Surat untuk Kucingku yang Bermata Hijau, Cimot

Kucing Cat Cimot

Tau gak kamu, dulu aku sama Mbak ku hampir namain kamu si Oncom, habisnya warnamu waktu masih kecil gak jelas. Warnamu Item, Oren, Putih, punya corak loreng tapi pudar. Aneh pokoknya. Untung Mama menyelamatkan kamu, kamu jadinya dinamain Cimot. Pas ditanya ke Mama, Kenapa namamu gitu. Mama jawab “Enak aja manggilnya, Cimot”.

Kamu emang anak dari hubungan gelap. Ibumu, Chiko kawin lari sama kucing oren yang rajin ngapel ke rumah. Meski selalu kami haling-halangi, Ibumu melakukan apapun demi cinta. Chiko menjelma jadi ninja, loncat-loncat ke atap rumah demi ketemu si oren yang gak jelas bibit, bebet, bobotnya itu. Alhasil dari hubungan gelap yang tak direstui itu lahirlah kamu. Meskipun kamu lahir tanpa bapak, kami gak pernah bilang kamu itu anak haram. Gak ada pilih kasih, apalagi diskriminasi. Kami semua tetap sayang sama kamu.

Ku inget waktu kamu masih kecil. Kecilnya gak sekecil botol yakult sih. Tapi dulu setengah tubuh kamu muat di telapak tanganku. Di atas situ kamu bobo. Nyenyak dan damai lihatnya.

Kucing Cat Cimot
So Smol

Kamu itu anak kesayangan ibumu. Anak pertama dan satu-satunya di batch itu. Sebenernya sebelumnya Chiko pernah hamil juga, lagi-lagi entah dengan pejantan yang mana. Tapi waktu itu Chiko keguguran. Mungkin aja karena itu kamu disayang banget. Ibumu bangga banget sama kamu. Sampai-sampai kalau keluarga sedang ngumpul, ibumu bawa-bawa kamu yang waktu itu belum bisa melek ke tengah-tengah perkumpulan. Terus layaknya nasi tumpeng, ditengah-tengah ibumu nyusuin kamu. Pamer.

Kamu kucing yang gak banyak omong. Kamu bunyi cuma kalau liat cicak, bunyimu pun “ckckckck”, gak “meong” atau “engaaaang” kayak bunyi ibumu. Aku punya dua hipotesis. Pertama, kamu terlahir gagu. Kedua, kamu kucing yang ngerti bahasa cicak. Untungnya di bulan-bulan berikutnya bunyimu keluar juga, ternyata bunyimu “engaaaang ” kayak ibumu. Agak telat emang, tapi setelah beberapa lama ku sadar kalau kamu gak banyak ngomong itu karena kamu kucing yang introvert.

Ku tebak kamu introvert dari gerak-gerikmu. Kalau ada tamu atau orang baru ke rumah, kamu lebih milih menghilang atau nangkring di tempat persembunyianmu. Untuk deket sama kamu perlu perjuangan, PDKTnya gak cukup sekali dua kali. Kalau yang gak tahan pasti bilangnya kamu sombong, padahal pada dasarnya kamu emang bukan kucing yang manjaan. Jarang-jarang kamu mau naik ke pangkuan terus minta dielus-elus.

Meski introvert, kamu masih suka ngumpul bareng keluarga. Kalau kami ngumpul pasti kamu ikutan nimbrung. Kamu stand by di sudut favoritmu sambil sesekali memperhatikan wajah kami satu per satu.

Kucing Cat Cimot
Nangkring

Kita ini sama mot, sama-sama introvert, sama-sama suka menyendiri, sama-sama gak banyak omong. Dalam lingkaran kecil para introvert ini aku dan kamu berbagi ruang. Meski kita sama-sama diam, hadirmu lebih dari cukup untuk meramaikan hari-hariku. Aku boleh sedikit berbangga. Dari segelintir manusia di rumah, mungkin aku adalah manusia favoritmu. Bisa apet dengan kucing seindipenden kamu itu adalah suatu prestasi buatku.

Cat Cimot Kucing
Foto Terakhir

Ku gak nyangka foto ini jadi foto terakhir kita. Waktu itu tiba-tiba kamu naik ke pangkuanku, gak biasanya. Ku pikir itu karena firasatmu yang tau kalau aku bakalan pergi jauh, ternyata kamu yang pergi jauh. Aku kesel. Kamu licik, sekalinya pergi jauh, gak balik lagi. Tapi kamu pintar ambil momen, kamu pergi waktu aku jauh. Waktu itu hari ke-7 aku keliaran riding di luar rumah. Tepatnya aku lagi di Semarang. Pagi-pagi lewat telepon ku dikabari. Papa bilang kamu udah gak ada, mati, kaku, tak bernyawa. Awalnya ku harap itu bercandaan biar aku cepet pulang. Tapi harapku hancur pas dikirimi foto. Kamu beneran udah gak ada.

Tadinya aku tidak merencanakan pulang. Aku ingin keliaran selama mungkin. Tapi sejak dapet berita kepergianmu, perasaanku jadi gak enak. Semangat melanjutkan perjalanan pun turun drastis. Pengen langsung sampai di rumah rasanya. Meskipun aku sudah jelas tau, tanpa kamu di rumah, semua gak lagi sama.

Gak ada lagi yang menyambutku ketika sampai di rumah.

Gak ada lagi yang merhatiin waktu ku sibuk kerja di meja belajar.

Gak ada lagi yang ngerengek buat dimasukin ke dalem rumah.

Gak ada lagi yang ikut-ikutan bobo di kasur.

Tapi sampai ku menulis ini, ku masih merasakan kamu hadir di kamarku, keliling-keliling, endus-endus sepatu, terus naik ke kasur, ikut bobo. Nanti kalau ekspresinya udah keliatan agak tentram, aku gangguin. Terus kamu jadi kesel, kamu kabur ke ruang tamu, pindah bobo. Tapi sekarang kamu pindahnya gak ke ruang tamu. Ku gak tau ke mana harus nyari kamu.

Dimanapun kamu sekarang, semoga kamu tau, kalau kami semua sayang kamu. Dadah Cimot.

Share This:

3 Replies to “Surat untuk Kucingku yang Bermata Hijau, Cimot”

  1. Demi apa sihhhh cimot udah meninggal? :(( so sad bacanya

    1. iya, dia pergi pas aku lagi jauh… 🙁

  2. Hai mas Adira, awal baca, aku senyum2 , bahkan sampe ngakak pas baca Chiko yg kawin lari Ama pejanteng ga jelas bibit bebet bobot :p.

    Tapi pas baca comot yg hrs mati, sumpah sediiih banget :(. Sebagai sesama penyayang kucing, aku tau bgt rasanya kalo kehilangan anabul kesayangan :(.

    Ikut sedih ya mas… Cimot pasti udah bahagia skr.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.