25, Quarter Life Crisis

Suatu hari ku mendapati sebuah pesan di telepon genggamku. Pesan itu berasal dari seorang teman lama. Di pesan itu ia berpamitan lewat sebuah video singkat. “Titip Bandung yah!, Aku pamit” katanya.

Sebelumnya dia memang pernah bercerita padaku tentang rencananya untuk hidup di negeri orang. Mendengarkan ceritanya saja sepertinya hal itu petualangan besar untuknya atau setidaknya akan menjadi cerita yang luar biasa untuk dikenang. Dia sudah menentukan satu langkah besar dalam hidupnya.

Video yang berdurasi tak sampai dua menit itu usai, tapi rasanya malah seperti ada sesuatu mengganjal di hati. Perasaan itu terus menghantuiku. Bukan perihal perpisahannya. Kuyakini tak ada perpisahan yang pedih kecuali perpisahan yang tercipta karena benci. Ku pastikan masalahnya ada pada diriku sendiri.

Ku sadari perasaan seperti ini tak hanya muncul sekali saja, rasa itu seringkali datang dan pergi. Rasa ini juga yang datang padaku ketika melihat teman-teman lain menikah, berkeluarga, mendapatkan promosi pada pekerjaannya atau pun melanjutkan studinya. Jelas perasaan itu bukan iri apalagi dengki, karena sungguh aku pun turut bahagia ketika mereka melewati masa-masa bahagia itu. Entah apa, tapi yang pasti perasaan itu membuatku lebih banyak berpikir. Alhasil banyak pertanyaan yang muncul dalam benak. Pertanyaan-pertanyaan yang dahulu dapat dijawab dengan lugas dan penuh keyakinan, kini kembali menghantui dan meminta untuk ditinjau kembali.

“It might be a quarter life crisis or just the stirring in my soul” – John Mayer, Why Georgia

Mungkin ini yang dinamakan dengan quarter life crisis. Quarter life crisis  sendiri diartikan sebagai krisis yang dialami di usia dua puluhan yang melibatkan kecemasan mengenai arah dan kualitas hidup seseorang. Ya, seperti apa yang dikatakan John Mayer, melalui fase ini rasanya memang seperti diaduk-aduk.

Kegalauan mengenai arah dan tujuan hidup dan rasa penyesalan karena tak mampu memaksimalkan potensi sering mendatangi. Terkadang kegalauan itu sampai taraf yang cukup mengganggu. Nampaknya hal tersebut tak hanya menyerangku seorang, di lingkaran pertemananku kelihatannya cukup banyak yang merasakan hal yang sama. Meskipun dalam kasus yang berbeda, semuanya tidak jauh dari masalah Pekerjaan, Keuangan dan Hubungan. Sejalan dengan itu, sebuah artikel di Forbes menyatakan 86% Millenial merasa tertekan dalam mencapai targetnya untuk sukses di pekerjaan, keuangan dan hubungan sebelum menginjak usia 30.

Pernah suatu ketika ku berbincang dengan seorang teman semasa kuliah. Saat itu ia sedang melanjutkan studi di luar negeri. Sepengetahuanku dia adalah orang yang kritis dan cerdas, cara pikirnya pun logis dan cukup taktis. Ternyata sunyinya kota tempat ia menuntut ilmu membuat ia merenung dan mulai mempertanyakan arah hidup.

Dilanda permasalahan yang sama, kami pun bertukar cerita. Dia bilang ketika melihat perkembangan teman-temannya, ia merasa diam di tempat. Padahal menurutku memutuskan melanjutkan studi itu sudah sebuah batu loncatan dalam kehidupan, ditambah lagi ia melanjutkan studinya di luar negeri yang pasti memberikan pengalaman yang luar biasa. Dia pun mengatakan kalau apa yang selama ini ku perjuangkan terasa perkembangannya, padahal aku sendiri merasa belum kemana-mana. Memang rumput tetangga akan terlihat lebih hijau katanya.

Dari percakapan itu aku pun mengambil kesimpulan, kami terlalu mencemaskan banyak hal. Mungkin tak hanya kami berdua, tapi juga kalian di luar sana. Padahal hal-hal tersebut belum pasti akan terjadi dan masih bisa diperjuangkan.

“Don’t worry about a thing, cause every little thing gonna be all right.” – Bob Marley, Three Little Birds

Keresahan dan kegalauan sesungguhnya bukanlah hal yang harus selalu dihindari. Ibarat game, keresahan dan kegalauan harus dihadapi untuk mencapai level berikutnya. Mungkin saja fase ini hanyalah salah satu stage yang harus kita dilewati.

Penting rasanya untuk mengambil rehat sejenak untuk memikirkan langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya. Introspeksi dan mengevaluasi apa yang selama ini telah kita lakukan untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Apakah ada cara yang lebih baik atau mungkin saja selama ini kita melakukannya dengan cara yang salah. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk kita merevisi tujuan besar kita. Hal terakhir yang penting untuk selalu diingat setelahnya adalah “Jangan lupa untuk terus bergerak”, terlalu lama berada dalam keresahan dapat menjebakmu ke lubang kegalauan yang lebih dalam.

Sebuah Quote dari satu novel remaja yang pernah saya baca semasa SMA nampaknya sangat mengena di masa-masa ini.

“Kemudian yang kamu perlukan hanyalah kaki yang akan melangkah lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, mata yang akan melihat lebih lama, leher yang akan lebih sering mendongak, tekad yang setebal baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras serta mulut yang selalu berdoa.” ― Donny Dhirgantoro, 5 cm

Akhir kata, Wish Me Luck!

BACA JUGA : I Am Good Photographer, Better Than You

Share This:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.