Movie Review: Buffalo Boys (2018)

Buffalo Boys

Setelah bertahun-tahun dalam pelarian di Amerika, Arana (Tio Pakusadewo) dan dua keponakannya, Suwo (Yoshi Sudarso) dan Jamar (Ario Bayu) kembali ke tanah kelahirannya di Jawa. Mereka kembali dengan membawa satu misi, balas dendam. Singkat cerita, Arana merupakan adik dari Sultan Hamzah. Setelah upayanya dan kakaknya untuk berunding dengan Belanda yang berujung penghianatan, Ia lari ke Amerika bersama kedua keponakannya yang masih bayi. Sedangkan kakaknya, Sultan Hamzah harus mati di tangan Van Trach, Pemimpin Belanda ketika itu.


Kecuali kualitas CGInya, mungkin akan muncul ekspektasi yang cukup tinggi sesaat setelah menonton Trailer Buffalo Boys tersebut. Perlu diakui kalau film ini memiliki teknik pengambilan gambar yang memanjakan mata, juga perintilan make-up, property dan wardrobe yang asik, ditambah dengan adegan aksi yang nampaknya akan menghibur. Hal tersebut memang tersaji sepanjang film dan saya akui saya menikmatinya. Namun ada hal yang tak tertolong sehingga saya harus benar-benar menahan diri untuk tidak keluar terlebih dahulu dari studio.

“Bersiaplah… Pujian saya terhadap film ini hanya terdapat di paragraf di atas saja.”

Perhatian! Paragraf selanjutnya kaya akan Spoiler.

Sejujurnya jika kita mengharapkan film ini menjadi film yang kaya akan referensi sejarah, bersiaplah untuk kecewa, karena film ini minim akan hal tersebut. Terbukti sedari awal film kita sudah diingatkan bahwa film ini merupakan perpaduan antara sejarah dan dongeng. Klaim itu seakan menjadi pembenaran jikalau nantinya di film ini banyak hal yang tidak masuk akala tau melenceng dari sejarah.  Pertanyaan seperti “Mengapa Arana kabur sampai Amerika?”, menjadi tak lagi penting untuk digali, karena kita sudah sepatutnya untuk memakluminya.

“Ya namanya juga dongeng.”

Seakan malas mencari cara lain, pengenalan cerita dimulai dengan Arana yang memaparkan masa lalunya kepada kedua keponakannya, Jamar dan Suwo. Cerita tersebut disertai dengan adegan flashback masa lalu, ke masa di mana segala masalah ini bermula. Pada adegan tersebut kita dapat melihat bagaimana Sultan Hamzah dan Arana berusaha melarikan diri dari kejaran Van Trach setelah mereka dikhianati ketika diajak berunding. Arana berhasil kabur, namun Sultan Hamzah harus meregang nyawa di tangan komplotan Van Trach.

Pada bagian flashback saja sudah banyak hal-hal yang membuat saya mengernyitkan dahi. Pertama, jika bermain dengan logika, Saat berhadapan dengan anak buah Van Trach, Arana tidak mungkin bertarung dengan cara yang ia lakukan di film tersebut. Dalam pertarungan itu Arana tampak melakukan beberapa manuver yang menyebabkan ia berguling-guling beberapa kali di tanah padahal dia sedang menggendong dua bayi di dalam backpack kayunya. Perlu skill atau keberuntungan yang luar biasa untuk berhasil melakukan hal tersebut tanpa melukai kedua bayi di dalamnya.

Buffalo Boys
Untung saja Flashbacknya tidak selama flashback Captain Tsubasa.

Keanehan kedua terjadi saat Sultan Hamzah melepas sampan Arana dan memerintahkan Arana untuk pergi dan menjaga kedua anaknya. Setelah menyampaikan pesan-pesan terakhirnya, Sultan Hamzah langsung mendatangi gerombolan Van Trach. Ia melakukan hal tersebut dengan tujuan untuk memperlambat kejaran mereka sekaligus memberi waktu Arana untuk pergi menjauh. Pada kenyataannya, Arana masih bisa melihat ketika Sultan Hamzah ditembaki oleh gerombolan Van Trach karena ia hanya menaiki sampan di sungai yang tenang tanpa didayung sama sekali. Van Trach pun tak melakukan apa-apa terhadap Arana, padahal kemungkinan Van Trach juga dapat melihat jelas sampan yang dinaiki Arana yang belum jauh berlalu.

“Ya namanya juga dongeng.”

Disini kita juga tidak perlu menanyakan “Kenapa Jamar dan Suwo bersaudara, tapi sama sekali tidak ada mirip-miripnya?”. Pertanyaan itu hanya akan membuang-buang waktumu. Saya sebenarnya berharap kalau ternyata Jamar dan Suwo bukanlah saudara kandung. Buatlah cerita yang menarik tentang mereka berdua sehingga penonton benar-benar peduli dengan kedua tokoh ini. Pada kenyataannya, hingga akhir cerita minim hal yang kita ketahui tentang dua tokoh ini. Sedikit yang kita ketahui tentang kedua tokoh ini. Mungkin penjelasan tentang kedua tokoh tersebut dapat dijelaskan hanya dengan satu-dua kalimat.

Buffalo Boys Jamar dan Suwo
Kami saudara kandung loh… mirip kan?

“Jamar, merupakan sosok kakak yang dapat diandalkan. Ia memiliki fisik yang lebih atletis dan lebih berbulu (?) jika dibandingkan dengan Suwo namun ia takut akan kalajengking. Sedangkan Suwo adalah si bungsu yang seringkali tidak diperhitungkan oleh kakak dan pamannya. Ia juga mudah teralihkan, apalagi jika menyangkut dengan masalah wanita.”

