The World Traveler Meeting 2018, Rancabuaya

The World Traveler Meeting 2018, Rancabuaya

The World Traveler Meeting, pertama kali mendengar tentang acara itu saya langsung merasa antusias untuk menghadirinya. Kabarnya di sana akan menjadi ajang tempat berkumpulnya para traveler dan adventurer dari berbagai penjuru dunia. Selain bertemu, di World Traveler Meeting mereka akan berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai segala tentang perjalanan. Otomatis saya pun langsung menandai kalender untuk hadir di acara ini.

The World Traveler Meeting diadakan pada tanggal 11-14 Oktober 2018, berlokasi di Pantai Selatan Jawa Barat, tepatnya di sekitar Pantai Rancabuaya. Acara ini dihadiri para petualang dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Australia dan Canada. Diantaranya hadir Jeffrey Polnaja, penjelajah Indonesa yang pernah mengelilingi dunia menggunakan motornya seorang diri dalam perjalanan “Ride for Peace”, Anita Yusof, Robert Thode, Teddy Wicaksono juga dedengkotnya Horizon Unlimited pasangan Grant dan Susan Johnson.

Sayang, mendekati hari H rencana saya hadir sejak awal terpaksa harus diubah karena saya harus mengikuti tes kerja di Jakarta dan Bandung di Kamis dan Sabtunya. Tapi hal tersebut tak jadi halangan untuk tetap menghadiri acara, saya memutuskan berangkat di hari Sabtu setelah mengikuti tes PCPM Bank Indonesia di Bandung.

Saya berangkat bersama sahabat saya, Reffi Sulaeman dengan menggunakan satu motor Kawasaki KLX 150s. Sesuai rencana, sekitar jam 2 siang kami berangkat dari Kota Bandung. Bandung ke Rancabuaya kurang lebih berjarak sekitar 110 kilometer dengan waktu tempuh 2,5 jam sampai 3 jam perjalanan. Jalur ini merupakan jalur yang cukup sering saya lalui. Sejak saya KKN di pesisir selatan Garut, kira-kira saya melalui jalur ini hampir 2 sampai 3 kali tiap tahunnya.

Jalur ini menjadi salah satu jalur favorit saya. Selain karena jalannya yang cenderung mulus, jalur ini juga menawarkan berbagai pemandangan mulai dari Situ Cileunca dan Perkebunan Teh Cukul di Pangalengan hingga hamparan persawahan dan Curug Rahong di Cisewu.

Cuaca ketika itu tampak kurang bersahabat, sepanjang perjalanan matahari tak mau memunculkan sosoknya. Sejauh mata memandang ke langit yang ada hanyalah hamparan awan yang perlahan menjadi pekat, bahkan sekali-kali terasa tetesan air hujan di tubuh. Memasuki Perkebunan Teh Cukul, kabut tebal turun. Jarak pandang menjadi jauh berkurang menjadi hanya sekitar 5-10 meter saja. Sebenarnya saya cenderung menyukai perjalanan seperti ini karena saya jadi terhindar dari terik matahari, tapi di saat yang bersamaan saya harus memelankan laju kendaraan dan lebih berhati-hati. Alhasil waktu tempuh menjadi semakin lama.

Berangkat dari Jam 2 siang, sekitar jam 5 sore kami sudah tiba di Rancabuaya. Sambil menunggu info lebih lanjut mengenai lokasi venue acara dari teman-teman yang sudah lebih dulu berangkat, kami menikmati pemandangan laut dari kejauhan dan juga matahari tenggelam ditemani dengan secangkir kopi hangat. Ketika hari sudah gelap dan informasi mengenai acara sudah cukup didapat, kami meluncur ke venue.

Sesampainya di venue World Traveler Meeting, kami disambut oleh Eka dan Naufal dari GenPI Ciamis yang sudah mengikuti acara ini dari hari Jumat. Ternyata kami sudah melewatkan banyak momen-momen penting. Setibanya disana, dua kambing guling sudah tersedia di meja siap untuk disantap beramai-ramai, waktunya makan malam.

