IBX5ABE23AF6B29E

Movie Review : Deadpool 2 (2018)

Deadpool 2 Poster

Kalau film Deadpool (2016) menceritakan awal mulanya eksistensi Deadpool di dunia, di film kedua ini Deadpool mengklaim bahwa Deadpool 2 (2018) merupakan film keluarga. Tapi jangan mudah percaya dengan apa yang dikatakan Deadpool, membawa anak-anak ke studio untuk menonton film ini adalah keputusan yang sangat-sangat tidak tepat.

Deadpool 2 sudah dibuat menarik sejak film belum di tayangkan. Teaser, trailer, dan gimmick yang disediakan sudah cukup membuat calon penontonnya terhibur. Salah satu contohnya adalah kolaborasi dengan tokoh superhero lokal, Wiro Sableng dan juga penampilannya dalam video klip soundtrack Deadpool 2 yang berjudul Ashes yang dinyanyikan oleh Celine Dion.

Film ini menceritakan tentang apa yang terjadi mengikuti linimasa film Deadpool terdahulu. Kali ini Wade Wilson alias Deadpool yang diperankan oleh Ryan Reynold sedang menumpas para penjahat dengan caranya tersendiri. Ternyata semua aksinya tersebut kembali turut membawa kekasihnya Vanessa (Morena Baccarin) ke dalam marabahaya. Ia menjadi korban dalam sebuah aksi balas dendam salah satu komplotan penjahat.

Ditinggal seseorang yang paling dicintai membuat Wade merasa terpukul, beberapa kali ia mencoba untuk bunuh diri namun kemampuannya beregenerasi tidak juga membuatnya menemui ajal. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan mutan ABG Russel a.k.a Firefist (Julian Dennison). Pertemuan dengan Russel ini seakan menjadi pertanda bagi Deadpool yang masih dihantui Vanessa di dalam mimpinya. Berbekal dari pesan tersebut, Deadpool berusaha untuk menjaga Russel.

Di saat yang sama, Cable (Josh Brolin) datang dari masa depan. Kedatangannya adalah untuk menghentikan apa yang akan menimpa keluarganya di masa depan. Misinya tersebut membuat Cable harus berhadapan dengan Deadpool. Dalam rangka menjalankan misinya, Deadpool membentuk tim yang berisikan manusia-manusia berkekuatan super yang ia namakan X-Force.

Deadpool 2 X-Force
X-Force

Selain mengatakan bahwa film ini merupakan film keluarga, di awal cerita Deadpool juga mengatakan bahwa ia akan mati di film ini. Awalnya saya tidak mempercayai dengan apa yang dikatakannya, tapi jalan cerita terus mengarahkan perkataan itu menjadi kenyataan. Namun apa mungkin Marvel akan mematikan tokoh yang mulai digemari para penonton layaknya hal yang dilakukan pada setengah Superhero pada Avengers Infinity War? Saya harap tidak.

DP : “You know what we need to do? We need to build a fucking team. We need ’em tough, morally flexible, and young enough so they can carry this franchise 10-12 years.”

Jika dibandingkan dengan film terdahulunya, Deadpool 2 punya kelebihan serta kekurangan. Kelebihannnya ada pada porsi aksi yang lebih banyak. Ditambah lagi dengan munculnya tokoh-tokoh baru ke dalam cerita seperti Cable, Firefist, Domino dan Yukio. Bagian aksi favorit saya salah satunya adalah di saat Domino (Zazie Beetz) beraksi dengan kemampuan yang ia miliki, keberuntungan.

Deadpool : “Luck isn’t a superpower. And it isn’t cinematic!”

Sedangkan kekurangannya ada pada depresiasi rasa dari jokes yang ada di film ini. Mungkin saja itu dikarenakan oleh pengulangan formula jokes yang dibawakan Deadpool. Lagu-lagu lama, referensi film, pop culture dan olok-olokan pada DC Universe atau caranya breaking the 4th wall masih dijadikan andalan dalam meramu tawa penonton. Sejauh ini formula tersebut masih berhasil, hanya saja tak tahu akan bertahan untuk berapa lama. Namun perlu diakui kalau lelucon yang dibawakannya tidak dapat dicerna oleh semua penonton secara maksimal. Perlu pengetahuan mengenai lagu, film dan pop culture yang lebih untuk mendapatkan isi jokes-nya dan menikmatinya secara maksimal.

Secara keseluruhan Deadpool 2 merupakan sajian yang sangat menghibur. Statusnya sebagai R-Rated dan Tokoh Deadpool itu sendiri membuat film ini punya kemampuan mengobrak-abrik segala yang tidak bisa dilakukan di Film Superhero lainnya namun juga menjadikannya sulit untuk dijadikan sajian utama. Deadpool 2 ibarat sebuah selingan yang amat sayang jika ditinggalkan atau bisa juga diibaratkan sajian Afternoon Tea yang dikemas dengan nakal, brutal dan membuat orang menjadi gempar.

Skor: 7/10

BACA JUGA : Movie Review : Avengers Infinity War (2018)

Share This:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.