Dari Pesisir Selatan Menuju Desa yang Tenggelam di Jatigede

Rancabuaya ke Jatigede

Fajar menyingsing, warna merahnya seakan memberi kami semangat untuk melanjutkan perjalanan. Ratusan kilometer jarak yang masih harus kami tempuh hari itu. Semua kami jalani tuk menyapa desa yang tenggelam di Jatigede. Dari Pesisir Selatan, kami bergerak.

SEBELUMNYA : Catatan Perjalanan : The World Traveler Meeting 2018, Rancabuaya

Matahari mulai meninggi. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Jatigede, saya menyempatkan berjalan-jalan sejenak di pantai. Ada sesuatu yang menarik tidak jauh dari tempat kami menginap. Dari sana kita bisa melihat lima tegakkan tiang yang cukup tinggi di pinggir pantai. Dulu ketika pertama kali lewat jalur selatan, saya pernah bertanya pada warga sekitar tentang tiang-tiang ini. Ternyata tiang itu merupakan monumen pengingat atas tragedi yang terjadi 18 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2000.

Saat Ombak menampar nampar kami
Ditengah laut yang mencekam
Kutersadar hanya tangan-Mu yang mampu meraih kami

Maafkan ayah bunda, saudara dan teman-teman
Tak sempat terucap selamat tinggal
Kami berlima pasrah
Menatap bumi dengan segala yang kami sayangi
Kuatkan hatimu, belum sempat kami mengamalkan ilmu
Hanya doa senantiasa, kelak kita ketemu
“Ya Allah… Engkau Maha Pengampun”

INNA LILAAHI WA INNA ILAIHI RAAJI’UUN

Rancabuaya, 15 Juli 2000

Dibawah sajak pada prasasti tertuliskan nama lima orang yang menjadi korban keganasan ombak Pantai Selatan. Kabarnya kelimanya merupakan Mahasiswa ITB yang ketika itu sedang berperahu karet di sana. Karena jenazahnya tak kunjung ditemukan, akhirnya keluarga bersepakat untuk membangun monumen tersebut sebagai pengingat.

“Semoga damai bersama kalian di sana…”

Ombak Pantai Selatan Jawa memang ganas, hanya sebagian saja yang bisa direnangi itupun di lokasi yang sangat terbatas. Dulu ketika saya KKN di Garut Selatan para warga selalu mewanti-wanti pada kelompok saya agar tidak bermain air di pantai. Mungkin karena keganasan itu pula, terbentuklah legenda mengenai Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan.

Sebelum matahari terlalu tinggi, kami menyegerakan perjalanan. Sebelumnya kami berpamitan pada Bu Ida, Pak Idar dan kawan-kawan dari Dinas Pariwisata. Disana juga kami berpisah dengan Eka dan Naufal. Pak Idar sepertinya akan melanjutkan perjalanannya ke Pangandaran untuk mengantar beberapa peserta The World Traveler Meeting ke HAU Citumang, Sedangkan Eka dan Naufal melanjutkan perjalanannya ke Tasik menghadiri Festival Tasik.

Perjalanan dari Rancabuaya ke Jatigede kurang lebih diprediksi akan memakan waktu sekitar 6 jam. Kami memilih Jalur Pantai Selatan sampai Pantai Cipatujah dan melanjutkannya ke arah utara ke Kota Tasikmalaya, selanjutnya ke jalur Sumedang via Wado. Untuk saya dan Reffi, mungkin perjalanan ini sedikit bernostalgia tentang masa-masa KKN. Meskipun kami KKN di tempat yang berbeda, tapi jalur ini akan melewati keduanya, Karangwangi di Garut dan Nangelasari di Tasik.

Sebenarnya jika lebih bersantai, banyak objek yang bisa kami datangi di sepanjang jalan. Perkebunan Karet dan Pantai-pantai berpasir putih yang indah beberapa kali terlihat di kanan jalan seakan malu-malu meminta untuk disambangi. Namun karena dikejar waktu, motor pun terus dipacu.

Perkebunan Karet Miramare

Perjalanan dari Cipatujah ke Tasik pemandangannya tak begitu istimewa, tapi lika-likunya sangat menyenangkan untuk bermanuver menggunakan roda dua. Jalanannya pun cukup mulus, tapi karena pantat sudah panas kami harus beberapa kali rehat di pinggir jalan. Memang menggunakan motor trail untuk perjalanan jarak jauh nampaknya bukanlah pilihan yang bijak. Saya sendiri bilang kalau motor ini adalah motor dua jam sekali. Tiap dua jam perjalanan harus istirahat setidaknya sekali. Kalau santai ya bisa ngopi-ngopi dulu di warkop, tapi kalau sedang buru-buru? Siksaan!

Tasik terlewati, Lanjut ke arah Jatigede. Perjalanan ke Jatigede dari arah Tasik bisa diambil melalu Wado. Simpangannya diambil ketika masuk ke Malangbong. Jika ambil kiri kita akan menuju Nagreg ke arah Bandung, sedangkan ambil yang lurus untuk menuju Jatigede.

“Tunjukanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan yang Engkau ridhoi”

Baru pertama kali saya melalui jalur ini. Sepanjang perjalanan mata kan dimanjakan pemandangan sawah, sungai dan juga barisan perbukitan yang berlapis-lapis. Sampai suatu ketika saya melihat bukit yang berbentuk limas. Saya pun berteriak “Piramid, Piramid!”

Teriakan guyon itu pun ditanggapi penumpangku satu-satunya yang sedang bersabar menahan rasa pegal dan lelah di belakang. Memang cara terbaik menahan segala rasa yang menyiksa itu adalah dengan mengalihkannya. Walaupun hanya sementara tapi cukup efektif. Selalu ada saja yang dilakukan, mulai dari obrolan ngalor ngidul, komentar-komentar mengenai perjalanan atau sekedar bersenandung bersama. Sepanjang jalan mulut ini sepertinya tak pernah diam, kecuali ketika momen-momen mengheningkan cipta seperti saat menikmati pemandangan yang ada di depan mata. Tapi serius loh di Jawa Barat katanya ada Piramid!

Tak tersasa Jatigede sudah di depan mata. Desa yang kami tuju sebenarnya sudah pernah tertutup air dari Waduk Jatigede, jadi tidak akan ditemukan jika dicari menggunakan GPS. Karena hal tersebut akhirnya jurus pamungkas pun keluar, kita pakai GPS yang lain, “Gunakan Penduduk Sekitar”.

Setelah mengikuti petunjuk dari penduduk, akhirnya tibalah kami di desa yang tenggelam di Jatigede, tepatnya di Desa Cipaku, Kabupaten Sumedang. Ketika memasuki daerah yang pernah tenggelam ini seakan-akan samar terdengar suara petikan gitar Ebiet G. Ade yang memulai lagu balada Berita Kepada Kawan.

Desa yang Tenggelam di Jatigede

Waduk Jatigede merupakan sebuah waduk yang terletak di Kabupaten Sumedang. Pembangunan waduk ini sebenarnya sudah lama direncanakan, bahkan sejak zaman Hindia Belanda. Pembangunan waduk ini dimulai sejak tahun 2008 dan diresmikan pada tahun 2015. Waduk ini baru beroperasi penuh pada tahun 2017. Waduk Jatigede dibangun membendung aliran Sungai Cimanuk dengan kapasitas tampung 979,5 juta meter kubik air. Hal tersebut membuat Jatigede menjadi waduk terbesar ke dua di Indonesia.

Waduk ini punya fungsi utama sebagai sarana irigasi dan sebagai pemasok listrik melalui pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Waduk Hatigede difungsikan sebagai pusat pengairan untuk 90.000 Hektar lahan pertanian produktif di Kabupaten Cirebon, Indramayu dan Majalengka. Selain itu air dari Waduk Jatigede juga akan dimanfaatkan untuk PLTA berdaya 110 Mega Watt.

Pembangunan megaproyek Waduk Jatigede ternyata meninggalkan permasalahan. Dalam pembangunannya, Desa yang tenggelam di Jatigede mencapai 28 desa.  desa-desa tersebut terletak di Kecamatan Darmaraja, Kecamatan Wado, Kecamatan Jatigede dan Kecamatan Jatinunggal. Penenggelaman tersebut mengakibatkan belasan ribu warga Kabupaten Sumedang terdampak, mulai dari kehilangan tempat tinggal hingga mata pencarian. Penggenangan wilayah tersebut juga menenggelamkan puluhan situs kebudayaan Sunda yang telah ada sejak abad ke-8 hingga zaman Kerajaan Pajajaran.

Perjalanan hari itu bagiku benar-benar tentang rasa. Melihat para warga yang sebelumnya telah meninggalkan kampung halamannya kembali ke kampungnya dan bernostalgia disana membuat hati ini terenyuh. Mereka berjalan melintasi jalanan desa sambil memandang tempat dimana ia pernah tinggal. Kini semua sudah tiada, hanya puing-puing bangunan yang tersisa.

Sungguh mereka adalah pahlawan. Mereka berkorban demi kepentingan bersama. Tak pernah terbayangkan sedikitpun olehku bagaimana perasaan jika kampung halamanku yang ditenggelamkan. Kenangan demi kenangan mereka pun perlahan kan samar.  Harta mungkin bisa digantikan, tapi rasa sampai kapanpun tak ada gantinya.

Desa yang Tenggelam di Jatigede

Desa yang Tenggelam di Jatigede

Desa yang Tenggelam di Jatigede

Desa yang Tenggelam di Jatigede

Hari menuju petang, kami pun menyegerakan pulang. Masih ada beberapa puluh kilometer lagi yang harus kami terjang. Hampir 300km jalanan yang kami libas hari itu. Lelah? Tentu saja. Kapok? Tentu tidak. Hari ini saya belajar banyak, khususnya tentang kehilangan dan pengorbanan. Terima kasih perjalanan.

“Menjadi seorang pejalan bukanlah masalah seberapa jauh jarak yang telah ditempuh, tapi sejauh mana kita dapat mengambil arti dari langkah yang kita jalani.”

 

Share This:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.