Seusai santap Kambing Guling kami berempat bertemu Pak Idar dan Bu Ida dari Disparbud Jabar di Pantai Rancabuaya. Disana kami berbincang-bincang santai. Bu Ida baru saja tiba dari Ciletuh, Sukabumi menghadiri acara Geopark Ciletuh Festival 2018 selaku Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Pada awalnya saya pun punya keinginan untuk mendatangi kedua event ini sekaligus, namun apa daya keadaan memaksa saya untuk memilih salah satu diantara keduanya.

Pak Idar bercerita tentang beberapa materi yang dibagikan oleh para traveler diantaranya tentang cara mendokumentasikan perjalanan dan tentang bagaimana postur ketika berkendara jarak jauh menggunakan motor. Semua materi yang diberikan di acara sangat menunjang kegiatan bertualang. Katanya orang Indonesia banyak yang berkendara dengan postur yang salah. Hal tersebut membuat badan akan lebih cepat lelah dan pegal, bahkan jika berlangsung lama hal tersebut bisa menimbulkan rasa sakit di badan. Salah satu tipsnya adalah dengan merilekskan pundak agar tidak lelah.

“Bayangkan setelah puluhan tahun naik motor, ternyata cara saya salah” – Pak Idar

Seusai berbicang santai, kami berempat kembali ke venue acara. Beruntung ketika itu saya masih dapat mendengarkan materi yang dibawakan Grant Johnson. Materi yang dibawakannya berjudul Four Easy Steps to Overland Travel. Materi itu menjadi materi terakhir dalam acara World Traveler Meeting.

Malam sudah semakin larut di Rancabuaya, Kami pun tidur di tenda-tenda yang sudah disiapkan di pinggir pantai. Sebelum terlelap saya sempat berbincang dengan Reffi mengenai kemana besok kami kan menuju. Memang misi utama saya dan Reffi berangkat ketika itu hanyalah untuk menghadiri acara itu, namun berhubung acaranya bubar saat hari masih pagi akhirnya kami memperpanjang perjalanan menuju suatu tempat. Opsi pertama yang diajukan saya adalah pulang via Ciletuh, sedangkan opsi keduanya adalah pulang via Sumedang dan mampir dulu ke Jatigede.

Perjalanan melalui pulang via Ciletuh sebenarnya merupakan cita-cita saya. Semua itu karena sejak pertama kali menginjakan kaki ke Pesisir Pantai Selatan Jawa Barat di tahun 2012, saya belum pernah sama sekali menyusuri jalanan dari Cianjur Selatan sampai ke Pelabuhan Ratu. Rasa penasaran dengan medan yang dilewati membuat saya ngebet buat menjajalnya. Sedangkan opsi kedua adalah dengan ambil jalan memutar melalui Cipatujah – Tasik – Jatigede – Sumedang – Bandung. Tujuan utamanya adalah mampir ke Jatigede. Jatigede menjadi tujuan yang menarik bagi kami karena kemarau panjang yang melandanya membuat desa-desa yang tenggelam akibat pembangunan bendungan muncul kembali ke permukaan. Sebelumnya kami pun sudah merencanakan untuk datang ke sana, namun selalu saja ada halangan yang menggagalkannya.

Setelah berdiskusi lebih lanjut akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Jatigede. Jatigede diambil karena jarak dan waktu tempuhnya yang cenderung lebih singkat juga karena sebentar lagi musim hujan. Kalau sudah keburu musim hujan kapan lagi kita bisa melihat desa-desa yang tenggelam itu?

Setelah kesepakatan diputuskan, kami pun istirahat untuk mempersiapkan tenaga perjalanan panjang esok pagi.

BERSAMBUNG ke : Dari Pesisir Selatan Menuju Desa yang Tenggelam di Jatigede

Menginap di Pantai - World Traveler Meeting Rancabuaya

Share This:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.