Movie Review : Pengabdi Setan 2 Communion (2022)

Mungkin Horror bukanlah genre film favorit saya, tapi Pengabdi Setan 2 Communion merupakan salah satu film karya Joko Anwar yang saya nanti-nantikan. Setelah penantian 5 tahun dari edisi pertamanya, akhirnya Pengabdi Setan 2 dirilis juga. Tak seperti edisi pertamanya yang masih memiliki pengaruh dari Pengabdi Setan (1980) versi Sisworo Gautama Putra, Pengabdi Setan 2 membawakan ceritanya sendiri.

Dibuka dengan sebuah kejadian misterius yang terjadi di Bandung pada 17 April 1955, beberapa hari sebelum diadakannya Konferensi Asia Afrika. Kejadian misterius itu terpaksa dirahasiakan karena takut menimbulkan kegaduhan. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui rahasia tersebut, salah satunya seorang wartawan bernama Budiman Syailendra (Egi Fedly). Oleh kawan polisinya, Ia diminta tetap memberitakan kasus itu meskipun tidak melalui surat kabar. Meskipun terdengar seperti omong kosong, harapannya tetap ada yang membaca dan mempercayainya.

“No Pic, Hoax!”

Berselang hampir tiga dekade, pasca kejadian yang dialami di Pengabdi Setan (2017) Rini (Tara Basro), Bapak (Bront Palarae) beserta kedua adiknya (Endy Arfian & Nasar Annuz) tinggal di sebuah rumah susun di Jakarta Utara. Kehidupan di Rumah Susun itu begitu memprihatinkan. Bangunannya Rusun dibangun seadanya. Liftnya pun seringkali macet sehingga membuat penghuninya harus menuruni tangga.

Berharap hidupnya dapat berubah, Rini memutuskan untuk kembali berkuliah setelah mendapatkan beasiswa. Sayangnya tepat di hari seharusnya ia berangkat, terjadi kecelakaan naas di Rumah Susun tersebut yang membuat Rini tidak jadi berangkat. Rentetan peristiwa yang terjadi setelahnya di rumah susun itu menjadi terror dan teka-teki yang harus mereka jawab.

Berlatar di sebuah bangunan rumah susun membuat kita akan teringat pada film aksi The Raid. Film yang melambungkan nama Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhiyan dan kawan-kawan itu berhasil menghadirkan ketegangan di tiap lantainya. Di Pengabdi Setan 2 pun serupa. Meski tak berurutan seperti di The Raid, ketegangan itu hadir. Terlebih ketika tiap tokoh harus menyisir satu persatu ruangan. Tak hanya mengigatkan pada The Raid (2011), kejadian yang menimpa penghuni rumah susun juga akan mengingatkan kita pada Final Destination (2000).

“Menonton Pengabdi Setan 2 rasanya seperti menonton versi horror dari The Raid (2011) yang dikawinkan dengan Final Destination (2000).”

Mungkin jika kita menontonnya dengan ekspektasi awal yang tinggi, kita akan kecewa dengan Pengabdi Setan 2, tapi bukan berarti film ini merupakan film yang buruk. Secara teknis bisa dibilang hampir tidak ada masalah yang berarti. Hanya saja titik terlemah (dan terkuat)-nya ada pada ceritanya.

(Warning Spoiler!) Dari sisi cerita, Pengabdi Setan 2 rasanya terlalu terburu-buru. Keterburu-buruan itu memaksa penonton untuk ikut “cara pikir” film ini. Bagian yang paling mengganggu adalah bagian ketika Bondi (Nasar Annuz) tiba-tiba membuka paksa sebuah kamar di Rumah Pak RT. Adegan itu menjadi awal dari dikuaknya rahasia yang ada di Rumah Susun tersebut. Meski dari awal cerita sosok Bondi digambarkan sebagai anak yang punya rasa ingin tahu yang besar, rasanya hal itu belum cukup untuk dijadikan pembenaran motif ia mencongkel pintu kamar orang lain.

“Ora usah dipikir jero-jero.”

Hal yang menjadi nilai lebih dari cerita Pengabdi Setan 2 adalah kemampuannya untuk didiskusikan. Banyak yang berteori dan membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya. Berbanding terbalik dengan beberapa bagian yang terasa dipaksakan, beberapa bagian sisanya terasa direncanakan dengan matang. Detail-detail dari film ini menarik untuk diperbincangkan dan membuat film ini tak cukup ditonton hanya sekali.

Kehadiran aktor-aktor muda di Pengabdi Setan 2 juga perlu diapresiasi. Penampilan Nasar Annuz, Endy Arfian, Muzakki Ramdhan dan M. Adhiyat berhasil mencuri perhatian. Begitu pun penampilan Ratu Felisha dan Jourdy Pranata sebagai Tari dan Dino. Sayangnya kehadiran mereka kurang dimaksimalkan lewat ceritanya. Cerita Tari terasa kurang menyatu dengan cerita utamanya dan terkesan direkatkan seadanya, sedangkan Dino sama sekali tak membuat penonton simpati dengan kehadirannya.

Sebagai film horror Pengabdi Setan 2 tak hanya mampu memberikan teror buat penontonnya, tapi juga masih sempat-sempatnya memasukan sedikit kritik sosial dan unsur komedi di dalam dialognya, dengan porsi yang tidak berlebihan tentunya.

Menonton Pengabdi Setan 2 layaknya sedang menyaksikan parade jumpscare. Bahkan teror bisa dihadirkan tanpa memunculkan sosok penampakan dalam adegan. Teror yang diberikan terus sambung-menyambung sepanjang film tak memberikan waktu yang cukup buat penonton menghela nafas panjang.

Meski terasa ada Pengulangan adegan yang ada di Pengabdi Setan (2017) dan terasa Anti Klimaks di penghujung cerita, film ini sangat layak untuk ditonton. Memang jika dipikirkan terlalu dalam, di beberapa bagian cerita ada yang cukup mengganggu logika penontonnya tapi bagian sisanya didesain begitu apik sehingga berhasil memunculkan perbincangan seru sesudahnhya. Mungkin cara terbaik untuk menikmati Pengabdi Setan 2 : Communion adalah dengan cara Nikmati Dulu, Pikir Kemudian.

 “Nikmati dulu, pikir kemudian.”

Score 7/10

BACA JUGA : Movie Review – Pengabdi Setan (2017)

Share This:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.