Movie Review : Casablanca (1942)

Casablanca Poster

Rick adalah pria yang paling menyedihkan yang pernah ku temui. Sulit untuk menemukan bahagia yang tersisa di raut wajahnya. Tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang telah dilaluinya hingga membuatnya begini. Kini di tengah hiruk pikuk Casablanca, ia duduk sendiri, melawan dirinya sendiri.

“Jatuh cinta di masa peperangan adalah kesialan dan patah hati di masa perang adalah puncak dari kesialan.”

Masa lalunya perlahan terkuak ketika sosok dari masa lalunya datang kembali di hadapannya. Membawa segala yang ia anggap telah usai kembali ke hadapannya. Nyatanya, tak ada yang benar-benar berakhir di antara mereka.

Pertemuan kembali dari dua insan yang pernah saling mencintai ini merupakan salah satu plot yang membangun film Casablanca (1942). Dasar konfliknya memang terdengar sederhana, namun apa yang ada disekelilingnya membuat film ini menjadi luar biasa hingga masuk ke dalam 100 Greatest American Films of All Time di tahun 2007, berada di peringkat 3 di bawah Citizen Kane (1941) dan The Godfather (1972).

Casablanca Rick And Sam
 “Of all the gin joints in all towns in all the world, she walks into mine.”

Film yang tadinya berjudul Everybody Comes to Rick’s ini pada tahun 1944 memenangkan 3 Piala Oscar di kategori Best Picture, Best Director dan Best Screenplay. Selain itu film ini dinominasikan di lima nominasi lainnya. Padahal aktor-aktor di dalamnya seperti Humprey Bogart (Rick) dan Ingrid Bergman (Ilsa) sempat meragukan kalau film ini akan mencapai kesuksesan nantinya. Ironisnya film ini malah menjadi film terbaik yang pernah mereka bintangi.

Apa yang membuat film ini terus bertahan meskipun puluhan tahun sudah dilalui? Tidak banyak film yang mampu bertahan melewati waktu seperti apa yang Casablanca (1942) lakukan. Menurut saya pribadi, Casablanca hingga saat ini masih sangat layak untuk dinikmati, bahkan seharusnya ada di daftar wajib tonton Anda. Banyak hal yang membuat film ini menjadi sebuah karya luar biasa. Para pemeran film (Humprey Bogart, Ingrid Bergman, dan Paul Henreid) merupakan bintang-bintang terbaik pada masanya. Tak hanya itu, jajaran pemeran pembantunya pun diisi nama-nama seperti Peter Lorre, Sydney Greenstreet, Claude Rains, Dooley Wilson dan lainnya. Tidak ada peran kecil di dalam film ini. Setiap aktor bermain dengan optimal pada porsinya tersendiri.

Humphrey Bogart (1899 – 1957) and Ingrid Bergman (1915 – 1982) star in the Warner Brothers film ‘Casablanca’, 1942. (Photo by Popperfoto/Getty Images)

Senjata utama di film ini mungkin dari kekuatan naskahnya. Penulisannya terasa cerdas. Ceritanya padat juga begitu memorable, terbukti dari banyaknya kutipan yang masuk ke daftar AFI’s 100 Years 100 Movie Quotes. Terhitung dari 100 kutipan, 6 diantaranya berasal dari film ini.

Kisah cinta Rick yang tragis dan kekacauan semasa perang tak membuat film ini menjadi kelam. Sebagai film drama romansa di masa perang bisa dibilang Casablanca dikemas dengan cukup jenaka. Tidak jarang kita disuguhi adegan-adegan yang mengundang tawa, khususnya dari tokoh Captain Louis yang diperankan oleh Claude Rains. Claude Rains berhasil mencuri perhatian dengan aktingnya sebagai Captain Louis yang penuh intrik.

Dibuat di awal masa Perang Dunia 2, tentu saja Casablanca syarat akan muatan propaganda. Rick dapat diibaratkan dengan posisi Amerika sebelum terjadinya Penyerangan Pearl Harbor. Ia pada awalnya memilih untuk netral dan tidak condong ke salah satu pihak, namun pada akhirnya ia harus memutuskan kepada siapa ia memberi dukungannya.

“Welcome back to the fight. This time I know our side will win.”

Jika melihat lebih teliti banyak hal-hal yang dapat kita cermati dari film ini. Salah satu hal yang unik adalah orang-orang yang “mengerjakan” film ini mayoritas berasal dari luar Amerika. Hanya ada 3 orang kelahiran Amerika yang berada di jajaran credited cast. Bahkan beberapa kru dan aktor yang bermain di sana merupakan imigran yang lari dari peperangan. Salah satu contohnya adalah Conrad Veidt, pemeran Major Strasser. Pada film ini ia menjadi seorang Mayor Nazi, padahal pada kenyataannya ia adalah seorang yang anti-nazi. Kedekatannya pada kaum yahudi membuat ia harus melarikan diri setelah mengetahui ia ada di daftar incaran tentara SS.

Bukan tanpa cacat, jika perlu mendebat mungkin ada beberapa hal yang bisa kita permasalahkan seperti alasan mengapa Rick begitu membenci “As Time Goes By” juga bagian ending yang terasa agak memaksakan agar melancarkan segala yang Rick rencanakan. Namun pada akhirnya kita harus mengakui kalau Casablanca sebagai film tak hanya menghibur penontonnya, tapi juga banyak hal yang bisa diambil dan dibahas dari film ini. Wajib tonton!

Score 9/10

BACA JUGA : Movie Review: Asih (2018)

Share This:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.