Ramayana, Perjalanan Cinta Sejati Rahwana

Wayang Ramayana

Dalam menyikapi sebuah cerita, seringkali kita terlalu cepat memihak. Sudut pandang yang terbatas membuat dunia yang begitu luas seakan hanya terbagi pada dua sisi, utara dan selatan, hitam dan putih, atau baik dan buruk. Hal tersebut juga kita lakukan pula dalam menyikapi kisah Ramayana, kisah yang di dalamnya menceritakan tentang cinta segitiga antara Rama, Sinta dan Rahwana.

Sepertinya sudah menjadi kesepakatan bersama untuk melabeli Rama sebagai pahlawan dan Rahwana sebagai penjahat (kecuali di Sri Langka). Namun jika kita melihatnya dari sudut pandang cinta, hal tersebut masih bisa kita perdebatkan lagi.

Wayang Rahwana
Rahwana (Sumber : Wayang.fandom)

Rahwana adalah Raja Alengkadireja, ia dikenal sebagai Raksasa penguasa kegelapan. Nama lainnya adalah Dasamuka, Dasagriva dan Dasakanta karena ia memiliki sepuluh muka, sepuluh leher dan sepuluh kerongkongan. Ia juga memiliki dua puluh tangan yang menunjukan kesombongan dan kemauan yang tak terbatas. Semua hal buruk selalu dikaitkan padanya. Namun nyatanya ia tak sepenuhnya hitam. Pada dasarnya ia seperti manusia biasa yang punya dua sisi, baik dan buruk.

Sebagai pemimpin Alengka, Rahwana bukanlah pemimpin yang bengis atau dzalim. Malahan ia dipandang sebagai pemimpin yang sukses dan murah hati. Di bawah kepemimpinannya, Alengka berkembang menjadi negeri yang makmur, bahkan konon rumah yang paling miskin di sana memiliki kendaraan dari emas dan tidak pernah ada kelaparan yang melanda kerajaan tersebut.

Dalam percintaan pun, Rahwana terkenal dengan kesetiaannya. Selama hidupnya ia hanya mencintai satu wanita, Dewi Widowati namanya. Ketika sang Dewi meninggal, perasaannya tetap ia jaga seutuhnya. Sosok Dewi Widowati pun menitis pada Dewi Sinta. Sayangnya ketika waktu mempertemukan Rahwana dengan Sinta, Sinta sudah diperistri Rama, Raja Ayodya. Ketika itu Rama menikahi Shinta karena berhasil memenangi sebuah sayembara memanah di Kerajaan Mantili. Sesungguhnya langit menciptakan Sinta untuk Rahwana dan Rahwana untuk Sinta. Namun realita yang ada di dunia, tak sesederhana itu.

Tuhan, jika cintaku terhadap Sinta terlarang, mengapa kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku.

Rahwana

Saat mengetahui cinta sejatinya telah jadi istri orang lain, Rahwana berang. Ia hanya punya dua pilihan. merelakannya atau mempertaruhkan segalanya untuk merebut Sinta dari Rama. Ia pun memutuskan untuk memilih pilihan kedua. Ia menculik Sinta dan dibawanya ke Alengka.

Wayang Dewi Shinta
Dewi Shinta (Sumber : Wayangku)

Di Alengka, Rahwana menempatkan Sinta di Taman Argasoka, taman ini konon merupakan replika keindahan surga yang ada di kahyangan. Shinta yang statusnya sebagai tawanan diperlakukan dengan sangat baik. Shinta begitu dimuliakan, tak dijamah sedikitpun apalagi disakiti. Setiap hari, selama bertahun-tahun Rahwana datang untuk menyatakan cinta pada Shinta secara sopan dan penuh kasih, setiap hari pula ia merasakan hancurnya hati ketika mendengar penolakan Shinta.

Bagi Rahwana hidup adalah penantian. Ia terus menanti hingga sang pujaan bisa mencintainya dengan sepenuh hati. Walaupun selalu mendapatkan penolakan, sikapnya tak pernah berubah. Ia mencintai Sinta dengan setulus hatinya. Merasakan ketulusan Rahwana, hati Sinta pun mulai goyah. Meskipun Sinta selalu menolak permintaan Rahwana, diam-diam ia juga mulai mengaguminya.

Andai saja Rahwana waktu itu ikut sayembara, sudah pasti dengan kesaktian yang ia punya, ia akan memenangkannya dan dapat memperistri Sinta. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Rahwana harus menerima kenyataan bahwa ia kalah cepat daripada Rama. Fakta-fakta yang mendukung bahwa Sinta tercipta untuk Rahwana, sekejap langsung terbantahkan dengan status yang sudah mengikat Sinta. Tidak ada yang salah dengan Rahwana yang memperjuangkan haknya, tapi menculik istri orang jelas sudah melanggar hukum pidana.

