jerman, “Edelweiß“. Edel berarti Mulia dan weiß artinya putih.

Namun jika kalian iseng Googling mengenai Edelweiss, kalian akan tahu bahwa Edelweiss yang dibicarakan di atas tampilannya berbeda jika dibandingkan dengan Edelweiss yang ada di gunung-gunung Indonesia. Jika dilihat lebih lanjut, kedua bunga ini merupakan dua jenis bunga yang berbeda namun masih satu famili Asteraceae. Edelweiss yang berada di Eropa memiliki nama ilmiah Leontopodium nivale, sedangkan di Indonesia bernama Anaphalis javanica. Selain masih satu famili, kesamaan keduanya adalah sama-sama tumbuh di ketinggian, hal tersebut membuat perlu usaha lebih untuk bertemu dengan mereka.

Nasib berbeda dialami keduanya. Di habitat aslinya setelah dilindungi oleh hukum populasi Leontopodium nivale cenderung berada di keadaan yang lebih aman dibandingkan saudara jauhnya Anaphalis javanica. Status konservasi Anaphalis javanica berada pada  Critically Endangered” a.k.a Kritis. Salah satu penyebabnya tentu saja tangan-tangan jahil pendaki yang ingin membawanya sebagai cindera mata.

Sebenarnya berbagai upaya melindungi Edelweiss telah dilakukan. Di tempat dimana keberadaan Edelweiss dilindungi, pendaki yang kedapatan membawa bunga ini akan mendapatkan sanksi tegas. Salah satu sanksi menyeramkan yang pernah saya dengar adalah mengembalikan bunga tersebut ke tempat semula dengan jalan jongkok, lumayan menyiksa. Meskipun sudah ada sanksi yang macam-macam, masih ada saja pendaki yang coba untuk memetiknya.

Mungkin mereka harus diajarkan mulai dari aturan dasar pendakian, atau mereka harus diangkat jadi duta edelweiss? Entahlah.

Jangan ambil apapun kecuali foto

Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak

jangan membunuh apapun kecuali waktu

Puncak Pangrango, April 2013

PhotoJournal #5 – Pendakian Gunung Pangrango dan Gede

Sumber :

  1. Wikipedia – Leontopodium nivale
  2. IUCNRedlist
  3. Wikipedia – Anaphalis javanica

Share This:

Leave a Reply