Mak Idah, Pelarian Termegah di Jayagiri

Tujuan dari sebuah perjalanan tak melulu sebuah tempat. Perjalanan terkadang bertujuan untuk mempertemukan. Layaknya sebuah perjalanan di sekitar tahun 2015 ke Jayagiri yang membawaku pada satu sosok yang luar biasa, Mak Idah namanya.

Sebelumnya tak pernah ada keinginan sama sekali untuk mendaki Jayagiri. Apalagi ketika itu jiwa mudaku masih berapi-api untuk mengejar ketinggian. Puncak Jayagiri yang “hanya” di ketinggian sekitar 1.660mdpl, membuatnya tak pernah masuk ke dalam daftar.

Semua berawal dari niatku dan teman-teman untuk melakukan pelarian sejenak dari rutinitas perkuliahan. Kebetulan karena hampir semua menyukai aktifitas outdoor, kami pun memutuskan untuk camping di alam. Alternatif lokasi seperti Cikole dan Rancaupas pun bermunculan. Sampai salah satu dari kami merekomendasikan suatu tempat.

“Nanti di atas ada warung, yang jaga namanya Mak Idah. Pokoknya maraneh harus ketemu!” Kata Alan mencoba meyakinkan teman-teman lainnya.

Tempat yang dimaksud adalah Jayagiri. Alan sudah sering bolak balik ke sana, tepatnya sejak tahun 2008-an ketika mengikuti LDK dari sekolahnya. Aku sih percaya saja dengan pilihannya, apalagi perkumpulan temanku yang ini memang tak pernah punya track record yang mengecewakan dalam urusan rekomendasi pernongkrongan. Lagipula bagiku perjalanan kali itu bukan tentang “kemana” tapi tentang “dengan siapa”.

Perjalanan menuju Warung Mak Idah sebenarnya tak begitu jauh. Jaraknya sekitar 2.3 km dari Gerbang Masuk Wana Wisata Jayagiri dengan waktu tempuh kurang lebih sekitar 45 menit. Titik awal pendakian ada di ketinggian 1.323 mdpl dengan elevasi sekitar 350 meter ke tempat tujuan. Sepanjang perjalanan kami melewati hutan yang ditumbuhi oleh pepohonan pinus yang lantai hutannya dimanfaatkan dengan ditanami kopi.

Di Rute ini kita akan menemui sebuah persimpangan. Persimpangan ini sering dilewati oleh kendaraan-kendaraan off-road dari Sukawana yang bertujuan ke Cikole atau menuju Tangkuban Parahu. Lokasi Warung Mak Idah letaknya tak jauh dari persimpangan tersebut. Jika perjalanan dilanjutkan melalui jalur yang ada, kita juga bisa mencapai Puncak Gunung Tangkuban Parahu (2.084 mdpl).

Mak Idah

Mak Idah Jayagiri

Nama Mak Idah sebenarnya sudah tak asing lagi di telinga orang-orang yang pernah mendaki Tangkuban  Parahu lewat Jayagiri, karena Warung Mak Idah ini sering dijadikan checkpoint para pendaki, letaknya juga tidak jauh dari tempat orang orang biasa berkemah. Emak juga pernah cerita bahwa ia kenal dan dulu sering didatangi para legenda pencinta alam seperti Abah Bongkeng atau Abah Iwan Abdurrahman.

Dulu Emak tinggal bersama suaminya, Abah. namun semenjak Abah meninggal, Mak Idah hidup di sini sendirian. Hari-harinya hanya ditemani suara dari radio tua. Membayangkannya saja sepinya sudah terasa, tapi emak tidak pernah bilang ia kesepian. Katanya ada Siti yang menemani, Tikus kecil yang tinggal di warung emak.

*Siti : Si Tikus

Mak Idah Jayagiri
Warung Emak Idah

Emak bertahan hidup dengan berjualan minuman dan makanan ringan di warung kecilnya. Ia membeli barang dagangannya dari Pasar Lembang. Ia harus berjalan turun-naik gunung setiap kali berbelanja. Mungkin itulah yang membuat emak masih punya badan yang kuat dan sehat, bahkan nampaknya jika diadu lari di Jayagiri melawan emak, kami yang kalah.

Tidak ada yang tahu pasti berapa umur Emak. Kalau ditanya tentang umur, Emak pasti menyuruh kita untuk menghitungnya sendiri. Emak hanya memberi clue dari peristiwa-peristiwa sejarah yang ia lewati. 80? 90? 100? Entahlah. Ingin rasanya kulihat KTPnya langsung saja. Sampai sekarang umur emak masih misteri buatku.

Yang paling kami tunggu dari plesiran ke Mak Idah adalah saat-saat ketika ngaliwet bersama Emak. Biasanya bahan-bahannya sudah kami siapkan dari rumah. Tak perlu bermewah-mewahan, asalkan ada asin dan sambal dadak semua pasti sempurna. Bumbu rahasia dari liwetan emak tidak terdapat pada resepnya, tapi ketika prosesi santapnya. Sewaktu makan, Emak suka sekali bermain tatarucingan. Pertanyaan unggulannya adalah “Buahna dua, batangna hiji… naon sok?”. Otomatis kami yang sudah tau jawaban langsung tertawa-tawa. Itulah bumbu rahasia Emak, segala sesuatu yang dinikmati saat kita bahagia akan terasa lebih enak kan?

*tatarucingan = Tebak-tebakan

Dan sejak waktu itu, hingga sekarang, sampai nanti, Mak Idah lah pelarian termegah kami.

Mak Idah Jayagiri Lembang
Mak Idah, Pelarian Termegah

Semoga sehat selalu Mak Idah…

BACA JUGA : Dari Pesisir Selatan Menuju Desa yang Tenggelam di Jatigede

Share This:

2 Replies to “Mak Idah, Pelarian Termegah di Jayagiri”

  1. Good story kang, jangan lupa juga main ke coretan tentang sukabumi, siapa tau aja main kesini nanti yeheeh
    bubuh.id
    .
    .

    1. adiraoktaroza says: Reply

      Siap kang, kalau ku datang ke Sukabumi nanti boleh dong minta dikawal… hahaha

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.