Menuju penghujung cerita, Shinta benar-benar goyah. Mungkin karena ketulusan cinta Rahwana yang terus menggerus keteguhan hatinya juga ditambah kekecewaannya pada Rama yang bertahun-tahun tak kunjung datang menyelamatkannya. Ketika Shinta mengharap kehadiran Rama, Rama enggan menginjakan kakinya di Alengka. Ia malah mengutus Anoman untuk menjemput Shinta. Shinta bisa saja pergi ketika itu, namun Shinta tak mau pulang jika bukan Rama yang menjemputnya.

Pada akhirnya memang Rahwana harus takluk di tangan Rama di pertempuran yang diwarnai dengan bantuan dari pasukan kera Anoman dan pengkhianatan adik kandung Rahwana, Gunawan Wibisana, tapi cerita tidak seketika berakhir bahagia. Saat Shinta kembali ke pelukan Rama, Bukannya disambut dengan penuh cinta, Rama malah meragukan kesucian Shinta. Ia curiga, jangan-jangan Shinta sudah dinodai Rahwana.

Sudah menjelaskan sekeras apapun, Rama tak juga mempercayai Shinta. Demi mendapat kepercayaan Rama kembali, Shinta pun melakukan mesatya, sebuah upacara untuk membuktikan kesuciannya. Ia menceburkan dirinya ke bara api. Jika ia masih suci, maka api takkan membakarnya. Ketika ia menceburkan diri, ia tak terbakar api sama sekali. Setelah pembuktian itu, barulah Rama mau menerimanya kembali.

Mungkin jika masih ada di sana, Rahwana akan dihantui dengan penyesalan dan banyak pertanyaan. Bagaimana bisa Shinta lebih memilih pria yang tidak bisa mempercayai Shinta seutuhnya dibandingkan dirinya yang mencintainya secara tulus dan apa adanya? Padahal dasar dari sebuah hubungan adalah rasa saling percaya.

Wayang Rama
Rama (Sumber : Wayangku)

Setelah dari titik ini, akan ada dua versi cerita. Pertama, Rama dan Sinta berakhir dengan bahagia. Kedua, bahagia itu hadir sementara. Versi kedua ini membuat kisah Ramayana ini menjadi kisah cinta yang tragis.

Setelah Rama berhasil mendapatkan kembali Sinta, Rama diminta untuk menjadi Raja di Alengka. Namun ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan hal itu. Lalu, pihak-pihak tersebut mulai menyebarkan fitnah di Alengka. Isu lama tersebar kembali, Isu tentang Shinta yang sudah tidak suci lagi, ia telah dinodai Rahwana. Desas-desus yang beredar itu membuat Rama sangat terganggu dan Rama pun melakukan kesalahan yang sama yang pernah ia lakukan sebelumya. Ia tidak mempercayai Shinta.

Kali ini Rama memerintahkan adiknya, Leksmana agar membuang Shinta ke hutan di tepian sungai Gangga. Shinta yang telah menjaga kesetiaannya selama bertahun-tahun di Argasoka akhirnya ditinggal seorang sendiri di dalam hutan, padahal ketika itu ia sedang mengandung anak dari Rama. Hingga akhirnya Shinta pun kembali membuktikan kesucian cintanya di depan Rama, kali ini bukan api, untuk membuktikan cintanya ia memilih ditelan pertiwi.

Dari ribuan versi Ramayana yang beredar di dunia mungkin mudah saja menemukan versi-versi yang berakhir bahagia bagi Rama dan Sinta, tapi tidak pernah bagi Rahwana. Ia tak pernah benar-benar mendapatkan cinta sejatinya.

Namun dibalik itu semua, perlu kita sadari pula jika akhir bahagia di sebuah cerita mungkin hanyalah persepsi dari para penikmatnya. Kenyataannya mungkin saja akhir bahagia yang hakiki itu ternyata milik Rahwana. Ia berbahagia karena bisa memperjuangkan apa yang Ia cintai dengan sungguh-sungguh sampai ke akhir hayatnya, hal yang tidak semua orang bisa capai di dunia ini. Siapa yang tahu?

Ditemani alunan saxophone dan “The One You Love“-nya Glenn Frey, Dalam sepi, Rahwana menari.

Are you gonna stay with the one who loves you
Or are you going back to the one you love
Someone’s gonna cry when they know they’ve lost you
Someone’s gonna thank the stars above

BACA JUGA : 25, Quarter Life Crisis

Share This:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.