Lanjut ke cerita, sesampainya di Jawa, mereka bertiga langsung melacak keberadaan Van Trach. Di perjalanan, mereka bertemu dengan gerombolan bandit yang dipimpin oleh Fakar (Alex Abbad). Mereka mendapati Fakar sedang merampok Sri (Mika Tambayong) dan Kakeknya. Sebagai tokoh Protagonis, sudah barang tentu mereka menyelamatkannya. Dari beberapa tokoh yang ada di Buffalo Boys, malahan sosok Bandit Fakar yang diperankan oleh Alex Abbad Inilah yang paling menarik perhatian bagi saya. Meskipun hanya sebagai pendukung, tapi penampilannya dirasa cukup berhasil.

Long time no see…

Setelah menyelamatkan Sri dan kakeknya, mereka bertiga diajak untuk bermalam terlebih dahulu di kampung. Disanalah mereka bertemu dengan sosok Sakar sang kepala desa (Donny Damara) dan juga Kiona (Pevita Pearce). Impresi pertama Pevita Pearce di film ini sangatlah menggugah. Dengan menunggangi kerbau, Ia tampil sebagai pendekar yang memiliki skill memanah  yang mumpuni.

Saya mengira sosok Kiona akan menjadi salah satu sosok kunci dari film ini, namun pada kenyataannya Kiona adalah sosok yang paling disia-siakan di sini. Kiona malah menjadi tokoh yang selalu takluk dan terlihat lemah khususnya ketika dihadapkan pada Van Trach. Sempat juga ada percakapan Kiona dengan Suwo yang mengangkat isu gender dimana Kiona merasa ia tidak beruntung dilahirkan sebagai perempuan, karena perempuan ketika itu tidak punya hak untuk ikut menentukan keputusan penting. Saya kira percakapan itu akan menjadi salah satu titik balik Kiona, namun nyatanya sosoknya malah semakin hilang dan tidak punya arah.

Jika saya membahas semua Ke-absurd-an film ini, nampaknya tulisan ini akan menjadi review terpanjang yang pernah saya tulis. Keabsurdan terakhir yang saya rasa wajib dibahas adalah darimana istilah Buffalo Boys berasal. Satu-satunya alasan mereka disebut Buffalo Boys hanyalah karena mereka menunggang kerbau pada adegan ketika mereka menerobos kota untuk menghadapi Van Trach dan anak buahnya. Tanpa pengalaman apapun mengenai menunggang kerbau, mereka langsung memutuskan untuk menungganginya untuk mengejar Van Trach. Melihat hal itu Van Trach langsung menghubungkan mereka dengan cowboy di Amerika sana, hanya saja karena mereka menunggangi Kerbau, makai ia menyebutnya dengan Buffalo Boys.

Mungkin informasi mengenai awal mula istilah cowboy belum sampai ke telinga Van Trach, sehingga logika pikir Van Trach gagal. Hal ini disebabkan Van Trach belum bisa mengakses Google untuk mencari tahu bahwa asal mula istilah cowboy muncul bukan karena mereka menunggangi “Cow”, tetapi dikarenakan mereka merupakan penjaga hewan ternak.

“Ya namanya juga dongeng.”

Kesalahan terbesar dari film ini adalah ketika Penonton tidak dibuat peduli terhadap apa yang terjadi pada tokoh-tokoh di dalamnya. Hal tersebut membuat mood menikmati film ini seperti hanya mengambang di permukaannya. Peran dari tokoh Kiona rasanya kurang dieksploitasi sehingga terasa hanya sebagai tempelan atau pemanis saja. Ditambah lagi pengenalan terhadap para anak buah Van Trach yang sebenarnya masih bisa dimaksimalkan lagi. Selain dari ceritanya, perpindahan dari adegan ke adegan lainnya pun beberapa kali terasa masih kasar

Buffalo Boys
Drost: Gue gak dikenalin?

Memang Buffalo Boys merupakan film panjang pertama yang disutradarai oleh Mike Wiluan. Sebelumnya CEO Infinite Studios ini lebih banyak menempati jabatan produser. Film-film yang diproduserinya pun banyak yang bergenre action, diantaranya Headshot (2016) dan Beyond Skyline (2017). Berhubung ini adalah debut perdananya, sangat memungkinkan kedepannya banyak kejutan yang bisa Mike sajikan di dunia perfilman Indonesia.

Sebenarnya Film yang disutradarai oleh Mike Wiluan ini punya potensi sangat besar jika dikelola dengan baik. Ide filmnya sangat menarik, membawa gaya western ke Indonesia di masa penjajahan. Gimmick yang ada di dalamnya sudah cukup menarik untuk mengajak orang lain untuk menontonnya. Namun pada eksekusinya, terlalu banyak yang disia-siakan di film ini.

Skor 5/10

BACA JUGA: Movie Review : Deadpool (2018)

Share This:

One Reply to “Movie Review: Buffalo Boys (2018)”

  1. Romo Farano says: Reply

    Warrbyasahh….!!

    Van Trach yang Neiderlen sepanjang film berbahasa Enggres… perpisahan Arana dan Hamza yang “begitu saja”di sungai, eh kok sampe bawa-bawa keris & tau-taunya tahu di mana kuburnya Hamza.. Buffalo Boys yang penonton asumsikan menunggang kerbau hanya karena terlihat adanya dua ekor kerbau yang nongkrong, kemudian mereka berdua tersaputkan debu semacam “menunggang” kerbau (yang tak tampak), di akhir keduanya menunggang kuda ala-ala Lucky Luke..

    …namanya juga dongeng.

    Film Indonesia ber-western genre paling sukses ya Marlina Pembunuh Empat Babak 😀

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.